The Komodo Affair

courtesy of wikipedia

Sabtu pagi saat masih bersantai dengan koran digital,  ponsel saya berbunyi.  Rupanya Amril “DeBatt”.   Pikiran saya langsung berkata tumben banget ditelpon pagi pagi segini sama DeBatt, pasti ada yang penting.   Pesan DeBatt singkat:  apakah ada waktu sore ini berkumpul dengan para blogger di Gandaria City? Ada rekan dari Departemen Pariwisata yang ingin bertemu.

Tentunya tidak masalah.  Selain dekat (cuma perlu 15 menit), Saya menyukai pemandangan dari gedung parkirnya (hey..).  Maka ketika jam menunjukkan jam 4 sore, saya pun meluncur ke arah Gandaria City dan bertemu dengan teman teman blogger dari berbagai komunitas.  Ada blogger dari AngingMammiri, deBlogger, Kompasiana, Depok, Bekasi dan beberapa lagi yang (mohon maaf) saya tidak ingat.

Inti pertemuan adalah membahas soal Komodo dan hubungannya dengan isu yang sedang hangat saat ini: Status Komodo di New 7 Wonder yang diancam untuk dikeluarkan dari arena voting tersebut karena keberatan dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Sejak awal mendengar soal komodo di New 7 Wonder ini saya merasa ada yang aneh dengan apa yang dikatakan sebagai New 7 Wonder.

  • Pertama:  pemilihannya dilakukan dengan cara voting dan via internet.  Voting via internet memiliki satu kelemahan: mudah sekali di abuse.  Apalagi kalau dilakukan secara global, bagaimana melakukan verifikasi dan menjamin 1 orang tidak melakukan voting berkali kali?  Sepintas di pertemuan tersebut dijelaskan soal sebuah negara yang memiliki 6 juta penduduk tapi tercatat melakukan voting 12 juta kali.
  • Kedua: setelah di voting dan termasuk 7 besar terus diancam dikeluarkan karena tidak mau menjadi tuan rumah pelaksanaan acara.  Jadi sebenarnya ini apa sih? Kalau memang adil, walau menolak menjadi tuan rumah pun semestinya tidak perlu ada penghapusan dari peringkat, karena peringkat berdasarkan voting.
  • Ketiga:  USD 10 juta (biaya lisensi acara?) + USD 35 juta biaya pelaksanaan acara bukanlah angka kecil.  pendapat yang saya sampaikan soal ini cuma satu:  Apakah kita (sebagai bangsa dan negara) merasa bahwa angka tersebut pantas untuk “sekedar” mendapatkan peringkat di New 7 Wonder?   Dengan biaya sebesar itu, rasanya lebih banyak yang bisa kita lakukan demi Komodo dibanding masuk dalam peringkat yang (menurut saya) tidak jelas siapa dan sejauh mana kredibilitas lembaga pelaksananya.

Ada berbagai opini yang muncul dalam pertemuan tersebut, mudah mudahan teman teman yang hadir menuliskannya.  Saya sendiri berkesimpulan:  Jika kita merasa manfaat yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya (dan usaha yang selama ini dilakukan), maka sebaiknya Pemerintah melalui Kementrian terkait tidak ragu ragu untuk mengatakan “tidak”.

16 thoughts on “The Komodo Affair

  1. mending gak usah, banyak maunya tuh New 7 Wonder.
    hmmm… komodo gate!, tapi kalo gini sih DPR gak bakalan tergiur bikin pansus komodo 😀

    tidak lama kemudian *kriiing.. panitia New 7 Wonder di kontak makelar pansus 😀

  2. Setelah membaca disana-sini, terlebih membaca statement resmi Unesco (yang merupakan lembaga Dunia yang memiliki kewenangan menetapkan situs-situs keajaiban dunia) di tautan ini, seharusnya bang iWin tulis kata terakhir di tulisan ini menggunakan caps lock menjadi “TIDAK” 😀

  3. Saya setuju. Jika kita merasa manfaat yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya (dan usaha yang selama ini dilakukan), maka sebaiknya Pemerintah melalui Kementrian terkait tidak ragu ragu untuk mengatakan “tidak”.

    Lagian, tanpa embel-embel 7 wonder pun Komodo sdh terkenal koq. Mending uangnya buat memperbaiki sarana dan prasarana di sana.

Leave a Reply