Archive for the ‘opini’ Category
Trims Untuk para Komentator :)
Sejatinya Blog memang tidak pernah lepas dari peran para komentator, dan idealnya pemilik blog menyempatkan diri untuk memberikan tanggapan kepada komentar yang telah di berikan. Sebagai pemilik blog, saya berterimakasih kepada semua yang telah meluangkan waktu membaca dan menuliskan komentarnya. Terus terang ada beberapa komentar yang mencerahkan dan memberikan saya pandangan lain.
Dengan posting ini saya juga meminta maaf karena tidak selalu sempat memberikan tanggapan terhadap komentar yang masuk. Insya Allah kedepan saya berusaha agar bisa memberikan tanggapan kepada setiap komentar. So Keep On Comment Guys
Warnet tanpa PC
Tahun lalu saya memberikan ide kepada Taufik “Mpiq” tentang sebuah konsep warnet yang melenceng dari warnet yang ada sekarang. Pudjo, dalam sebuah postingnya baru baru ini juga mengeluarkan ide yang kurang lebih sama. Supaya di mengerti, konsep warnet umumnya adalah menyediakan PC dan koneksi internet kemudian pengguna membayar dalam hitungan waktu.
Ide yang saya berikan adalah sebuah warnet yang seolah-olah tidak menyediakan PC, sehingga lebih terlihat sebagai kafe yang sesungguhnya. Sehingga setiap kali masuk ke warnet tersebut maka memesan minuman dan makanan kecil adalah keharusan. Akses internet seakan-akan free namun sesungguhnya sudah masuk di dalam harga makanan dan minuman. Bagaimana buat mereka yang cuma mau mengakses internet? Ya bisa saja, namun dengan harga yang membuat mereka lebih memilih memesan makanan dan minuman kemudian dapat akses ke internet daripada menggunakan internet saja.
Bagaimana jika mereka mengakses lama dan memesan minuman / makanan seadanya? Tenang, ada namanya syarat dan kondisi
atur saja bahwa dengan memesan minuman / makanan X mendapatkan hak akses selama Y atau ada ide lain?
Bagaimana dengan perangkat akses? Sebaiknya perangkat akses tidak langsung terpasang, tapi nanti dibutuhkan oleh pelanggan baru diberikan. Dengan harga yang semakin murah dan performance notebook yang semakin bagus, saya yakin hal ini bisa dilakukan. Atau kita membiasakan pelanggan kita untuk membawa perangkat aksesnya sendiri
yang namanya HP dan PDA sekarang rata-rata punya Wifi.
Tapi ini cuma ide saja dan saya belum membuat sebuah hitung-hitungan bisnis apapun. Saya membaginya dengan berharap ada yang bisa memanfaatkan ide ini dengan baik
atau bertukar ide lain.
Jangan lupa: gunakan FOSS dan jangan membajak perangkat lunak
Membajak Software itu melanggar hukum
Dalam setiap permasalahan sering kita terbawa oleh sebuah kondisi dimana permasalahan tersebut menjadi sangat kompleks dan rumit. Pada situasi seperti ini, sering muncul pendapat dan opini yang justru membawa kita makin jauh dari masalah yang sebenarnya.
Ambil contoh dalam permasalahan sweeping di warnet. Berbagai pendapat dan opini muncul dan pada akhirnya justru mengaburkan permasalahan sebenarnya. Silahkan baca arsip milis umum Awari di bulan Agustus 2007 ini, kita akan membaca berbagai pendapat yang simpang siur.
Padahal inti permasalah sederhana: membajak itu melanggar hukum dan pelanggar hukum terancam hukuman yang sudah diatur di dalam Undang-Undang.
Supaya tidak terancam hukuman? Ya jangan membajak, toh ada solusi. Jangan manja, jangan cengeng. Jadi pengusaha kalo tidak mau berkeringat, susah, makan hati lebih baik berhenti dan cari pekerjaan lain. Tidak ada kesuksesan yang datang sendiri, semua dengan kerja keras.
Jadi nggak usahlah berpendapat dan beropini macam-macam, mengajak protes, ngumpulin ormas-ormas, membawa isu ke ranah politik, menstigma sebagai penjajahan negara Asing, minta pemerintah berusaha dapat diskon dan lain lain. Belajarlah untuk menghormati aturan.
Bagaimana dengan ekses sweeping? Ya kalau anda merasa benar dan Aparat menyalahi prosedur atau berbuat salah, gunakanlah jalur Hukum. Pra-Peradilankan.
Warnet dalam Angka dan Statistik
Pada hari Kamis 12 Juli 2007 saya di minta mewakili Awari dalam acara Round Table Discussion di MGK Kemayoran. Setelah berkonsultasi dengan sesama Pengurus Awari, akhirnya saya memutuskan untuk membawakan presentasi mengenai angka dan statistik warnet Indonesia.
Melihat angka-angka di dalam presentasi ini mungkin terasa cukup bombastis, namun angka itu muncul tidak begitu saja, namun berdasarkan forecasting dari perkembangan dunia internet di Indonesia. Sebagian angka itu memang sulit didapatkan Pemerintah karena banyak pelaku bisnis internet di Indonesia yang tidak tercatat kegiatannya disebabkan sulitnya mereka masuk ke dalam tatanan industri.
Presentasi tersebut dapat di download di situs Awari dan tersedia dalam format .odp dan .pdf
Pilihan Legal itu Makin Sedikit
Sejak kejadian sweeping di Malang, warnet-warnet makin resah. di Malang sendiri, mereka yang tidak kena sweeping pun akhirnya memilih tutup dan “membersihkan” piranti-piranti lunak bajakan di PC mereka sebelum buka lagi.
Kelihatannya warnet-warnet memang sudah waktunya tidak menggantungkan dirinya pada piranti-piranti lunak bajakan dan belajar menghargai HAKI. Ini terdengar basi, namun kenyataannya walau telah sering di informasikan melalui media, milis dan berbagai kegiatan sosialisasi lainnya, pembajakan piranti lunak seolah lekat dengan warnet.
Sebenarnya secara persentasi, Warnet boleh dibilang terbaik dalam hal penggunaan piranti lunak yang legal. Dari sisi warnet-warnet para pengurus Awari sendiri tingkat legalitasnya sudah mencapai 90% mengacu pada email Bill Fridini di milis umum Asosiasi Warnet. Dari munas Awari juga hal yang sama terekam dalam ingatan saya, tidak ada peserta munas yang warnetnya full bajakan, minimal mereka sudah mencapai tingkat legalitas 50%.
Saya sering mendapatkan pertanyaan: seperti apa sih pilihan yang tersedia dalam penggunaan piranti lunak ( yang legal )?
Pilihan yang tersedia ada 3:
- Penggunaan penuh piranti lunak propietary
- Penggunaan penuh piranti lunak FOSS
- Kombinasi keduanya
Saya biasanya menyarankan bagi warnet yang tingkat keahlian SDM-nya belum menguasai OS Linux agar menggunakan pilihan ke 3, dimana OS-nya menggunakan Windows XP Home, sementara Aplikasinya menggunakan yang berbasis FOSS ( OpenOffice, GIMP, Inkscape, ClamWin, Gaim ). Hal ini saya sarankan sebab melihat kenyataan bahwa harga Windows XP Home masih cukup terjangkau oleh finansial warnet umumnya.
Namun, dari informasi terakhir yang saya dapatkan: Windows XP Home sudah di discontinue penjualannya. Yang tersedia di pasaran saat ini adalah XP Pro, versi yang memang lebih canggih dari XP Home namun dibarengi dengan harga yang lebih tinggi pula.
Setelah menganalisa harga XP Pro, saya sampai pada kesimpulan: Secara finansial, Warnet akan berat untuk menggunakan XP Pro. Artinya: pilihan untuk Legal akan mengecil ke Pilihan no. 2, yaitu penggunaan OS Linux.
Bagi mereka yang sudah memiliki lisensi XP Home, masih bisa bernafas lega. Bagi mereka yang dulu belum ataupun tidak mau membeli lisensi, silahkan berpikir keras, sebab pilihan itu makin kecil dan berat.
Secara pribadi, saya menginginkan pilihan no.2 yang di ambil oleh warnet. Namun pilihan itu cuma aman jika penegakan hukum berlangsung terus menerus dan tidak memberikan kesempatan bagi warnet-warnet lain menggunakan piranti lunak bajakan. Jika tidak, maka mari kita tunggu episode matinya warnet-warnet di Indonesia baik mereka yang telah Legal ( karena kalah bersaing ) maupun mereka yang membajak ( karena di sweeping ).
Iklan Terselubung – Biaya Investasi Warnet
Sebuah komentar masuk ke postingan Untungkah membuka warnet? , seperti biasa: ini adalah iklan terselubung dan sebenarnya sangat menyebalkan, tapi saya tidak menghapus link di iklan terselubung ini, karena ada yang menarik untuk di kaji.
Link tersebut menuju sebuah halaman yang terdiri dua dokumen ( Word dan Excel ) yang berisi penawaran tentang warnet. Mau tahu yang menarik? saya perlihatkan sebuah screen shot dari dokumen tersebut:
Bagaimana mungkin saya mempercayai orang yang memberikan harga Windows XP Rp 25.000? Sudah pasti indowireless.net adalah perusahaan yang tidak memperhatikan masalah HAKI dan akan menjadi jebakan bagi orang yang memberikan kepercayaan kepada mereka untuk membangun warnetnya.
Berikutnya, sebelum beriklan di Blog saya, pastikan tawaran anda benar dan logis, walau tidak banyak yang membaca blog ini, namun pembaca blog ini adalah orang-orang yang fokus, seperti tujuan utama membuatnya, bukan membahas segala macam. Hanya warnet dan IT.
Menggunakan Linux sebagai Desktop Warnet
Mampukah Linux digunakan sebagai Desktop di Warnet? Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Untuk menjawabnya saya perlu waktu lama, itupun saya belum yakin benar sebelumnya akhirnya saya mendapatkan beberapa kisah sukses menggunakan Linux sebagai Desktop di Warnet.
Kita mulai dengan mereka yang sukses. Mereka yang berhasil tersebut ada di:
- Makassar
- Semarang
- Banten
Mereka yang gagal? Banyak.
Untuk yang gagal, alasannya terlalu banyak untuk disebutkan. Namun rata-rata punya alasan yang sama: Linux tidak bisa bersaing di pasar warnet dengan Windows.
Namun, jika memang itu alasannya mengapa tetap ada yang berhasil?
Setelah mencari apa benang merah antara warnet-warnet yang ada di ketiga kota yang saya sebutkan diatas maka kesimpulannya adalah sbb:
Warnet-warnet yang sukses menggunakan Linux di Desktop-nya punya satu kesamaan: Memiliki tenaga Ahli yang benar-benar menguasai penggunaan Linux. Atau minimal, memiliki dukungan yang baik dari orang yang menguasai Linux. Berikut, warnet tersebut memiliki tingkat pelayanan yang lebih dari warnet lain.
Jika mengatakan warnet linux tidak bisa bersaing dengan Warnet Windows, rekan saya di Makassar warnetnya berada persis di tengah-tengah warnet-warnet Windows dan sekarang dia sudah melebarkan usaha warnet-nya menjadi tiga buah. Kuncinya? Sama, tenaga ahli dan pelayanan.
Jadi, sebelum anda mampu dan yakin dengan kedua hal tersebut jangan menggunakan Linux di Desktop, sebab anda akan menambah angka kegagalan warnet yang menggunakan Linux di Desktop.
Tapi, setahu saya, warnet-warnet pengguna Windows juga bukan jaminan berhasil.
Kemana bertanya soal warnet?
Jawabnya:
- Bertanya ke saya, pemilik blog ini
, pertanyaan anda akan menjadi bahan tulisan di blog ini ( sekalian aja gitu..) - Bertanya ke milis umum AWARI di yahoogroups
- Cari teman yang sudah punya warnet
- Jadilah anggota AWARI ( loh kok…malah ngiklan
)
Soal buku panduan, memang belum selesai karena waktu yang sangat terbatas, niatnya sudah sampai di ubun-ubun, sebagian tulisan sudah selesai sebagian besar belum
sabar yah…
Jangan beriklan di Blog ini
Orang yang suka nyasar spam di Blog orang lain entah harus di apakan. Blog ini, saya khususkan untuk membicarakan warnet dan IT dari sisi “berbagi pengalaman” dan “Opini”. Saya sama sekali tidak berniat untuk mempromosikan diri saya sebagai konsultan warnet maupun sebagai penyalur perangkat komputer. Blog ini murni untuk berbagi pengetahuan dan informasi.
Sayang, sebagian komentator memanfaatkan blog untuk mengiklankan dirinya, sangat tidak sopan. Sebagai “penghargaan” saya tidak menghapus komentar mereka tapi saya edit sedikit agar informasi yang di masukkan seperti alamat email dan nomor telpon menjadi tidak berguna :p . Kira kira dong… masa pasang iklan di rumah tetangga, kalau mau menawarkan diri bikin aja blog mu sendiri dan tawarkan disana.
Mencari Harga Minimum
Salah satu pertanyaan yang sering muncul di milis umum awari adalah: “Berapa sebaiknya harga jual ke user?” Ini adalah pertanyaan menarik, sebab akan menuai banyak jawaban.
Harga jual di warnet bermacam-macam dan rentangnya dari Rp 2500/jam hingga Rp 8500/jam. Tentu saja setiap pengusaha punya rumus tersendiri dalam menyikapi harga jual. Namun sebenarnya ada patokan umum yang bisa kita gunakan untuk mencari tahu batasan harga jual yang wajar itu.
Yang paling penting kita cari adalah: pada harga berapa sebenarnya modal kita? Berikut adalah rumusan sederhana mencari harga jual:
Variabel:
-
Nilai Investasi
-
Jumlah PC
-
Masa Sewa Tempat
-
Biaya Operasional/bulan (rata-rata)
-
Masa Operasional (hari)
-
Efisiensi.
Misalkan sebuah warnet dengan Nilai Investasi : Rp 150 juta, memiliki 15 buah PC, dan Masa Sewa Tempat adalah 36 bulan ( 3 tahun ). Rata-rata Biaya Operasi warnet tersebut dalam sebulan adalah dikisaran Rp 9.500.000,-. Warnet tersebut beroperasi selama 30 hari/bulan @18 jam dengan tingkat efisiensi adalah 7 jam. Maka untuk mencari harga minimum adalah sbb:
-
Investasi: Rp 150.000.000
-
Jumlah PC: 15
-
Masa Sewa Tempat: 36 bulan
-
Biaya Operasional: Rp 9.500.000,-
-
Masa Operasional/bln: 30 hari
-
Efisiensi: 7 jam
catatan: efisiensi adalah jangka waktu dimana seluruh PC pada warnet tersebut terpakai semua. Walaupun sebuah warnet buka selama 18 jam/hari namun tidak setiap saat PC yang tersedia terpakai semua. Biasanya nilai ini dari 6 sampai 9, di bawah 6 berarti warnet tersebut sangat sepi, sementara di atas 9 jarang terjadi.
Maka rumusnya adalah:
Min Harga= (( Investasi/Masa Sewa )+ Biaya Operasi)/(Masa Operasi*Efisiensi*jumlah PC)
Jika nilai variabel di atas di masukkan kedalam rumus,
(( Rp 150.000.000/36)+Rp 9.500.000)/(30*7*15) = Rp 4.338,6
Harga yang keluar adalah harga modal, dan tanpa perhitungan bunga bank (ingat ini adalah perhitungan sederhana) namun cukup memberikan kita gambaran berapa batas terbawah harga yang bisa kita berikan. Sederhananya jika mau untung, tentu harus menjual di atas nilai yang keluar dari rumusan di atas.
Variabel yang paling menentukan adalah efisiensi, sebab biasanya jumlah PC, Biaya Operasi dan Investasi tidak akan berubah banyak. Contohnya, peningkatan nilai efisiensi dari 7 ke 8 akan menghasilkan keluaran: Rp 3.796,3.
Silahkan memasukkan nilai variabel sesuai dengan kondisi warnet anda dan lihat apakah warnet anda tidak menjual dibawah modal dan mengakibatkan warnet anda merugi.







