Menurut Iklan, Putih itu Cantik

Jika anda berpikir televisi tidaklah mempengaruhi anda, cobalah mengingat sejak kapan anda menganggap ketombe adalah sebuah masalah. Kita mungkin sudah lupa, karena saking lamanya kita menggunakan produk shampo anti ketombe.  Tapi ada masa dimana kita sebenarnya tidak tahu bahwa ketombe adalah sebuah masalah sampai ada iklan yang mengatakannya sebagai masalah.

Atau mungkin anda mengira naik motor yang benar itu adalah yang kencang dan meliuk-liuk seperti yang ditampilkan komedian si Komeng. Iklan motor tersebut menampilkan liukan si Komeng hingga baju dan celananya sobek dan terakhir bersanding disamping jawara balap MotoGP sambil mengacungkan jempol. Hebat? Keren? Cobalah meliuk-liuk seperti iklan tersebut di jalan raya kalau tidak mengundang sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya.

 Dan tentunya, sesuai judul bagian ini: sejak kapan anda menganggap yang berkulit putih pasti lebih cantik  dibandingkan dengan yang yang berkulit coklat. Karena iklan sebuah kosmetik menampilkan sepasang gadis kembar cantik tapi  yang berkulit lebih coklat merasa sedih dengan kulitnya yang lebih gelap?

Siaran televisi seperti iklan, walau kita semua tahu bahwa apa yang ditampilkan adalah sebuah yang  dilebih-lebihkan, tapi jika kita ditanyakan lebih memilih mana wanita berkulit putih atau berkulit  coklat yang mana anda pilih, walau kedua wanita tersebut sama cantiknya, ehm. Seperti itulah pengaruh media televisi terhadap cara pandang kita ke dunia sekitar kita. Tanpa sadar, kita memikirkan yang tadinya bukan masalah seperti ketombe misalnya, menjadi sebuah masalah yang bisa jadi kita menganggapnya memalukan jika rambut kita berketombe.

Iklan, memang sebuah bagian dari dunia pertelevisian yang sifatnya mengajak pemirsa untuk membelanjakan uang ke apapun yang ditawarkan iklan tersebut. Namun, dalam proses penawaran tersebut dibumbui dengan berbagai hal seperti hiburan dan penawaran gaya hidup sehingga kita merasa jika membeli barang yang ditawarkan tersebut kita sudah termasuk bagian dari gaya hidup yang ditawarkan.   Keinginan kita untuk menjadi bagian dari sebuah gaya hidup adalah bagian yang paling diekploitasi oleh iklan.

Tentunya kecantikan bukanlah milik mereka yang berkulit putih saja, dan tidak perlu berkulit putih  untuk menjadi cantik.  Begitu juga tidak perlu meliuk-liuk di jalan raya untuk terlihat keren.

2 thoughts on “Menurut Iklan, Putih itu Cantik

  1. sama seperti iklan rokok yg mencerminkan kalau para perokok itu orang yg sukses.mending nonton HBO ajah daripada tv lokal indonesia. LOL

  2. hehhe…betul sekali ya.jaman dulu ketombe atau bahkan kutu dianggap biasa saja.

Leave a Reply