Persentasi Browser dan OS di situs Ini
Berikut adalah hasil iseng-iseng mengukur statistik browser dan OS di situs ini menggunakan Google Analytics. Kabar baik buat penggemar Firefox, ternyata browser ini adalah browser favorit pengakses situs ini. ![]()
Klik untuk memperbesar gambar


Kaskus akhirnya menutup BB17
Kaskus, Salah satu forum yang paling terkenal di Indonesia akhirnya menutup sub forum Dewasa BB17. Keliatannya pemberitaan di Pos Kota cukup mempengaruhi mereka untuk segera menutup BB17. Berbagai komentar baik mendukung maupun menyayangkan penutup sub forum tersebut. Namun saya kira sebaiknya memang ditutup saja sub forum tersebut, jangan sampai komunitas kaskus yang positif malah merugi karena cap situs porno yang melekat ke kaskus.
Beginning of a healtier cyberlife I guess?
OpenDNS bukan cuma memfilter Pornografi
UPDATE: Untuk rekan rekan yang membutuhkan filter pornografi, judi, malware, phising sebaiknya memanfaatkan Nawala Project, sebab server-servernya berada di Indonesia dan di Optimalkan untuk Jaringan Internet Indonesia. Silahkan mengganti setting DNS rekan rekan sekalian ke:
- 180.131.144.144
- 180.131.145.145
==========================
OpenDNS bisa dimanfaatkan lebih jauh dari sekedar menyaring konten pornografi. Sebelumnya pastikan anda telah melakukan registrasi untuk dapat memanfaatkan layanan yang disesuaikan dengan keinginan anda.
Untuk memudahkan proses saringan, maka OpenDNS memberikan beberapa kategori untuk di saring yang dapat dilihat dari screen shot di bawah ini:
Memudahkan bukan? Screenshot di atas adalah saringan yang saya aktifkan di kantor. Toh Kantor tidak perlu akses ke P2P Sharing dan Dating ![]()
Thin Client vs Fat Client
Definisi mengenai thin client dapat dibaca di sini dan fat client di sini. Thin Client juga dikenal dengan istilah: diskless pc/workstation, dumb terminal, etc.
Sebelum anda lanjutkan membaca artikel ini ada satu hal yang perlu diperhatikan: Jika anda ingin warnet anda memberikan layanan multimedia dan game, lupakan solusi thin client. Thin Client tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan multimedia dan game. Thin Client dirancang untuk efisiensi dan pemanfaatan penuh kemampuan komputasi dari komputer server yang saat ini kekuatannya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan komputasi normal dan di sisi lain menurunkan biaya pemakaian, perawatan dan investasi perangkat secara keseluruhan dibanding solusi fat client. lebih lengkapnya silahkan baca di sini.
Setelah melihat sisi rancangan dan tujuan dari thin client network, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa Thin Client cocok untuk sebuah sistem yang beban utamanya adalah aplikasi: Browser Internet, Messaging, Office dan image processing skala kecil. Jika warnet anda kebutuhan utama dari sebagian besar pelanggannya adalah aplikasi di atas maka thin client adalah solusinya. Jika kebutuhan pelanggan warnet anda adalah multimedia dan game maka sebaiknya gunakan Fat Client atau PC yang umum digunakan.
Operating System
Baik OS Linux maupun Windows bisa digunakan dalam sebuah jaringan thin client. Untuk Linux, LTSP ( Linux Terminal Server Project ) adalah solusi yang popular. LTSP memudahkan kita untuk membangun sebuah jaringan thin client dengan cepat dan teratur. Kelebihan dari Jaringan Thin Client berbasis Linux adalah: anda tidak perlu pusing dengan masalah lisensi dan bisa berkonsentrasi pada unjuk kerja sistem yang anda bangun. Selain itu X-Window (server grafik yang digunakan di linux) memang dirancang dalam model client server sehingga memaksimalkan unjuk kerja dalam jaringan thin client.
Sebaliknya dengan OS Windows, Lisensi adalah hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama karena cukup njelimet namun OS ini memiliki keunggulan dari sisi familiar pada pengguna.
Pilihan terakhir tentu ada ditangan anda dengan mempertimbangkan segala sisi terutama dari sisi perawatan, investasi yang dibutuhkan dan unjuk kerja.
Biaya Investasi
Jika ingin biaya investasi rendah, thin client dapat dibangun dari sebuah PC bekas. Kekuatan CPU dari Thin Client tidak menjadi isu penting sebab sebagian besar proses akan dilakukan di server. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan PC untuk melakukan network booting. Saat ini PC rata-rata sudah memiliki port ethernet plus kemampuan network booting yang bisa diset via BIOS.
Bagi mereka yang tidak mau repot dapat membeli thin client yang sudah jadi dan tinggal digunakan. contohnya adalah Gigabyte TA7 dan Ncomputing tentu dengan biaya lebih tinggi daripada merakit atau membeli PC bekas.
Spesifikasi Server.
Seberapa kuat CPU dan besar Memori yang dibutuhkan oleh sebuah server jaringan thin client? Untuk CPU usahakan CPU terkuat yang mampu anda dapatkan. Semakin kuat CPU-nya semakin baik. Pengalaman saya menggunakan CPU AMD Athlon 1,2GHz memang cukup menopang hingga 8 thin client. Namun kebutuhan saat ini mungkin minimal sebuah Intel Dual Core.
Untuk memori gunakan hitungan sederhana berikut:
(256 MB + 10 MB + 1 MB) x n client *)
(* perhitungan ini disadur dari buku Linux Thin Client Networks, Design and Deployment, David Richard, Packt Publishing.
Sehingga untuk sebuah jaringan berisi 10 thin client, maka minimal memory server yang dibutuhkan adalah sebesar 2,6GB. Saat ini memory sebesar 4GB sudah menjadi hal yang jamak. Disini juga berlaku azas: semakin besar memory semakin baik ![]()
Penutup
Saya tidak menyajikan perhitungan detail dengan asumsi setiap orang akan memiliki pengalaman dan cara hitung berbeda. Namun secara umum, penghematan dari sisi investasi thin client minimal 20% dibawah investasi fat client dengan kelebihan pada sisi perawatan, keamanan dan biaya operasi. Thin Client berbasis windows tidak memberikan kelebihan dari sisi biaya lisensi, malah biaya lisensi yang dibutuhkan jauh lebih besar dibanding menggunakan fat client.
Analisa Model Pentarifan Warnet
Model pentarifan warnet sampai hari ini masih tidak berubah sejak pertama kali warnet muncul di Indonesia. Modelnya adalah tarif flat. Secara umum diinformasikan sebagai tarif per jam pemakaian. Kalaupun ada variasi diskon, biasanya diterapkan pada member ataupun jam-jam tertentu yang sepi pengunjung. Tulisan ini adalah ajakan kepada pelaku bisnis warnet agar lebih bisa memberdayakan model tarif sehingga dapat didapatkan keuntungan yang optimal tanpa mengurangi tingkat layanan.
Saya mencoba membandingkan model pentarifan warnet dengan dua buah industri yang hampir mirip dengan warnet, yaitu penerbangan dan perhotelan. Kedua industri tersebut bergantung kepada satu hal: okupansi. Okupansi inilah yang menentukan model pentarifan. Pada dunia penerbangan, kita sudah terbiasa dengan tiket murah yang terbatas sampai pada seat tertentu dan jika seat tersebut telah terisi maka tarif akan bergerak naik. Kita juga sudah terbiasa pada kenyataan bahwa dimusim-musim tertentu harga tiket akan mencapai tingkat premium karena terbatasnya kapasitas yang tersedia. Perhotelan pun melakuan hal yang sama. Mereka biasanya punya perhitungan bahwa sampai persen kapasitas tertentu maka sudah mencapai titik impas dan seterusnya adalah keuntungan.
Sekarang kita tinggal pilih, apakah setelah mencapai titik impas tersebut tarif diturunkan atau sebaliknya dinaikkan?
Pada warnet inilah yang kurang diperhitungkan. Seharusnya setiap warnet memiliki perhitungan jangka panjang dan jangka pendek. Perhitungan jangka panjang tentu mencakup target titik impas dalam perhitungan tahun atau bulan dan perhitungan jangka pendek adalah mencakup titik impas dalam harian. Perhitungan jangka panjang bisa membantu kita dalam menerapkan batasan pada perhitungan jangka pendek kita.
Bagi warnet yang sudah berjalan tahunan, tentu mereka telah memiliki data-data okupansi yang cukup untuk dijadikan studi. Trend pengunjung dapat dipelajari sehingga kita mengetahui bulan apa saja pengunjung penuh sampai antri dan bulan apa saja pengunjung sepi. Data bulanan ini kita perkecil lagi menjadi data harian. Sehingga kita bisa mengetahui pada tanggal-tanggal berapa saja warnet okupansinya tinggi dan hari apa saja okupansinya rendah. Data harian ini kita perkecil lagi menjadi data per-jam, sehingga kita mengetahui trend okupansi tersebut hingga ke jam per jam.
Bagaimana kita menghubungkan trend dari data-data tersebut di atas ke dalam pentarifan? Mudah saja. Dengan mengetahui trend, maka kita bisa mengatur tarif kita misalnya: pada saat trend naik (berdasarkan studi data) maka tarif diangkat sampai pada taraf premium dan pada saat trend turun, maka tarif bisa kita tarik turun sampai pada ambang titik impas. Tentu saja, anda bisa saja melakukan hal sebaliknya: Tarif turun pada saat ramai dan tarif naik pada saat sepi.
Dengan model pentarifan ini anda akan bisa memecah pelanggan anda menjadi dua macam: mereka yang sensitif harga dan yang tidak sensitif. Mereka yang sensitif kepada harga tentu akan memilih mengakses pada jam murah dan yang tidak sensitif akan memilih kapan saja mereka perlu akses tanpa memperhatikan tingkat tarif.
Keuntungan dari mengetahui tipe pelanggan akan membantu kita menerapkan tingkat layanan dari level normal hingga premium. Dan yang paling utama: kita memiliki model pentarifan yang terencana dan terstrategi dengan baik yang ujung-ujungnya memberikan layanan optimal kepada pelanggan dan keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan.
OS Wars: The Battle for Your Desktop
menuliskan sebuah feature yang menarik di PC Magazine mengenai perang OS di desktop. Untuk membacanya silahkan klik di sini. Hasil akhirnya silahkan lihat dibawah ![]()
Siklus Bisnis Warnet
Hampir setiap individu bisnis memahami bahwa ada siklus yang sama pada setiap jenis usaha sebagai berikut:
siklus 1: Masa lahir-siklus 2: Masa Tumbuh dan Berkembang-siklus 3: Masa Puncak dan menurun.
Begitu juga dengan Bisnis Warnet. Analisa saya, bisnis warnet saat ini sudah mencapai puncak dan pelaku bisnis harus bersiap menuju posisi menurun. Adapun perkembangan warnet saat ini harus disikapi dengan hati-hati, sebab ada perbedaan antara pertumbuhan bisnis dan pertumbuhan pelaku bisnis. yang saat ini tumbuh adalah (jumlah) pelaku bisnis, bisnisnya sendiri boleh dikatakan tidak tumbuh dan berkembang.
Bisa ditanyakan kepada pelaku bisnis dilapangan, berapa banyak dari mereka yang berhasil menambah jumlah warnet-nya? Sangat-sangat jarang terdengar, yang sering saya dapatkan adalah menurunnya jumlah warnet pelaku ataupun berhentinya seorang pelaku bisnis warnet dikarenakan habisnya masa kontrak tempat berusaha mereka.
Hal ini bisa dimaklumi jika melihat dari model bisnis warnet yang sejak akhir 90-an hingga saat ini yang tidak berubah: jasa jual kembali akses internet. Boleh dikatakan tidak ada inovasi yang berarti dari para pelaku bisnis warnet dalam memanfaatkan kelebihan mereka: internet + Komputer.
Ada 2 faktor utama munculnya bisnis warnet:
1. Mahalnya harga bandwidth
2. Mahalnya harga perangkat akses (PC)
Saat ini kedua faktor tersebut di atas mulai goyah. Dari hasil analisa pasar terlihat menurunnya omzet para pebisnis warnet hingga mencapai 20-30%. Akses Telkom Speedy yang murah adalah salah satu penyebab utama. Telkom speedy, selain memberikan harga yang terjangkau, juga menyebabkan tumbuhnya warnet-warnet seperti jamur dimusim hujan tanpa memperhitungkan pasar yang tersedia sehingga menyebabkan kelebihan suplai dan menyebabkan persaingan tinggi yang berujung kepada persaingan harga.
Harga perangkat PC memang masih (terhitung) mahal, namun perlu dicermati adalah: para pelanggan warnet adalah kalangan yang (mulai) mampu membeli perangkat pc/notebook. Fakta-fakta ini lah yang ikut menekan para pelaku bisnis warnet yang kadang masih tidak mau mengakui bahwa bisnis mereka berada pada titik menurun.
Sebagian dari warnet-warnet akhirnya mencoba bertahan hidup dengan beralih atau menyediakan konten game baik offline maupun online. Inipun menurut analisa saya bukanlah sebuah penyelesaian masalah, sebab game komputer baik offline maupun online umumnya menuntut spesifikasi komputer yang lebih tinggi dengan harga jual lebih rendah.
Siklus 3 dapat dicegah hanya dengan satu cara: Perubahan pada model Bisnis.
Perubahan pada model bisnis warnet adalah suatu yang harus dilakukan jika ingin bisnis ini tetap hidup. Bisnis Warnet harus beralih dari sekedar jasa jual kembali akses internet ke sebuah model bisnis baru yang memanfaatkan kekuatan jaringan internet dan infrastruktur komputasi yang telah dimiliki oleh warnet ditambah dengan kekuatan pada ruang warnet yang dapat diakses setiap saat oleh masyarakat.
Para pengusaha warnet mustinya bisa belajar bagaimana menggunakan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan tersebut secara bersama. Salah satu kelemahan terbesar dari pelaku bisnis warnet adalah sikap yang sangat individualistis, ingin menang sendiri dan kurangnya rasa kebersamaan ke sesama pelaku bisnis warnet. Padahal jika mereka menyisihkan waktu untuk selalu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan sesama pengusaha warnet bisa dipastikan kekuatan-kekuatan yang saya sebutkan di atas akan semakin mengkristal dan menjadi sebuah pendobrak bagi kelesuan bisnis warnet.
Mudah-mudahan kesadaran ini segera muncul dan kita akan melihat sebuah perubahan dalam model bisnis warnet dan siklus ke-3 bisa berbentuk seperti di bawah:
posting terkait: Prospek Bisnis Warnet
Memilih Windows (legal) untuk Warnet
Biasanya saya menulis tentang OS Linux ataupun aplikasi Bebas lainnya, namun berhubung seringnya datang pertanyaan mengenai OS Windows maka saya memutuskan untuk menuliskan juga apa yang saya tahu mengenai Windows.
Banyak jalan menuju ke Roma. Begitu juga agar warnet anda dapat menggunakan Windows secara legal ada beberapa jalan yang tersedia dan legal. Umumnya kita mengira bahwa jalan satu-satunya adalah dengan membeli lisensi maka selesailah sudah urusan legal-ilegal ini. Namun rupanya jika kita jeli, maka pilihan itu bisa bermacam-macam.
Yang pertama tentu saja membeli lisensi. Mudah? Ternyata tidak juga, karena harga OS Windows XP cukup mahal dan menguras kantong. Sebagai contoh: Windows XP Proffesional SP2 FPP paling tidak seharga US$290 per lisensi. Karena itulah XP Pro tidak disarankan untuk Warnet. Lebih baik Warnet memilih menggunakan Windows XP Home yang harga pasaran sekitar $80 (OEM).
Cara kedua adalah dengan membeli komputer yang pre-installed OS Windows. contoh nya di sini
kelebihannya adalah: keaslian Software terjamin dan harganya (paling) rendah dibandingkan membeli lisensi secara terpisah. Hal ini masuk akal sebab berkaitan dengan skala pemesanan sang vendor PC. Cuma kelemahannya adalah: cara ini hanya cocok buat warnet yang baru berdiri atau buat warnet yang ingin mengganti/memperbaharui PC-nya.
Cara ketiga adalah dengan membeli PC Second yang juga pre-installed Windows. Sebab windows versi OEM mengikut pada hardware. Cuma hati-hati, karena ada juga yang tidak asli alias COA yang tertempel adalah palsu. Seingat saya ada pernyataan resmi soal ini dari Microsoft namun saya tidak punya waktu untuk mencari (aka: malas) jadi silahkan dicari sendiri ya.
Kalo semua pilihan yang disarankan terasa mahal, ya memang begitulah kalau anda memilih menggunakan OS Windows. Tinggal berhitung saja untung rugi-nya.
Aplikasi Perkantoran untuk Warnet
Aplikasi perkantoran merupakan aplikasi yang penting di warnet setelah aplikasi internet. Namun tidak seperti aplikasi internet dimana software yang populer justru bebas di download dan digunakan (ex: Mozilla Firefox), aplikasi perkantoran yang populer saat ini adalah salah satu perangkat lunak yang terhitung mahal.
Aplikasi perkantoran yang sebenarnya tidaklah terbatas, namun tidak banyak yang mampu untuk berjalan di semua platform/OS atau minimal tersedia di dua platform populer di warnet: OS Windows dan OS GNU-Linux. Di bawah ini saya mencoba memberikan perbandingan terhadap 4 buah aplikasi perkantoran yang cocok untuk digunakan di warnet.
- Microsoft Office 2007 (Home and Student FPP)
- Perusahaan: Microsoft
- Harga:$157
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor ( Word )
- Lembar Kerja ( Excel )
- Presentasi ( Powerpoint )
- OS Compatibility: Win XP, Mac
- Nilai Plus:
- Popularitas
- Nilai Minus:
- Mahal
- Format document baru tidak kompatibel bahkan untuk sesama produk MS ( Office 2003, Office XP )
- Perlu MSRA
- User Interface baru membutuhkan waktu untuk dipelajari
- Butuh RAM yang besar (min. 512 MB) untuk performa yang bagus
- Open Office
- Perusahaan: Sun Microsystem
- Harga: $0 ( Download dari openoffice.org )
- Lisensi: LGPL
- Paket:
- Word Processor ( Writer )
- Lembar kerja ( Calc )
- Presentasi ( Impress )
- Grafis ( Draw )
- Database ( Base )
- OS Compatibility : Windows, Linux, Unix, Mac
- Nilai Plus:
- Murah dan mulai populer
- Multi OS
- Paket aplikasi lengkap
- Kemampuan membaca dokumen aplikasi lain
- Kemiripan User Interface dengan MS Office
- format dokumen ODF
- Stabilitas
- Nilai Minus:
- Familiarity butuh waktu.
- Butuh RAM yang cukup besar ( Min. 256 MB ) untuk performa yang bagus
- Loading aplikasi lama walaupun saat berjalan normal kembali.
- Lotus Symphony
- Perusahaan: IBM
- Harga: $0 ( Free Download di symphony.lotus.com)
- Lisensi: Eclipse Public License
- Paket:
- Word Processor (Lotus Symphony Document)
- Lembar Kerja (Lotus Symphony Spreadsheet)
- Presentasi (Lotus Symphony Presentation)
- OS Compatibility: Windows dan Linux
- Nilai Plus
- Murah dan di dukung salah satu perusahaan IT terbesar di dunia
- Tampilan menarik (buat mereka yang bosan tampilan itu itu juga)
- Berbasis Open Office, sehingga seluruh nilai Plus dan nilai Minus Open Office juga berada pada Lotus Symphony.
- ThinkFree
- Perusahaan: Haansoft
- Harga: $50 ( Client Desktop Version )
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor
- Lembar Kerja
- Presentasi
- OS Compatibility: Windows, Linux, Mac
- Nilai Plus
- Compatibility dengan document MS Office ( doc, docx, xls, xlsx, ppt, pptx)
- Ringan dan portable (tersedia versi web)
- ODF Compatible
- Harga lebih murah di banding MS-Office
- Concurrent license (web version)
- Nilai Minus
- Feature tidak selengkap aplikasi office lain.
- Belum cukup populer di Indonesia
Perbandingan mengenai aplikasi office juga dapat dibaca di wikipedia






Komentar Terbaru