Analisa Model Pentarifan Warnet

Versi PDF

Model pentarifan warnet sampai hari ini masih tidak berubah sejak pertama kali warnet muncul di Indonesia. Modelnya adalah tarif flat. Secara umum diinformasikan sebagai tarif per jam pemakaian. Kalaupun ada variasi diskon, biasanya diterapkan pada member ataupun jam-jam tertentu yang sepi pengunjung. Tulisan ini adalah ajakan kepada pelaku bisnis warnet agar lebih bisa memberdayakan model tarif sehingga dapat didapatkan keuntungan yang optimal tanpa mengurangi tingkat layanan.

Saya mencoba membandingkan model pentarifan warnet dengan dua buah industri yang hampir mirip dengan warnet, yaitu penerbangan dan perhotelan. Kedua industri tersebut bergantung kepada satu hal: okupansi. Okupansi inilah yang menentukan model pentarifan. Pada dunia penerbangan, kita sudah terbiasa dengan tiket murah yang terbatas sampai pada seat tertentu dan jika seat tersebut telah terisi maka tarif akan bergerak naik. Kita juga sudah terbiasa pada kenyataan bahwa dimusim-musim tertentu harga tiket akan mencapai tingkat premium karena terbatasnya kapasitas yang tersedia. Perhotelan pun melakuan hal yang sama. Mereka biasanya punya perhitungan bahwa sampai persen kapasitas tertentu maka sudah mencapai titik impas dan seterusnya adalah keuntungan.

Sekarang kita tinggal pilih, apakah setelah mencapai titik impas tersebut tarif diturunkan atau sebaliknya dinaikkan?

Pada warnet inilah yang kurang diperhitungkan. Seharusnya setiap warnet memiliki perhitungan jangka panjang dan jangka pendek. Perhitungan jangka panjang tentu mencakup target titik impas dalam perhitungan tahun atau bulan dan perhitungan jangka pendek adalah mencakup titik impas dalam harian. Perhitungan jangka panjang bisa membantu kita dalam menerapkan batasan pada perhitungan jangka pendek kita.

Bagi warnet yang sudah berjalan tahunan, tentu mereka telah memiliki data-data okupansi yang cukup untuk dijadikan studi. Trend pengunjung dapat dipelajari sehingga kita mengetahui bulan apa saja pengunjung penuh sampai antri dan bulan apa saja pengunjung sepi. Data bulanan ini kita perkecil lagi menjadi data harian. Sehingga kita bisa mengetahui pada tanggal-tanggal berapa saja warnet okupansinya tinggi dan hari apa saja okupansinya rendah. Data harian ini kita perkecil lagi menjadi data per-jam, sehingga kita mengetahui trend okupansi tersebut hingga ke jam per jam.

Bagaimana kita menghubungkan trend dari data-data tersebut di atas ke dalam pentarifan? Mudah saja. Dengan mengetahui trend, maka kita bisa mengatur tarif kita misalnya: pada saat trend naik (berdasarkan studi data) maka tarif diangkat sampai pada taraf premium dan pada saat trend turun, maka tarif bisa kita tarik turun sampai pada ambang titik impas. Tentu saja, anda bisa saja melakukan hal sebaliknya: Tarif turun pada saat ramai dan tarif naik pada saat sepi.

Dengan model pentarifan ini anda akan bisa memecah pelanggan anda menjadi dua macam: mereka yang sensitif harga dan yang tidak sensitif. Mereka yang sensitif kepada harga tentu akan memilih mengakses pada jam murah dan yang tidak sensitif akan memilih kapan saja mereka perlu akses tanpa memperhatikan tingkat tarif.

Keuntungan dari mengetahui tipe pelanggan akan membantu kita menerapkan tingkat layanan dari level normal hingga premium. Dan yang paling utama: kita memiliki model pentarifan yang terencana dan terstrategi dengan baik yang ujung-ujungnya memberikan layanan optimal kepada pelanggan dan keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan.

15 thoughts on “Analisa Model Pentarifan Warnet

  1. om ngaruh ngga sih antara interior dengan taraf warnet
    katanya kalo mau pasang harga bagus harus bagus juga inetriornya

  2. Apa bisa disamakan dengan kedua industri diatas, relevansinya kira-kira dimana?

    Jasa layanan penerbangan kan bisa di hitung seberapa banyak sih sekarang berbanding dengan penggunanya?

    Saya tidak punya data yang valid tentang jumlah warnet vs penggunannya, apalagi sekarang untuk akses internet kita sudah punya banyak pilihan selain ke warnet. Handphone misalnya, Ada banyak paket murah dari operator… Beda dengan bisnis hotel & penerbangan.

    Saya cenderung tertarik pada sisi servis quality yg mesti ditingkatkan untuk menaikkan omzet. Pertama Bandwith yg utama, lainnya faktor kenyamanan yang bersifat sekunder seperti adanya fasilitas makan&minum, tempat dan lainnya.

    By the way, saya setuju dengan ide anda dalam mengexplorasi celah dalam bisnis ini.

    thank’s

  3. Secara strategi boleh juga.
    sayangnya, buat orang ndak melek it n bonek seperti saya,model pentarifan seperti ini akan sangat merepotkan ketika saya hrs bolak balik ngeset tarif,dll.disamping hrs sensi dengan trend pengunjung.
    :p

    saat ini,kami membuat promo ngenet berhadiah,dan menurut saya,cukup u/ saat ini
    hehe 😀
    btw,thankz Pak!

  4. Mungkin model perhitungan seperti itu lebih mudah dan gampang untuk menghitung dan mengatur nya…. atau kita mau kayak perang tarip pulsa telpon… /detik an…
    buset…

    ga sampe segitunya juga kan…

    kalau masalah trend, misalnya ketika warnet kosong trend harga / jam akan naik, wah bisa bahaya juga… bisa bisa pas kosong ngga ada yang mau maen ke warnet, karena tau pasti harga nya naik, dan pelanggan ngga pernah bisa atau memprediksi fixed price yang akan di bayarkan.

    Mungkin strategi ini akan berjalan, kalau per menit nya warnet itu selalu fully occupied, dan itu tentu saja bergantung dengan banyak faktor.

  5. model pricing strategic ini menarik. Jika ingin menerapkan, diperlukan perubahan paradigma di mindset si pengelolah warnet. paradigma ke arah customer centric yang melihat customer sebagai matriks. gimana yah jelasin dengan sederhana? simplenya, setiap customer punya karakter yang berbeda2 termasuk preferensi kapan mereka menggunakan internet. Ini terkait dengan status mereka, lokasi warnet tersebut berada.

    Di satu sisi, pengelolah yang ingin menerapkan konsep ini, ada konsekuensi manajemen yang harus diterapkan.
    1. Harus menerapkan sistem membership. tujuannya adalah pengumpulan profil data. Setidaknya, ada rekap data tingkat pemakaian per hari per minggu per bulan. dari situ, bisa di mapping secara detil berdasarkan kriteria tertentu. Data statistik sangat penting, memberikan masukan bagi pengelolah.
    2. Sistem promosi yang kleksibel dan gencar, setiap ada perubahan harga, brosur harus cepat beredar. Jadi isi brosur tidak monoton. tiap minggu ganti. sebaiknya brosur di print saja, biar lebih murah dan fleksibel.
    3. Kenaikan harga harus dibarengi dengan benefit lainnya. kenapa? kalau hanya sekedar naik karena melihat timing akupansi yang naik, .. inget lho, customer warnet pada umumnya, ada sensitif terhadap harga. khususnya customer di luar jakarta. akan lebih enak jika kita juga menerapkan sistem membership.
    4. Mempromosikan harga saat kenaikan harga khususnya, kan tidak harus Rp. xxxx / jam. bisa saja Rp. xxxx/ 12 menit misalnya.

    Kata kunci jika ingin menerapkan konsep pricing ini: database dan promosi.

    Jika kita ingin menerapkan konsep yang diterapkan oleh bisnis lain, maka kita juga harus mempelajari apa saja yang dilakukan “dibalik layar”. itu menurut saya yang terpenting.

  6. warnet saya msh baru dan mash pny amsalah dengan biling saya pake bill eksplorer 4.43 deskpro 2007 tapi client g konek meski server dah di registrasi dan berhasil, mohon solusi dong?

  7. waduh Mas, saya nggak ngerti juga kalo urusan begitu 🙂 kalo pertanyaan teknis seperti ini mending ditanyakan di mailing lists umum awari

  8. kalau menurut saya modal 2o jt, pasti bisa aslkan Tempat milik sendiri Insya Alloh pasti bisa,
    ini hanya sekedar bagi 2x pengalaman.5 bulan yang lalu aku buka warnet tadinya aku bimbang hanya punya modal 15Jt.apakh modal segitu bisa buka usaha warnet apa ga? tapi alhamdullilah dengan modal 15jt aku bisa buka warnet dengan 10 client.aku pake tlkomspeedy unlimited paket games dengan ukuran bandwitc 1mb,sampai dengan hari ini keuntungan saya selama 5 bulan sudah mencapai 9jt.(sudah dipotong bayar Listrik+telkom+biaya perawatan Komputer+biaya sewa tempat meskipun tempat milik sndiri)bisa sharing di plonet@yahoo.com/ploadera@yahoo.com barangkali tulisan saya bisa bermanpaat bagi semua insan yang pingin membuka usaha warnet.

  9. kalo 30 jeti kira2 berani pake LCD ato ngga mas? trus apakah significant bedanya pake monitor crt dan LCD jika ingin membuat warnet..
    matur nuwun

  10. Senang juga baca artikel cerdas seperti ini, saya cuma coba kasih tambahan supaya sistem kemasan pentarifan jadi lebih menarik dan mudah buat semua orang, baik itu pelanggan warnet maupun pengelola warnet. Namun sebelumnya minta maaf dulu, kalo seandainya kurang berkenan, karena saya hanya sekedar berbagi pengalaman dan justru ingin berguru dengan para warneter disini.

    Konsep tarip apapun, akan dilihat oleh pelanggan secara langsung, dan bagi mereka tarip itu seperti “Undangan” yang disesuaikan dengan kemampuan/keterbatasan mereka.

    Berikut ini beberapa hal yang saya terapkan;
    1. Menyikapi soal tarip, saya menerapkan tarip “prepaid” dengan pertimbangan kemudahan dan kepastian bahwa pelanggan akan duduk di depan PC selama masa yang telah dibelinya.
    2. Tarip postpaid, saya terapkan lebih mahal, dan tidak menarik, tapi masih bisa diterima oleh pelanggan yang memang butuh internet hanya sebentar.
    3. Setiap meja PC, saya kelompokkan dalam 2 Group yakni “Common Room”, “VIP Room” dan sebenarnya ada satu lagi, yang saya sediakan tapi gak terlalu penting “Smoking Room”.
    4. Sudah pasti tarip setiap Group berbeda, dan yang VIP adalah yang termahal, namun hanya berbeda di kenyamanan tempat duduk/meja yang disediakan.
    5. Terakhir, saya pasang pengumuman tegas mengenai masing-masing tarip, baik prepaid, postpaid, untuk masing-masing kelas/Group.

    Sekarang, tinggal menetapkan berapa tarip yang “menarik” ?

    Saya mengeluarkan tarip prepaid Rp7k/3jam, hanya untuk sebagian kecil PC, dan angka tersebut saya tulis besar-besar untuk menarik pelanggan. Hasilnya, ternyata pelanggan ramai berkunjung karena murah, dan mereka antri untuk mendapatkan tarip murah, tapi buat yang tidak suka antri, bisa menikmati layanan premium dengan harga premium juga tentunya.

    Secara total, jika dihitung seluruh pendapatan bulanan, dibagi dengan jumlah jam yang terjual, ternyata tarip rata-rata pelanggan warnet jatuh di angka Rp5k/jam. Itu dengan komposisi VIP:CRoom:Smoking >> 10:25:5, oh iya sekedar catatan, kalo untuk tarip “prepaid murah” yang Rp7k/3jam, cuma berlaku unt 10PC, dengan spec terendah, di ruang Common-Room dimana tempat duduknya terbuka (No-Privacy).

    Cara ini terlihat dari luar, seperti “perang tarip”, tapi sebenarnya tidak ada tarip “murah”, yang ada adalah “undangan” buat pelanggan untuk datang berkunjung.

  11. Pentarifan model bima lebih relevan dan masuk akal karena dikondisikan dengan keadaan yang real jadi tidak hanya sekedar suatu asumsi imajinatif saja.Bisnis yang dijadikan acuan juga tidak relevan dikarenakan kondisi rentang waktu occupansinya juga berbeda.Ocupansi di warnet kan hitungannya dalam sehari,bandingkan dengan bisnis angkutan pesawat terbang palingan anak sekolah libur panjang, lebaran ama taon baru.Hitungan perbedaan occupansinya dalam hitungan bulan.Yang terjadi dalam pentarifan oleh wanet kan seputar occupansi yang terjadi.Disitu waktu ramai-ramainya pelanggan disitu harga pentarifan di banderol habis-habisan yang ujung-ujungnya semua kembali kepada pelanggan juga mau ke warnet mana ia mau.Punya wanet 40 unit spec game,sewa ruko tengah kota dengan penghasilan rata 1 juta sehari bandingkan dengan punya 10 pc client di pinggir kota dengan persaingan ketat dengan penghasilan 300-450 rebu sehari.

  12. Klo mau extreme sekalian dibandingkan dengan model pentarifan jual minyak bensin pertamina di spbu yang untungnya cuma Rp180 perliternya tapi jualannya ampe 18.000 liter sehari biar modar sekalian.

Leave a Reply