Archive for the ‘Manajemen’ Category
4P Dalam Mengelola Warnet

Product Price Place Promotion
Prinsip pemasaran adalah bagaimana kita menganalisa kebutuhan pelanggan dan membuat keputusan yang bisa memuaskan pelanggan kita lebih dari para pesaing dan berujung kepada terjadinya transaksi penjualan yang lebih baik pula. Read the rest of this entry »
Kegagalan Melihat Persoalan Sesungguhnya
Dalam sebuah bisnis, kegagalan melihat persoalan sesungguhnya adalah sebuah perangai yang buruk. Walaupun hampir semua pebisnis pernah melakukan kesalahan ini, namun tidak semuanya mampu melepaskan diri dari sudut pandang yang mereka gunakan untuk melihat persoalan dari sisi lain sehingga dapat terlepas dari sisi pandang yang bisa jadi merugikan masa depan bisnis mereka. Read the rest of this entry »
FAQ Lisensi Microsoft
Walaupun sudah tersedia di situs Microsoft dan situs Awari, namun saya masih sering mendapatkan pertanyaan mengenai segala sesuatu mengenai lisensi Microsoft, utamanya menyangkut OS Windows. Karenanya saya meng-upload versi FAQ Lisensi Microsoft dalam bahasa Indonesia
di sini. Jadi sebelum bertanya kemana-mana, baca dulu lah dokumentasi tersebut.
Notes: jarang yang tanya soal lisensi FOSS padahal sebenarnya lebih rumit loh hehehehehe….
Analisa Model Pentarifan Warnet
Model pentarifan warnet sampai hari ini masih tidak berubah sejak pertama kali warnet muncul di Indonesia. Modelnya adalah tarif flat. Secara umum diinformasikan sebagai tarif per jam pemakaian. Kalaupun ada variasi diskon, biasanya diterapkan pada member ataupun jam-jam tertentu yang sepi pengunjung. Tulisan ini adalah ajakan kepada pelaku bisnis warnet agar lebih bisa memberdayakan model tarif sehingga dapat didapatkan keuntungan yang optimal tanpa mengurangi tingkat layanan.
Saya mencoba membandingkan model pentarifan warnet dengan dua buah industri yang hampir mirip dengan warnet, yaitu penerbangan dan perhotelan. Kedua industri tersebut bergantung kepada satu hal: okupansi. Okupansi inilah yang menentukan model pentarifan. Pada dunia penerbangan, kita sudah terbiasa dengan tiket murah yang terbatas sampai pada seat tertentu dan jika seat tersebut telah terisi maka tarif akan bergerak naik. Kita juga sudah terbiasa pada kenyataan bahwa dimusim-musim tertentu harga tiket akan mencapai tingkat premium karena terbatasnya kapasitas yang tersedia. Perhotelan pun melakuan hal yang sama. Mereka biasanya punya perhitungan bahwa sampai persen kapasitas tertentu maka sudah mencapai titik impas dan seterusnya adalah keuntungan.
Sekarang kita tinggal pilih, apakah setelah mencapai titik impas tersebut tarif diturunkan atau sebaliknya dinaikkan?
Pada warnet inilah yang kurang diperhitungkan. Seharusnya setiap warnet memiliki perhitungan jangka panjang dan jangka pendek. Perhitungan jangka panjang tentu mencakup target titik impas dalam perhitungan tahun atau bulan dan perhitungan jangka pendek adalah mencakup titik impas dalam harian. Perhitungan jangka panjang bisa membantu kita dalam menerapkan batasan pada perhitungan jangka pendek kita.
Bagi warnet yang sudah berjalan tahunan, tentu mereka telah memiliki data-data okupansi yang cukup untuk dijadikan studi. Trend pengunjung dapat dipelajari sehingga kita mengetahui bulan apa saja pengunjung penuh sampai antri dan bulan apa saja pengunjung sepi. Data bulanan ini kita perkecil lagi menjadi data harian. Sehingga kita bisa mengetahui pada tanggal-tanggal berapa saja warnet okupansinya tinggi dan hari apa saja okupansinya rendah. Data harian ini kita perkecil lagi menjadi data per-jam, sehingga kita mengetahui trend okupansi tersebut hingga ke jam per jam.
Bagaimana kita menghubungkan trend dari data-data tersebut di atas ke dalam pentarifan? Mudah saja. Dengan mengetahui trend, maka kita bisa mengatur tarif kita misalnya: pada saat trend naik (berdasarkan studi data) maka tarif diangkat sampai pada taraf premium dan pada saat trend turun, maka tarif bisa kita tarik turun sampai pada ambang titik impas. Tentu saja, anda bisa saja melakukan hal sebaliknya: Tarif turun pada saat ramai dan tarif naik pada saat sepi.
Dengan model pentarifan ini anda akan bisa memecah pelanggan anda menjadi dua macam: mereka yang sensitif harga dan yang tidak sensitif. Mereka yang sensitif kepada harga tentu akan memilih mengakses pada jam murah dan yang tidak sensitif akan memilih kapan saja mereka perlu akses tanpa memperhatikan tingkat tarif.
Keuntungan dari mengetahui tipe pelanggan akan membantu kita menerapkan tingkat layanan dari level normal hingga premium. Dan yang paling utama: kita memiliki model pentarifan yang terencana dan terstrategi dengan baik yang ujung-ujungnya memberikan layanan optimal kepada pelanggan dan keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan.
Siklus Bisnis Warnet
Hampir setiap individu bisnis memahami bahwa ada siklus yang sama pada setiap jenis usaha sebagai berikut:
siklus 1: Masa lahir-siklus 2: Masa Tumbuh dan Berkembang-siklus 3: Masa Puncak dan menurun.
Begitu juga dengan Bisnis Warnet. Analisa saya, bisnis warnet saat ini sudah mencapai puncak dan pelaku bisnis harus bersiap menuju posisi menurun. Adapun perkembangan warnet saat ini harus disikapi dengan hati-hati, sebab ada perbedaan antara pertumbuhan bisnis dan pertumbuhan pelaku bisnis. yang saat ini tumbuh adalah (jumlah) pelaku bisnis, bisnisnya sendiri boleh dikatakan tidak tumbuh dan berkembang.
Bisa ditanyakan kepada pelaku bisnis dilapangan, berapa banyak dari mereka yang berhasil menambah jumlah warnet-nya? Sangat-sangat jarang terdengar, yang sering saya dapatkan adalah menurunnya jumlah warnet pelaku ataupun berhentinya seorang pelaku bisnis warnet dikarenakan habisnya masa kontrak tempat berusaha mereka.
Hal ini bisa dimaklumi jika melihat dari model bisnis warnet yang sejak akhir 90-an hingga saat ini yang tidak berubah: jasa jual kembali akses internet. Boleh dikatakan tidak ada inovasi yang berarti dari para pelaku bisnis warnet dalam memanfaatkan kelebihan mereka: internet + Komputer.
Ada 2 faktor utama munculnya bisnis warnet:
1. Mahalnya harga bandwidth
2. Mahalnya harga perangkat akses (PC)
Saat ini kedua faktor tersebut di atas mulai goyah. Dari hasil analisa pasar terlihat menurunnya omzet para pebisnis warnet hingga mencapai 20-30%. Akses Telkom Speedy yang murah adalah salah satu penyebab utama. Telkom speedy, selain memberikan harga yang terjangkau, juga menyebabkan tumbuhnya warnet-warnet seperti jamur dimusim hujan tanpa memperhitungkan pasar yang tersedia sehingga menyebabkan kelebihan suplai dan menyebabkan persaingan tinggi yang berujung kepada persaingan harga.
Harga perangkat PC memang masih (terhitung) mahal, namun perlu dicermati adalah: para pelanggan warnet adalah kalangan yang (mulai) mampu membeli perangkat pc/notebook. Fakta-fakta ini lah yang ikut menekan para pelaku bisnis warnet yang kadang masih tidak mau mengakui bahwa bisnis mereka berada pada titik menurun.
Sebagian dari warnet-warnet akhirnya mencoba bertahan hidup dengan beralih atau menyediakan konten game baik offline maupun online. Inipun menurut analisa saya bukanlah sebuah penyelesaian masalah, sebab game komputer baik offline maupun online umumnya menuntut spesifikasi komputer yang lebih tinggi dengan harga jual lebih rendah.
Siklus 3 dapat dicegah hanya dengan satu cara: Perubahan pada model Bisnis.
Perubahan pada model bisnis warnet adalah suatu yang harus dilakukan jika ingin bisnis ini tetap hidup. Bisnis Warnet harus beralih dari sekedar jasa jual kembali akses internet ke sebuah model bisnis baru yang memanfaatkan kekuatan jaringan internet dan infrastruktur komputasi yang telah dimiliki oleh warnet ditambah dengan kekuatan pada ruang warnet yang dapat diakses setiap saat oleh masyarakat.
Para pengusaha warnet mustinya bisa belajar bagaimana menggunakan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan tersebut secara bersama. Salah satu kelemahan terbesar dari pelaku bisnis warnet adalah sikap yang sangat individualistis, ingin menang sendiri dan kurangnya rasa kebersamaan ke sesama pelaku bisnis warnet. Padahal jika mereka menyisihkan waktu untuk selalu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan sesama pengusaha warnet bisa dipastikan kekuatan-kekuatan yang saya sebutkan di atas akan semakin mengkristal dan menjadi sebuah pendobrak bagi kelesuan bisnis warnet.
Mudah-mudahan kesadaran ini segera muncul dan kita akan melihat sebuah perubahan dalam model bisnis warnet dan siklus ke-3 bisa berbentuk seperti di bawah:
posting terkait: Prospek Bisnis Warnet
Aplikasi Perkantoran untuk Warnet
Aplikasi perkantoran merupakan aplikasi yang penting di warnet setelah aplikasi internet. Namun tidak seperti aplikasi internet dimana software yang populer justru bebas di download dan digunakan (ex: Mozilla Firefox), aplikasi perkantoran yang populer saat ini adalah salah satu perangkat lunak yang terhitung mahal.
Aplikasi perkantoran yang sebenarnya tidaklah terbatas, namun tidak banyak yang mampu untuk berjalan di semua platform/OS atau minimal tersedia di dua platform populer di warnet: OS Windows dan OS GNU-Linux. Di bawah ini saya mencoba memberikan perbandingan terhadap 4 buah aplikasi perkantoran yang cocok untuk digunakan di warnet.
- Microsoft Office 2007 (Home and Student FPP)
- Perusahaan: Microsoft
- Harga:$157
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor ( Word )
- Lembar Kerja ( Excel )
- Presentasi ( Powerpoint )
- OS Compatibility: Win XP, Mac
- Nilai Plus:
- Popularitas
- Nilai Minus:
- Mahal
- Format document baru tidak kompatibel bahkan untuk sesama produk MS ( Office 2003, Office XP )
- Perlu MSRA
- User Interface baru membutuhkan waktu untuk dipelajari
- Butuh RAM yang besar (min. 512 MB) untuk performa yang bagus
- Open Office
- Perusahaan: Sun Microsystem
- Harga: $0 ( Download dari openoffice.org )
- Lisensi: LGPL
- Paket:
- Word Processor ( Writer )
- Lembar kerja ( Calc )
- Presentasi ( Impress )
- Grafis ( Draw )
- Database ( Base )
- OS Compatibility : Windows, Linux, Unix, Mac
- Nilai Plus:
- Murah dan mulai populer
- Multi OS
- Paket aplikasi lengkap
- Kemampuan membaca dokumen aplikasi lain
- Kemiripan User Interface dengan MS Office
- format dokumen ODF
- Stabilitas
- Nilai Minus:
- Familiarity butuh waktu.
- Butuh RAM yang cukup besar ( Min. 256 MB ) untuk performa yang bagus
- Loading aplikasi lama walaupun saat berjalan normal kembali.
- Lotus Symphony
- Perusahaan: IBM
- Harga: $0 ( Free Download di symphony.lotus.com)
- Lisensi: Eclipse Public License
- Paket:
- Word Processor (Lotus Symphony Document)
- Lembar Kerja (Lotus Symphony Spreadsheet)
- Presentasi (Lotus Symphony Presentation)
- OS Compatibility: Windows dan Linux
- Nilai Plus
- Murah dan di dukung salah satu perusahaan IT terbesar di dunia
- Tampilan menarik (buat mereka yang bosan tampilan itu itu juga)
- Berbasis Open Office, sehingga seluruh nilai Plus dan nilai Minus Open Office juga berada pada Lotus Symphony.
- ThinkFree
- Perusahaan: Haansoft
- Harga: $50 ( Client Desktop Version )
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor
- Lembar Kerja
- Presentasi
- OS Compatibility: Windows, Linux, Mac
- Nilai Plus
- Compatibility dengan document MS Office ( doc, docx, xls, xlsx, ppt, pptx)
- Ringan dan portable (tersedia versi web)
- ODF Compatible
- Harga lebih murah di banding MS-Office
- Concurrent license (web version)
- Nilai Minus
- Feature tidak selengkap aplikasi office lain.
- Belum cukup populer di Indonesia
Perbandingan mengenai aplikasi office juga dapat dibaca di wikipedia
Berapa modal buka warnet?
Kalau pertanyaan seperti ini diberikan kepada saya maka jawabnya: saya menghitung modal membuka warnet berdasarkan biaya per PC. Aneh-nya, tidak ada yang bertanya berapa biaya per PC investasi di warnet, yang banyak adalah: jika saya buka warnet dengan “n” pc berapa biayanya?
Nah, supaya tidak berlama-lama. Investasi membuka warnet adalah diseputaran Rp 7 juta/pc sampai Rp 10 juta/pc. Angka ini akan menyesuaikan diri dengan lokasi warnet. Di kota besar bisa jadi angka Rp 10juta/pc menjadi umum sementara kalau di kota kecil bisa jadi Rp 7juta/pc masih cocok. Sehingga, jika ingin membuka warnet dengan 10 PC misalnya, maka dibutuhkan modal antara Rp 70 juta sampai Rp 100 juta.
catatan: angka ini sudah mencakup semuanya ( komputer, meubeler, sewa tempat etc)
posting yang berhubungan: Capex Opex dan Harga Dasar/Modal Warnet
Panduan lebih lengkap dapat dibaca di Panduan Bisnis Warnet, Jika ingin menggunakan jasa kami dengan biaya yang sesuai dapat melihat jenis layanan di sini dan mengisi formulir yang disediakan
Memulai Usaha Warnet
Ini adalah sebuah komentar yang masuk di blog ini:
Yang sudah buka warnet, tolong di bantu dong kita2..seperti:
- berapa kira2 biaya listrik /bln?
- biaya koneksi per bulan?
- menurut kalian, apa usaha warnet kalian akan bertahan hingga 5 tahun kedepan?
- dibandingkan dengan jasa internet khusus game on line, apa lebih menguntungkan?
- kalau dirata2kan, 1 PC bisa berapa jam seharinya di pakai pelanggan?
Saya akan membahas pertanyaan di komentar ini secara umum, sebab beberapa jawaban sangat tergantung kondisi dan situasi warnet tersebut.
1. Biaya Listrik
Biaya listrik per bulan ditentukan oleh kebutuhan listrik dari warnet tersebut. Untuk memperkirakan biaya listrik yang wajar tentu harus di analisa dulu seberapa besar kebutuhan daya listrik. Sebagai contoh kasus kita coba menghitung berapa besar daya listrik yang diperlukan oleh warnet dengan konfigurasi berikut:
- PC : 11 unit @ 200 watt
- Monitor: 11 unit CRT 15″ @ 90 watt
- Printer: 1 unit inkjet @ 40 watt
- Scanner: 1 unit @45watt
- Lampu indoor: 4 buah TL @ 25watt
- Lampu outdoor: 2 buah TL @ 50watt
- AC: 2 buah @ 1,5 PK ( 1 pk = 746 watt, 1,5 pk = 1119 )
- Cooler: 1 unit @ 90 watt
Total kebutuhan daya adalah:
- PC = 11 x 200 = 2200 watt
- Monitor = 11 x 90 = 990 watt
- Printer = 1 x 40 = 40 watt
- Scanner = 1 x 45 = 45 watt
- Lampu indoor = 4 x 25 = 100 watt
- Lampu outdoor = 2 x 50 = 100 watt
- AC = 2 x 1119 = 2238 watt
- Cooler = 1 x 90 = 90 watt
- Total kebutuhan daya = 5803 watt
Dilihat dari paparan di atas maka daya listrik terpasang yang disarankan adalah minimal 6600 watt. Biaya listrik untuk daya sebesar itu biasanya berada di kisaran Rp 900.000 s/d Rp 1.500.000 per bulan. Banyak cara (yang halal) untuk menurunkan pemakaian daya listrik. Misalnya: menggunakan monitor LCD, mematikan pc/monitor yang tidak digunakan, mengatur suhu AC pada suhu yang tidak terlalu dingin ( 22 – 25 derajat celcius ).
2. Biaya koneksi per bulan.
Berbicara biaya koneksi, maka pilihannya beragam dan bergantung kepada lebar bandwidth, media koneksi, kualitas dll. Keterangan mengenai hal ini bisa dibaca di warnetpedia . Saran saya, tentukan dulu kebutuhan bandwidth anda baru berbicara biaya koneksi. Untuk biaya dapat dilihat dari situs-situs ISP di Indonesia.
3. Apakah usaha warnet bisa bertahan hingga 5 tahun ke depan?
Tentu bisa. Yang menentukan adalah kemampuan manajemen warnet tersebut apakah bisa bertahan menghadapi persaingan. Persaingan di sini harus dilihat secara general. Saingan warnet bukan cuma warnet tetangganya. ISP juga saingan warnet, sebab ada produk-produk layanan mereka yang bersaingan langsung dengan warnet. PC/Notebook murah juga saingan warnet. Kombinasi antara PC/Notebook murah dan Produk ISP yang murah atau akses Wifi gratis adalah ancaman yang nyata bagi keberadaan Warnet. Karena itu, warnet harus bisa menempatkan target pasar dan pelayanannya dengan tepat jika tidak ingin tersingkir dari persaingan.
posting yang berkaitan dengan hal ini: Prospek Bisnis Warnet
4. Mana lebih menguntungkan Warnet atau game online?
Pertanyaan ini sulit dijawab tanpa adanya data akurat. Pengalaman setiap orang bisa berbeda tetapi kita bisa menganalisanya sebagai berikut: Warnet biasanya tidak perlu spesifikasi komputer setinggi game center. Dari sisi harga, Warnet umumnya di atas game center yang justru membutuhkan spesifikasi komputer yang lebih tinggi. Namun, secara kasat mata, game center lebih ramai dari Warnet. Beberapa warnet juga menyediakan game online sebagai bagian dari pelayanan mereka. Saya kira inilah jalan tengah terbaik dengan catatan bahwa pengguna game dan warnet dipisahkan mengingat karakter keduanya sangat berbeda.
5. Tingkat Okupansi.
Tingkat okupansi yang umum adalah 7 – 9 jam. Di bawah 7 jam maka warnet itu terhitung sepi. Sementara di atas 9 jam warnet tersebut terhitung ramai (sekali). Jarang sekali ada warnet yang memiliki tingkat okupansi di atas 9 jam.
posting yang berhubungan: Capex Opex dan Harga Dasar/Modal Warnet
Bagi yang ingin berbisnis warnet tanpa repot menyusun RAB, Rencana Bisnis dan lain lain yang berhubungan dengan bisnis warnet silahkan klik http://irwinday.web.id/mau-bikin-warnet-hubungi-kami/
WarnetPedia – Ensiklopedi Warung Internet
Sejak Rabu 9 Januari 2008, saya mengaktifkan domain warnetpedia.web.id. Sesuai dengan namanya warnetpedia akan berisi wiki tentang warnet. Harapan saya komunitas warnet akan tertarik untuk ikut berkontribusi dan memberikan maanfaat bagi perkembangan komunitas warnet.
Memang situs ini tidak dipromosikan tapi diperkenalkan kekalangan terbatas dulu untuk menguji reaksi yang muncul. Sejauh ini positif. Ke depan akan saya pikirkan untuk ditempatkan di hosting tersendiri sebab saat ini masih numpang di domain irwinday.web.id.

Jalan-jalan ke Aceh
Tanggal 20 Nopember 2007 saya diundang oleh Depkominfo untuk memberikan presentasi pada acara Round table discussion on internet governance di Banda Aceh. Ada beberapa pembicara selain saya yaitu dari APJII, PANDI dan Pemda Setempat. Isi presentasi saya tidak banyak berubah dari presentasi yang saya tampilkan pada acara berjudul sama yang di laksanakan di MGK Kemayoran. Tentunya dengan perubahan pada last minute, di sesuaikan dengan kondisi daerah setempat.

Suasana sesaat sebelum Acara dibuka
Tantangan berat saya karena diberikan waktu presentasi paling akhir, tepat jam 12. Acara molor 30 menit dari jadwal dan Pembicara lokal yang diberi kesempatan pertama lupa (atau enggan?) diberi tahu oleh moderator. Syukurlah pada sesaat sebelum tampil terbersit ide untuk menyegarkan suasana
Dan karena memang suasana hati lagi enak dan santai (trimakasih kepada panitia atas layanan yang baik), presentasi yang singkat bisa berlangsung dengan segar dan menarik (duh narsis neh hehehe).
Setelah acara presentasi dilanjutkan dengan acara diskusi langsung antara panelis dan peserta. Sayangnya, tidak semua pembicara bisa ikutan berdiskusi. Dari rombongan Jakarta, tinggal saya dan Kang Azul yang tinggal untuk berdiskusi. Tema yang saya bahas adalah sustainability bagi telecenter/warnet.

Peserta Diskusi dilihat dari sisi Panelis
Yang saya dapatkan adalah antusiasme tinggi dari teman-teman di Aceh untuk mendirikan Warnet/Telecenter. Saya sempat memberikan ide-ide layanan yang bisa dikembangkan pada warnet/telecenter yang intinya adalah melihat kebutuhan masyarakat setempat. Juga saran-saran agar hati hati dalam mengelola warnet berdasarkan pengalaman teman-teman di daerah lain.

Kunjungan ke Aceh terasa (sangat) singkat, walaupun saya nginap dua malam namun kesempatan jalan-jalan melihat kota Banda Aceh tidak banyak. Malamnya saya sempat di ajak oleh adik saya yang sudah lama tinggal di Aceh naik becak motor cabriolet keliling kota dan makan Mie Aceh. Paginya sebelum ke airport diajak berfoto di Mesjid Agung
Mudah-mudahan lain waktu saya sempat berkunjung lagi ke Banda Aceh.









