Absurditas Kontes Bakat

Kontes Bakat, lebih tepatnya disebut kontes menyanyi, sebab boleh dibilang menyanyi adalah kemampuan utama yang harus dimiliki oleh kontestan, merupakan salah satu acara televisi dengan tingkat rating yang tinggi. Tingkat rating yang tinggi ini dicapai karena ada beberapa faktor dalam tayangan kontes bakat yang menyebabkan pemirsa memilih tayangan kontes bakat sebagai pilihan tontonan. Faktor yang pertama tentunya ingin melihat bakat-bakat baru bermunculan. Kita ingin melihat wajah wajah segar yang mencoba mengandalkan bakatnya dalam bernyanyi. Tapi ada faktor berikutnya yang ditonjolkan oleh televisi dan, kadang merubah jalannya kontes: dramatisasi.

Dahulu, jika kita menonton kontes bakat maka yang akan diperlihatkan oleh kita hanyalah panggung kontes tersebut, penjurian dan terakhir kita melihat sang pemenang kontes. Sayang sekali, hal seperti ini saat sekarang dianggap tidaklah menarik. Agar kontes bakat menjadi sebuah yang menarik, maka dibuatlah dramatisasi yang berkedok tayangan realitas. Kontes bakat sudah ditayangkan sejak dari proses pendaftaran, kemudian proses audisi. Diperlihatkanlah proses pendaftaran yang membludak, dan peserta harus bersabar menanti proses audisi. Dan drama pun berlangsung. Dalam proses audisi, sang juri mengkritisi mereka yang tidak berbakat tapi merasa berbakat, kadang dengan kata kata yang sangat pedas. Air mata berlinang, dan mulailah kita merasa penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Drama ini berlangsung terus menerus, bahkan sebenarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kontesnya sendiri. Dan televisi dengan pintarnya, merangkul perusahaan telekomunikasi untuk membolehkan pemirsa ikut menentukan sang kontestan lolos ke babak berikutnya melalui sms!

Sebenarnya ini proses yang sah-sah saja. Di Amerika Serikat misalnya, pemirsa di rumah memang ikut menjadi bagian dari kontes bakat dengan menelpon atau sms ke nomer tertentu (gratis) dan memilih kontestan favorit mereka. Dan setiap nomer hanya boleh melakukannya satu kali. Di sinilah pangkal masalahnya. Di Indonesia, pemilihan peserta yang lolos ke babak berikutnya dari sebuah kontes bakat dihitung dari berapa jumlah sms yang masuk dan tidak ada batasan berapa kali sebuah nomer telepon boleh mengirimkan sms. Jadi, kalau kebetulan anda adalah orang yang mampu membeli pulsa sebanyak-banyaknya untuk memenangkan diri anda yang kebetulan lolos hingga babak tertentu, beruntunglah anda. Sebab, sebagus apapun kontestan lain, akan keok melawan kekuatan finansial yang anda miliki.

Tentu saja, tidak semua orang mau bertarung dengan cara tersebut, walaupun memiliki kemampuan untuk membeli pulsa sms sebanyak-banyaknya tapi dengan percaya diri anda merasa memiliki kemampuan bakat tinggi dan ditopang penampilan yang bagus. Sayang sekali, anda juga tetap harus mengerti bahwa dramatisasi yang berlangsung bisa membuat anda kalah dari seorang kontestan yang digambarkan sebagai orang yang harus berjuang bersusah payah agar bisa menang, sebab kemenangan akan berpengaruh besar terhadap kehidupannya dan tentunya dia membawa juga kebanggaan daerah dan tiba-tiba gubernur atau bupati daerah tersebut demi citra politiknya ikut serta membagi-bagi pulsa agar kontestan tersebut dikirimi sms sebanyak-banyaknya. Bahkan beliau juga membuat acara nonton bareng demi memberi kesempatan menonton pada semua orang di daerah tersebut.

Lalu, juri di kontes tersebut sebenarnya gunanya apa? Selain berperan sebagai pemberi kritik baik bagus maupun jeleknya penampilan sang kontestan, maka juri kontes bakat boleh dibilang tidak berfungsi apa apa. Mereka dengan gayanya sendiri merupakan bagian dari hiburan di acara tersebut, tapi perannya dalam memilih pemenang tidak ada. Bahkan, jika kontestan favorit sang juri ikut tersingkir, sang juri ikut menangis meneteskan airmata menjadi sorotan kamera dan ditampilkan berulang-ulang.

Ini karena inti dari penayangan acara kontes bakat tersebut bukanlah untuk mencari bakat, tapi tidak lain hanyalah untuk menghibur dan mengejar rating, rating yang tinggi artinya iklan (baca: duit) mengalir. Menghibur (to entertaint) adalah kata kuncinya, sisanya adalah bagian dari acara.

Absurditas Kontes Bakat ini oleh sebagian masyarakat kita mulai diterima sebagai cara untuk populer, sehingga pendaftaran untuk kontestan pun semakin membludak dan kemudian fase dramatisasi yang disebut di atas pun berulang lagi. Bagi mereka yang masih memiliki akal sehat, tentunya melihat ini sebagai pelacuran budaya. Bagaimana mungkin sebuah acara disebut kontes jika pemenangnya bukanlah yang terbaik tapi merupakan pilihan sms pemirsa yang sistemnya sendiri membuka peluang untuk manipulasi demi meraih keuntungan sebesar-besarnya oleh korporasi pertelevisian. Kontes yang artinya mencari yang terbaik, sudah berubah artinya menjadi mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dan perlu dicatat bahwa acara kontes bakat ini tidak hanya tampil di televisi tapi dalam proses pendaftaran, audisi dan seleksi menyentuh langsung ke masyarakat dengan pelaksanaannya di tempat umum seperti mal dan pusat pertokoan.

One thought on “Absurditas Kontes Bakat

  1. syukurlah saya bukan termasuk pemirsa tv yang terjebak mengikuti absurditas kontes bakat.

Leave a Reply