Archive for the ‘opini’ Category
SMS Penawaran Tak Beretika dari NSP 1212 Telkomsel
Sebuah pesan masuk di inbox ponsel jam 19:18. Karena saya sedang mengurus persiapan acara buat esok hari, saya baru sempat baca setelah jam 22.00. Isinya benar benar menyebalkan, ini dia:
NSP 1212: PESTA BOLA pada 5 Juli 2010, Anda OTOMATIS menerima NSP Ayo Semangat-The Changcuters. GRATIS 7hr lalu Rp 3rb/2minggu lalu Rp 3rb/mggu. Utk menolak, Ketik NO SMS KE 1212 Read the rest of this entry »
Menyikapi RPM Konten Multimedia
Sejak terbitnya Siaran Pers No. 22/PIH/KOMINFO/2/2010 tentang Sikap Kementerian Kominfo Dalam Menyikapi Peningkatan Maraknya Penyalah-Gunaan Layanan Internet, ranah internet Indonesia menjadi bergejolak dan menanggapi Rancangan Peraturan Menteri tersebut sebagai usaha pemerintah mendirikan rezim sensor internet. Bagi mereka yang belum membaca RPM tersebut, silahkan unduh disini .
Seperti biasa, seiring tuduhan tersebut maka berkembanglah gerakan gerakan untuk menolak RPM tersebut di situs Social Networking, Media online dan tentu saja Media lainnya ramai membicarakan dan membahas soal RPM ini. Saya sendiri hingga hari Senin pagi ini (15/02/2010) belum sempat membaca RPM tersebut hingga telepon dari beberapa rekan pers yang akhirnya membuat saya “terpaksa” membaca RPM tersebut. Read the rest of this entry »
Warnet ini gunakan DNS Nawala?
Judul di atas sebenarnya adalah sebuah saran bagi orang tua, guru dan masyarakat yang peduli terhadap terhindarnya anak anak kita dari akses tidak sengaja ke konten negatif (pornografi, judi, phising, malware). Read the rest of this entry »
Menulis Artikel di Warta E-Gov
Sebelum melakukan perjalanan mengunjungi perkumpulan dan paguyuban Warnet di kota-kota di Jawa Timur, Pak Moksa dari Warta E-Gov menghubungi via sms meminta menuliskan sebuah artikel mengenai UU-ITE dan Pornografi. Sebenarnya waktunya cukup sempit untuk menyelesaikan artikel tersebut. Namun berhubung topik ini cukup menyita perhatian, ternyata bisa selesai sebelum berangkat ke Surabaya.
Terus terang saya agak kagok karena ada aturan yang harus di penuhi (7000 karakter), ini mungkin akibat kebiasaan menulis di blog yang seenaknya dan tanpa aturan
jadinya setelah selesai menulis dan menghitung karakter yang ada ternyata total ada 9000-an karakter :p . Akhirnya setelah potong sana sini, syarat 7000 karakter terpenuhi. Memang terasa ada yang terpotong dari artikel tersebut, namun apa boleh buat, syarat harus di penuhi.
Buat yang ingin membaca, artikelnya juga dimuat online di sini, kritikan dan saran ditunggu
WarnetPedia – Ensiklopedi Warung Internet
Sejak Rabu 9 Januari 2008, saya mengaktifkan domain warnetpedia.web.id. Sesuai dengan namanya warnetpedia akan berisi wiki tentang warnet. Harapan saya komunitas warnet akan tertarik untuk ikut berkontribusi dan memberikan maanfaat bagi perkembangan komunitas warnet.
Memang situs ini tidak dipromosikan tapi diperkenalkan kekalangan terbatas dulu untuk menguji reaksi yang muncul. Sejauh ini positif. Ke depan akan saya pikirkan untuk ditempatkan di hosting tersendiri sebab saat ini masih numpang di domain irwinday.web.id.

Prospek Bisnis Warnet
Tulisan ini berdasarkan diskusi yang terjadi di milis umum dan milis anggota awari , inti diskusi adalah mempertanyakan prospek dari bisnis warnet ke depan. Isi diskusi dapat dibaca dari arsip milis umum. Milis anggota awari adalah milis tertutup maka arsipnya hanya boleh dibaca oleh member milis tersebut.
Saya tidak memberikan opini apa apa dalam diskusi tersebut, kecuali memberikan beberapa angka yang umum dijadikan acuan di dalam menilai bisnis warnet. Selain itu, saya juga merasa sulit menuliskan pendapat saya dalam alur diskusi yang sudah terlanjur berjalan.
Analisa Prospek Warnet
Jika dipelajari lebih jauh, munculnya warnet di Indonesia disebabkan dua faktor:
- Terbatas dan mahalnya akses internet
- PC sebagai alat akses utama internet juga masih terhitung mahal bagi mayoritas penduduk di Indonesia.
Melihat kenyataan itu, maka bermunculan warnet-warnet yang memberikan solusi kepada kebutuhan akses internet yang terjangkau. Kedua faktor inilah yang sebenarnya harus diperhatikan oleh pebisnis warnet dalam melihat prospek usaha warnet.
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah akses internet dan pc saat ini sudah terhitung murah? Untuk Indonesia yang (sangat) luas ini, maka jawabannya bisa ya bisa tidak. Bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar (ex: Jakarta) harga berlangganan internet sudah sampai pada harga Rp 99.000/bulan/384Kbps/unlimited akses. Namun bagi mereka yang berada di ujung Papua sana bisa senilai 3 juta rupiah untuk 64kbps via VSAT.
Sehingga kesimpulan akhirnya adalah: harga akses internet belum terhitung murah untuk seluruh daerah di Indonesia.
Bagaimana dengan PC? Ini pun masih bisa menjadi perdebatan panjang. Namun harga PC masih berkutat di atas Rp2,5 juta yang menurut saya masih cukup mahal untuk mayoritas masyarakat Indonesia. Melihat dari jumlah kepemilikan PC dibanding jumlah penduduk pun terlihat jelas kenyataan ini. Kesimpulannya: PC juga belum terhitung murah bagi sebagian besar penduduk Indonesia.
Apakah ini berarti bisnis warnet masih prospek? Untuk menjawab ini, mari kita lihat lagi beberapa faktor yang bisa berpengaruh pada warnet:
- Mulai tersedianya akses Free Wifi/hotspot dimana-mana
- Penyediaan akses internet di Kampus
- Penyediaan akses internet di Kantor-kantor
- Mulai beroperasinya Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional)
Faktor-faktor di atas jika dilihat secara pesimistis bisa dianggap sebagai faktor yang akan menurunkan prospek bisnis warnet. Tapi bagi mereka yang optimis, hal-hal di atas justru memperkuat keberadaan prospek warnet sebagai bisnis. Mereka yang optimis ini menyadari keterbatasan dari akses internet di free wifi, kantor, kampus maupun sekolah (jardiknas) sehingga keterbatasan tersebut bisa dijadikan warnet sebagai daya tarik tersendiri agar pengakses tetap memilih warnet sebagai tempat akses internet. Berita di detikinet tentang ratusan hotspot yang ternyata tidak mampu memikat pengguna bisa menjadi acuan. Walau gratis, hotspot, akses di kantor, Kampus dan sekolah toh tidak bisa digunakan setiap saat, hanya pada jam tertentu saja.
Kembali ke laptop
eh..warnet; bagaimana jadinya prospek bisnis warnet ini? Saya melihat musuh utama Warnet adalah dirinya sendiri. Kurangnya visi dalam mengelola bisnis dan terjebak kepada asumsi-asumsi dan akhirnya terjebak ke lemahnya daya saing yang berujung ke bangkrut/tutupnya warnet. Lemahnya visi bisa dilihat dari tidak berubahnya model bisnis warnet dari tahun ke tahun. Sejak mulai kita mengenal warnet hingga sekarang, model bisnisnya tidak lebih dari menjual kembali/reseller akses internet.
Dari sisi pelayanan pun tidak berubah, bahkan cenderung statis. Ini tentu kontras dengan kenyataan bahwa internet sendiri adalah tempat dimana individu-individu saling terhubung, berinteraksi, berkolaborasi dan menghasilkan sesuatu layanan yang sulit dikerjakan secara individualistis. Kata “net” yang berarti jaringan tidak dihayati oleh warnet-warnet, mereka asik dengan keterkungkungan di tempat mereka (secara tidak sadar) justru terhubung dengan mudahnya.
Prospek atau tidak warnet bukanlah dari bisnis warnet itu sendiri, tapi bagaimana mengelola dan membawa bisnis itu menjadi sebuah layanan yang tetap dibutuhkan masyarakat. Inilah yang kurang digali oleh warnet-warnet. Sekali warnet mampu memberikan layanan (berbasis IP) yang bagus dan dibutuhkan oleh masyarakat maka prospek bisnis pun akan cerah.
Cuma syaratnya adalah: terhubung, interaksi, dan kolaborasi. Bukan berjalan secara individual.
Kepala Sakit Obatnya Belum Tentu Obat Sakit Kepala
Sakit kepala adalah suatu tanda bahwa dalam tubuh kita sedang tidak sehat pada titik tertentu. Sakit kepala bagaikan sebuah lampu alarm yang menyala jika terjadi sebuah ketidak beresan di sistem. Sehingga bila kita sakit kepala, obatnya belum tentu obat sakit kepala. Sebab bisa saja sakit kepala disebabkan oleh sakit gigi misalnya, atau memakan makanan yang memancing migren (kopi, coklat, teh) dsb. Hal seperti ini jika di obati dengan obat sakit kepala maka hanya menghilangkan sementara sakitnya namun sumber penyakit belum di obati. Ini sama halnya dengan mematikan bunyi alarm walaupun kejadian pencetus alarm tersebut masih berlangsung.
Kebiasaan membajak software adalah sama dengan sakit kepala. Kebiasaan tersebut bukanlah penyakit tapi akibat kondisi yang selama ini dibiarkan baik oleh aparat, sistem pendidikan dan pengambil kebijaksanaan. Semuanya baik secara sadar dan tidak, memiliki sumbangan dalam mengkondisikan kebiasaan tersebut. Sehingga, jika ingin kebiasaan membajak software tersebut menurun, maka bukanlah dengan mengobati “sakit kepala” alias mengejar para pengguna software bajakan, tapi dengan mengobati “penyakit sesungguhnya”.
Beberapa hal yang menyebabkan munculnya pengguna software bajakan:
1. CD/DVD Software Bajakan mudah didapat; Jika kita andaikan CD/DVD software bajakan ini adalah narkoba, maka penggunanya tentu adalah “korban”. Percuma menangkapi “korban” sebab “bandar” toh tersedia dimana-mana. Entah logika mana yang dipergunakan sehingga yang perlu dikejar adalah pengguna bukan produsen. CD/DVD Software bajakan ini bahkan dijual dengan terhormat di Mall-mall, pusat pertokoan dan juga di emperan kaki lima.
2. Harga software mahal tapi minus proteksi yang pantas; Kita semua tahu, kalau metoda pengamanan minimal sebuah mobil adalah: kunci. Sebuah mobil yang berharga mahal tentu memiliki sekedar kunci, tapi ada tambahan alarm. Alarm ini pun bervariasi, semakin mahal sebuah mobil semakin canggih dan sulit ditembus alarmnya. Tapi coba kita lihat di software, yang murah maupun yang mahal ternyata sama saja proteksinya. Cuma sebuah kode lisensi yang sangat mudah ditemukan di internet. Seharusnya semakin mahal sebuah software semakin canggih pula metoda proteksinya terhadap pembajakan. Anda bisa bayangkan kalo sebuah BMW seri 7 cuma di proteksi pakai kunci yang bisa dibuat duplikatnya di tukang kunci pinggir jalan.
3. Pendidikan tidak pernah mengajarkan mahalnya harga software; Pendidikan, baik itu formal maupun informal/kursus tidak pernah memberikan informasi berapa harga software yang mereka ajarkan. Seandainya harga software ini selalu dijadikan informasi ke siswa-siswa, maka otomatis logika mereka akan terpancing untuk lebih menghargai HaKI. Memang harus diakui, jika mereka paham bahwa software mahal tersebut dapat di subtitusi oleh software lain yang nyaris gratis seperti FOSS maka tentu hal ini bukan pilihan yang menarik.
4. Tidak ada layanan pembiayaan bagi pengadaan software; sampai saat ini masih banyak yang bingung harus dikategorikan apa sebuah software. Jika di kategorikan sebagai barang, maka tentu harus ada wujudnya. “wujud” sebuah software paling nyata adalah media seperti CD/DVD, padahal “unjuk kerja” sesungguhnya adalah pada saat digunakan di Komputer. Hal seperti ini menyebabkan umumnya perbankan atau lembaga finansial tidak mendukung pembiayaan untuk software. Kebingungan ini bisa di mengerti, sebab jika kredit macet apa yang bisa di sita? Kalau gedung, tanah, mobil, jelas wujudnya. Kalau software? Walaupun begitu, kita bisa mendefinisikan wujud software ini jika kita bisa memberikan jaminan seperti kode lisensi, sayang model kode lisensi ini juga rapuh karena mudahnya dibajak. Juga, umumnya software bukanlah barang yang mudah di jual kembali.
Diluar semua itu, saya juga berpendapat bahwa pembajakan software ini memang sengaja dikondisikan. Yang terbayang adalah: jika software-software proprietary ini sulit ditemukan CD/DVD bajakannya dan setelah ditemukan masih tetap sulit di install karena tingkat proteksi yang tinggi maka tentu terjadi penurunan jumlah pengguna software bajakan tersebut. Akibatnya adalah pengguna yang memang butuh dan mampu akan beli, tapi mereka yang butuh tapi tidak mampu akan memilih software lain yang terjangkau dan memenuhi kebutuhan mereka. Tapi, apa para software giant ini mau? Mendingan kayak sekarang
bisa berkoar dimana-mana bahwa pembajakan tinggi, supaya ada alasan buat terus menerus ngasih obat sakit kepala padahal yang sakit gigi yang berlubang.
The OpenCD menjadi OpenDisc
Free Open Source Software (FOSS) biasanya identik dengan Linux. Sehingga kaum Windower (windows user) kadang tidak menyangka bahwa mereka pun bisa memanfaatkan FOSS dengan segala kelebihannya. Hal ini wajar saja, karena di awalnya, aplikasi-aplikasi FOSS hanya tersedia di platform Linux/Unix. Seiring dengan meningkatnya kualitas aplikasi-aplikasi FOSS maka banyak permintaan agar aplikasi tersebut juga bisa digunakan di platform Windows. Hal ini lah yang menyebabkan saat ini aplikasi-aplikasi yang populer di platform Linux tersedia juga di platform Windows.
Masalahnya adalah: Aplikasi tersebut tersebar di internet dan pengguna harus mendownload satu persatu aplikasi yang dibutuhkan. Open CD Project mencoba memudahkan dengan menyatukan aplikasi-aplikasi yang populer dan berkualitas (dan tentu saja: bebas!) ke dalam satu CD. Saya termasuk orang yang sering menyarankan penggunaan FOSS dan yakin bahwa interfensi aplikasi FOSS ke platform Windows adalah cara yang jitu untuk menurunkan ketergantungan terhadap aplikasi proprietary.
Saat ini Open CD Project sudah tidak diteruskan lagi pengembangannya. Situsnya masih aktif seperti yang bisa dilihat di screenshot di bawah. Namun teknologinya tetap ada yang meneruskan, ini khas dunia Open Source. Tutupnya sebuah project bukan berarti kiamat.
Situs The OpenCD Project
Yang paling mendekati dari model Open CD Project ini adalah OpenDisc. Bahkan versinya pun mengikuti Open CD Project. Versi OpenCD terakhir adalah 7.04, sementara versi terbaru (dan pertama) dari OpenDisc adalah 7.10 . Bagi penggemar Ubuntu nomer versi ini tentu terasa familier
. Kalau sempat perhatikan, di CD Ubuntu (sampai 7.04) selalu terselip aplikasi FOSS under Windows alias Open CD Project
Apa hubungannya dengan Warnet? Warnet umumnya masih enggan menggunakan linux tapi cuma mampu membeli lisensi OS. Walaupun OS sudah Original, namun tidak berarti apa apa tanpa aplikasi. Karena tidak mampu membeli lisensi aplikasi yang mahalnya tak terkira tersebut maka Open CD Project (sekarang OpenDisc) adalah solusinya. cukup download ISO atau torrent-nya, burn ke CD dan nikmati aplikasi-aplikasi bermutu yang bebas pakai.
Situs OpenDisc
Yang menarik adalah: OpenDisc tersedia juga dalam versi Edukasi dengan nama OpenEducationDisc. Isinya? Tentu saja aplikasi-aplikasi untuk pendidikan. Jadi bagi mereka pengguna Windows yang ingin menikmati FOSS namun masih ragu berpindah ke Linux, nikmati dulu versi Windows-nya. Satu waktu jika anda bosan dengan Windows karena terlalu banyak gangguan virus, malware, spyware (baik resmi atau tidak) atau mau berhenti membajak os :p maka pindah ke Linux sudah bukan masalah besar karena anda sudah familier dengan aplikasi-aplikasi FOSS
Sustainability Warnet made in Pemerintah
Istilah “Warnet” merupakan istilah khas Indonesia bagi “Internet Kiosk”. Warung adalah kalimat yang sangat akrab bagi telinga kita. Karena itulah ketika banyak anak-anak Muda mulai membuka usaha berjualan layanan internet maka mereka memberi nama “Warung Internet” bagi usahanya.
Bicara mengenai istilah yang akrab di telinga kita, apakah ada yang akrab dengan istilah-istilah berikut:
- Community Access Point
- Warmasif
- Warintek
- BIM (Balai Informasi Masyarakat)
- Telecenter
Istilah tersebut adalah warnet-warnet Made in Pemerintah
kalau terdengar tidak akrab ditelinga, tidak usah heran karena memang dalam kenyataan sehari-hari juga sulit menemukan mereka dibanding menemukan sebuah warnet. Namun fokus tulisan ini bukanlah pada apakah warnet-warnet made in Pemerintah tersebut populer atau tidak, tapi lebih pada apakah warnet-warnet tersebut bisa bertahan atau tidak.
Sistem anggaran Pemerintah kita tidak mengenal anggaran jangka panjang. Semua anggaran adalah rencana tahunan. Sehingga setiap tahun, jika “nasib baik” maka anggaran tersebut masih turun, jika tidak maka bisa dipastikan program tersebut akan berhenti. Faktor inilah yang menjadi keprihatinan, karena warnet-warnet made in Pemerintah ini umumnya masih bergantung kepada subsidi anggaran dan belum bisa berdiri sendiri seperti umumnya warnet-warnet yang dikelola masyarakat.
Pemerintah perlu mencontoh para pengusaha warnet yang tanpa subsidi, tanpa bantuan lembaga keuangan, dikelilingi oleh oknum-oknum pemerintah yang setiap saat datang dengan tameng “pajak daerah”, HaKI dan bentuk represi lainnya tapi toh tetap bisa hidup dan bertahan dan malah berkembang lebih dari bentuk awalnya. “Sustainability” inilah yang sesungguhnya harus dilirik oleh Pemerintah dalam mengelola warnet-warnet mereka. Sayang sekali jika warnet yang telah didirikan dan biasanya diiringi dengan seremoni yang meriah akhirnya tutup satu tahun kemudian hanya karena anggarannya tidak mengucur lagi.
Usulan lain: berhentilah memberikan nama-nama asing dan terdengar aneh di masyarakat. Gunakan saja nama “warnet” karena akan lebih memudahkan masyarakat untuk tahu apa sesungguhnya yang berada pada tempat tersebut.
Berita Judi di Warnet
Hari ini ada dua email yang menarik perhatian. Yang pertama di milis anggota awari (milis ini sifatnya tertutup), Sdr. Yusuf Caesar bercerita mengenai bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk menutup akses ke sebuah situs judi online. Bravo buat Pak Yusuf, sebagai anggota resmi Awari, anda sudah melakukan tindakan sesuai dengan kode etik Warnet Awari. Semoga warnet anggota Awari yang lain juga melakukan hal yang sama dengan beliau
Yang kedua, adalah email yang saya tampilkan di blog ini juga. Dari Sdr. Rollin di Pekanbaru, di posting di milis umum Awari ( milis ini sifatnya terbuka
). Emailnya berisi protes terhadap berita di detik.com.
Apa yang saya lakukan terhadap email yang kedua ini? Saya melakukan cross check ke detik via Donny BU, sekedar pemberitahuan bahwa berita tersebut di sanggah di milis dan saya mengirimkan email sanggahan tersebut ke Donny. Saya juga mengkontak narasumber di Pekanbaru untuk memberikan informasi yang bisa memberikan gambaran seperti apa Sdr Rollin/ Metronet. Hasilnya cukup mengagetkan, saya posting mengenai hal ini di milis anggota Awari. Namun saya memilih untuk tidak memuatnya di blog maupun di milis-umum dengan pertimbangan tertentu, sebab informasinya bersifat sensitif.









