Layar Ketiga yang menjadi Layar Utama

Layar Ketiga (The Third Screen) adalah istilah yang mengacu pada layar telepon selular, atau lebih tepat lagi layar telepon selular pintar  (Smart Cellular Phone / Smart Phone) dan komputer tablet.  The First Screen atau layar pertama yang dikenal manusia adalah layar televisi, kemudian The Second Screen atau Layar Kedua adalah layar komputer. Teknologi telepon selular adalah cerita sebuah sebuah teknologi komunikasi nirkabel yang berpadu dengan teknologi komputasi, layar dan konektivitas (internet) menjadi sebuah sajian teknologi yang berhasil menjadi sebuah paduan teknologi yang digemari dan menjadi fenomena dalam keseharian hidup manusia.   Jika melihat dari sisi teknologi komunikasi, antara Layar Kedua dan Layar Ketiga memiliki kemiripan: Internet.  Namun ada bagian yang sangat membedakan antara Layar Kedua dan Ketiga ini: Mobilitas.  Layar Kedua, walaupun dapat memiliki mobilitas seperti yang ditunjukkan oleh Laptop ataupun Notebook dan Netbook, namun tetap tidak bisa menyaingi mobilitas yang ditunjukkan oleh Layar Ketiga yang diwakili oleh SmartPhone dan Komputrer Tablet. Selain Mobilitas, Layar Ketiga memiliki kelebihan lain: Praktis dan Mudah digunakan.

Telepon Nirkabel sebenarnya  telah ada sejak tahun 1946, ketika sebuah panggilan telepon dilakukan pertama kali dari sebuah mobil di St. Lois, Missouri, AS menggunakan Bell System’s Mobile Telephone Services. Telepon selular yang pertama adalah “The Brick” yang diproduksi oleh Motorola pada tahun 1973.  The Brick, adalah telepon selular pertama, beratnya 1 Kg dan dihargai $3.995 dan butuh 1 dekade untuk menjadi populer.  The Brick, seperti halnya telepon kabel, tidak memiliki layar namun telah menarik perhatian para pelaku bisnis yang sering melakukan perjalanan dan menjadi simbol status pada masanya.

Perlu disadari bahwa apa yang kita kenal saat ini dengan The Third Screen sebenarnya merupakan muara dari perkembangan dan perpaduan antara Personal Digital Assistants (PDA) dan Cellular Phone.  PDA yang mulai marak di awal tahun 1990an adalah perangkat digital dengan layar (cukup) lebar dan memiliki fungsi sebagai pengelola data pribadi seperti jadwal, tugas, catatan, permainan, hiburan dan jika ditambahkan modul komunikasi selular juga berperan sebagai pengelola sms, email dan telepon.  Di  sisi lainnya, Telepon Selular juga berkembang dari kemampuan dasar telepon dan sms menjadi sebuah perangkat yang dapat mengelola Buku Alamat dan Email dan akhirnya memiliki juga kemampuan PDA (jadwal, tugas, catatan, permainan, hiburan)

Telepon nirkabel, walaupun telah ada sejak lama namun tidak memiliki critical mass seperti halnya The Brick yang menjadi simbol status kaum bisnis pada masanya.  PDA di sisi lain, perangkat pintar yang inovasi awalnya menjadi enabling factor pada adopsi teknologi, walaupun memiliki critical mass dan early adopter yang cukup besar namun kerumitan penggunaan PDA  untuk memasukkan unsur konektivitas dimana pengguna harus menambahkan satu perangkat lagi untuk konektivitas ditambah faktor kompleksitas lainnya adalah Limiting Factor yang membuatnya tenggelam oleh perangkat Telepon Pintar (SmartPhone) yang akhirnya memiliki early majority dengan jumlah yang besar.  Unsur Mobilitas, Praktis, Konektivitas dan Simbol Status adalah Motivating Factor bagi adopsi Third Screen.

Layar Ketiga yang diwakili oleh Ponsel Pintar dan Komputer Tablet berperan besar dalam perkembangan komunikasi.   Komunikasi yang tercipta dari teknologi tersebut bersifat bergerak/mobile dan tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu dan perpaduan layar ketiga dengan internet menggantikan peran dari  layar pertama (televisi) dan bersaing ketat dengan layar kedua (komputer desktop).  Pengguna saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di layar ketiga dibanding layar kedua dan layar pertama. Pengaruh dari perkembangan layar ketiga dapat disederhanakan dengan idiom “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.  Layar ketiga membuat hubungan kita lebih dekat, dengan mudah kita dapat berkomunikasi dengan walau tanpa tatap muka (face to face communication).   Kemudahan mendapatkan informasi dan memberikan respon terhadap informasi tersebut.  Peran tersebut makin meningkat dengan maraknya apa yang kita kenal sebagai Social Network dan Social Media yang banyak diakses melalui Layar Ketiga.  Komunikasi menjadi sebuah  hal yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan.

Layar Ketiga, juga memiliki peran pada dunia periklanan.   Jumlah pengguna Ponsel Pintar dan Komputer Tablet yang terus meningkat dan kemampuan Layar Ketiga dalam menampilkan konten multimedia telah menarik para pengiklan untuk memanfaatkan layar ketiga sebagai bagian dari media iklan.  Aplikasi Mobile gratis, Situs Social Media dan Social Networking, dan situs situs yang dirancang khusus untuk perangkat layar ketiga adalah pintu masuk munculnya iklan ke layar pengguna Ponsel Pintar dan Komputer Tablet.  Iklan, membiayai kehidupan dari aplikasi mobile dan situs mobile yang gratis seperti halnya iklan menopang kehidupan layar pertama.

Diluar peran tersebut, ada juga sisi lain yang terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi yang berpengaruh negatif terhadap kehidupan manusia.  Layar Ketiga justru menjadi faktor gangguan pada saat sedang berkomunikasi tatap muka ataupun dalam pertemuan sosial dengan orang-orang terdekat (keluarga, perkawanan, komunitas) dimana kita sibuk melayani komunikasi melalui layar ketiga dan mengesampingkan komunikasi tatap muka.  Layar ketiga bahkan bisa menjadi sebuah faktor yang membahayakan keamanan, sebagai contoh menggunakan telepon selular pada saat sedang mengendara atau pun pada hal-hal sederhana: menggunakan telepon selular pada saat menyeberang jalan yang menyebabkan kita dapat kehilangan konsentrasi dan membahayakan jiwa kita.  Layar Ketiga yang sebenarnya merupakan sebuah komputer mini, juga membawa resiko yang terdapat pada komputer pada umumnya: kebocoran data pribadi.

Perkembangan layar ketiga di Indonesia secara umum diwarnai oleh fenomena dua buah vendor ponsel pintar: Blackberry dan Apple iPhone.  Sebelum populernya kedua ponsel tersebut, perkembangan ponsel pintar di Indonesia tidak terlalu menarik perhatian mayoritas pengguna telepon seluler.  Sebelum booming Blackberry dan iPhone, Ponsel Pintar hanya dianggap sebagai sebuah telepon selular mahal yang dilengkapi dengan aplikasi dan kemampuan akses internet yang terbatas dan mahal, dan lebih menonjol sebagai simbol status dari pemiliknya.  Booming Blackberry dan iPhone, juga didorong perkembangan akses ke Social Networking dan Media Social dan Persaingan Provider Telepon Seluler dalam memperebutkan pangsa pasar telekomunikasi berbasis akses data.  Keinginan pengguna untuk mengakses dan mengirim informasi dimana saja, saling terhubung, kepraktisan pengunaan, dan semakin murahnya harga akses data  telah mendorong booming penggunaan Layar Ketiga di Indonesia.  Fenomena layar ketiga yang menjadi layar utama juga menjadi catatan utama dalam penggunaan layar ketiga di Indonesia, sebagian besar generasi muda lebih banyak menghabiskan waktunya di layar ketiga dibanding layar kedua, apalagi layar pertama.

Leave a Reply