Archive for the ‘warnet’ Category
Analisa Model Pentarifan Warnet
Model pentarifan warnet sampai hari ini masih tidak berubah sejak pertama kali warnet muncul di Indonesia. Modelnya adalah tarif flat. Secara umum diinformasikan sebagai tarif per jam pemakaian. Kalaupun ada variasi diskon, biasanya diterapkan pada member ataupun jam-jam tertentu yang sepi pengunjung. Tulisan ini adalah ajakan kepada pelaku bisnis warnet agar lebih bisa memberdayakan model tarif sehingga dapat didapatkan keuntungan yang optimal tanpa mengurangi tingkat layanan.
Saya mencoba membandingkan model pentarifan warnet dengan dua buah industri yang hampir mirip dengan warnet, yaitu penerbangan dan perhotelan. Kedua industri tersebut bergantung kepada satu hal: okupansi. Okupansi inilah yang menentukan model pentarifan. Pada dunia penerbangan, kita sudah terbiasa dengan tiket murah yang terbatas sampai pada seat tertentu dan jika seat tersebut telah terisi maka tarif akan bergerak naik. Kita juga sudah terbiasa pada kenyataan bahwa dimusim-musim tertentu harga tiket akan mencapai tingkat premium karena terbatasnya kapasitas yang tersedia. Perhotelan pun melakuan hal yang sama. Mereka biasanya punya perhitungan bahwa sampai persen kapasitas tertentu maka sudah mencapai titik impas dan seterusnya adalah keuntungan.
Sekarang kita tinggal pilih, apakah setelah mencapai titik impas tersebut tarif diturunkan atau sebaliknya dinaikkan?
Pada warnet inilah yang kurang diperhitungkan. Seharusnya setiap warnet memiliki perhitungan jangka panjang dan jangka pendek. Perhitungan jangka panjang tentu mencakup target titik impas dalam perhitungan tahun atau bulan dan perhitungan jangka pendek adalah mencakup titik impas dalam harian. Perhitungan jangka panjang bisa membantu kita dalam menerapkan batasan pada perhitungan jangka pendek kita.
Bagi warnet yang sudah berjalan tahunan, tentu mereka telah memiliki data-data okupansi yang cukup untuk dijadikan studi. Trend pengunjung dapat dipelajari sehingga kita mengetahui bulan apa saja pengunjung penuh sampai antri dan bulan apa saja pengunjung sepi. Data bulanan ini kita perkecil lagi menjadi data harian. Sehingga kita bisa mengetahui pada tanggal-tanggal berapa saja warnet okupansinya tinggi dan hari apa saja okupansinya rendah. Data harian ini kita perkecil lagi menjadi data per-jam, sehingga kita mengetahui trend okupansi tersebut hingga ke jam per jam.
Bagaimana kita menghubungkan trend dari data-data tersebut di atas ke dalam pentarifan? Mudah saja. Dengan mengetahui trend, maka kita bisa mengatur tarif kita misalnya: pada saat trend naik (berdasarkan studi data) maka tarif diangkat sampai pada taraf premium dan pada saat trend turun, maka tarif bisa kita tarik turun sampai pada ambang titik impas. Tentu saja, anda bisa saja melakukan hal sebaliknya: Tarif turun pada saat ramai dan tarif naik pada saat sepi.
Dengan model pentarifan ini anda akan bisa memecah pelanggan anda menjadi dua macam: mereka yang sensitif harga dan yang tidak sensitif. Mereka yang sensitif kepada harga tentu akan memilih mengakses pada jam murah dan yang tidak sensitif akan memilih kapan saja mereka perlu akses tanpa memperhatikan tingkat tarif.
Keuntungan dari mengetahui tipe pelanggan akan membantu kita menerapkan tingkat layanan dari level normal hingga premium. Dan yang paling utama: kita memiliki model pentarifan yang terencana dan terstrategi dengan baik yang ujung-ujungnya memberikan layanan optimal kepada pelanggan dan keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan.
OS Wars: The Battle for Your Desktop
menuliskan sebuah feature yang menarik di PC Magazine mengenai perang OS di desktop. Untuk membacanya silahkan klik di sini. Hasil akhirnya silahkan lihat dibawah
Aplikasi Perkantoran untuk Warnet
Aplikasi perkantoran merupakan aplikasi yang penting di warnet setelah aplikasi internet. Namun tidak seperti aplikasi internet dimana software yang populer justru bebas di download dan digunakan (ex: Mozilla Firefox), aplikasi perkantoran yang populer saat ini adalah salah satu perangkat lunak yang terhitung mahal.
Aplikasi perkantoran yang sebenarnya tidaklah terbatas, namun tidak banyak yang mampu untuk berjalan di semua platform/OS atau minimal tersedia di dua platform populer di warnet: OS Windows dan OS GNU-Linux. Di bawah ini saya mencoba memberikan perbandingan terhadap 4 buah aplikasi perkantoran yang cocok untuk digunakan di warnet.
- Microsoft Office 2007 (Home and Student FPP)
- Perusahaan: Microsoft
- Harga:$157
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor ( Word )
- Lembar Kerja ( Excel )
- Presentasi ( Powerpoint )
- OS Compatibility: Win XP, Mac
- Nilai Plus:
- Popularitas
- Nilai Minus:
- Mahal
- Format document baru tidak kompatibel bahkan untuk sesama produk MS ( Office 2003, Office XP )
- Perlu MSRA
- User Interface baru membutuhkan waktu untuk dipelajari
- Butuh RAM yang besar (min. 512 MB) untuk performa yang bagus
- Open Office
- Perusahaan: Sun Microsystem
- Harga: $0 ( Download dari openoffice.org )
- Lisensi: LGPL
- Paket:
- Word Processor ( Writer )
- Lembar kerja ( Calc )
- Presentasi ( Impress )
- Grafis ( Draw )
- Database ( Base )
- OS Compatibility : Windows, Linux, Unix, Mac
- Nilai Plus:
- Murah dan mulai populer
- Multi OS
- Paket aplikasi lengkap
- Kemampuan membaca dokumen aplikasi lain
- Kemiripan User Interface dengan MS Office
- format dokumen ODF
- Stabilitas
- Nilai Minus:
- Familiarity butuh waktu.
- Butuh RAM yang cukup besar ( Min. 256 MB ) untuk performa yang bagus
- Loading aplikasi lama walaupun saat berjalan normal kembali.
- Lotus Symphony
- Perusahaan: IBM
- Harga: $0 ( Free Download di symphony.lotus.com)
- Lisensi: Eclipse Public License
- Paket:
- Word Processor (Lotus Symphony Document)
- Lembar Kerja (Lotus Symphony Spreadsheet)
- Presentasi (Lotus Symphony Presentation)
- OS Compatibility: Windows dan Linux
- Nilai Plus
- Murah dan di dukung salah satu perusahaan IT terbesar di dunia
- Tampilan menarik (buat mereka yang bosan tampilan itu itu juga)
- Berbasis Open Office, sehingga seluruh nilai Plus dan nilai Minus Open Office juga berada pada Lotus Symphony.
- ThinkFree
- Perusahaan: Haansoft
- Harga: $50 ( Client Desktop Version )
- Lisensi: Proprietary
- Paket:
- Word Processor
- Lembar Kerja
- Presentasi
- OS Compatibility: Windows, Linux, Mac
- Nilai Plus
- Compatibility dengan document MS Office ( doc, docx, xls, xlsx, ppt, pptx)
- Ringan dan portable (tersedia versi web)
- ODF Compatible
- Harga lebih murah di banding MS-Office
- Concurrent license (web version)
- Nilai Minus
- Feature tidak selengkap aplikasi office lain.
- Belum cukup populer di Indonesia
Perbandingan mengenai aplikasi office juga dapat dibaca di wikipedia
Cara cepat blok Situs Porno: Gunakan OpenDNS
UPDATE: Untuk rekan rekan yang membutuhkan filter pornografi, judi, malware, phising sebaiknya memanfaatkan Nawala Project, sebab server-servernya berada di Indonesia dan di Optimalkan untuk Jaringan Internet Indonesia. Silahkan mengganti setting DNS rekan rekan sekalian ke:
- 180.131.144.144
- 180.131.145.145
==========================================
Ternyata ada cara cepat untuk menghalangi akses ke situs-situs porno bagi warnet. Gunakan saja layanan OpenDNS. Walaupun layanan ini telah ada sejak tahun 2006, namun saya tidak menyadari sampai sebuah komentar masuk di posting mengenai filter pornografi.
Warnet yang menggunakan IP statik akan mudah menggunakan layanan ini. Cukup melakukan registrasi pengguna dan daftarkan IP warnet anda. Langkah selanjutnya adalah mengganti DNS warnet anda ke:
- 208.67.222.222 (resolver1.opendns.com)
- 208.67.220.220 (resolver2.opendns.com)
Yang harus di perhatikan: OpenDNS melakukan blok pada situs-situs luar negeri/US. Untuk situs-situs Indonesia, warnet bisa melakukan kustomisasi dengan menambahkan sendiri daftar hitam situs maupun daftar putih yang ingin disaring. Saya belum mengetahui dengan pasti apakah suatu situs yang di submit oleh di daftar hitam registrant dan dianggap porno juga otomatis akan tersaring ke registrant lainnya.
Fasilitas statistik pada OpenDNS juga bisa membantu warnet mempelajari karateristik pengguna-nya dengan mengetahui situs-situs mana saja yang di akses oleh pengguna. selain itu, openDNS juga membantu untuk menyaring akses ke situs-situs phising.
PDF Reader yang cocok untuk Warnet
PDF merupakan format file yang banyak digunakan dalam tukar menukar dokumen digital. sesuai dengan namanya: Portable document format, file berformat pdf bersifat portable dan bisa di baca di hampir semua platform bahkan di platform mobile pun reader-nya tersedia.
Namun jika berhubungan dengan warnet, maka reader untuk pdf haruslah dipilah dengan seksama. Sebab umumnya reader memberikan syarat “not for rent” yang cukup merepotkan warnet ( ingat MSRA? ). Karena itulah dalam memilih pdf reader sebaiknya dipilih yang benar-benar free/bebas ataupun jika proprietary, dipilih yang persyaratan penggunaannya seringan mungkin. Tentu reader berbasis GPL adalah pilihan pertama, namun kadang mereka cuma tersedia di platform linux, sementara untuk platform Windows yang banyak tersedia (selain yang berbasis GPL) adalah reader proprietary.
PDF Reader yang saya sarankan untuk warnet ( berbasis Windows ) adalah sbb:
Sumatra PDF adalah pdf reader Open Source, langsing dan cepat. Sifatnya juga portable sehingga binary-nya (executeable file) dapat disimpan di dalam sebuah USB Flash Disk untuk di jalankan di komputer lain. Sementara Foxit adalah sebuah reader propietary namun lisensi-nya membebaskan kita untuk menggunakannya baik personal maupun non personal. Untuk lebih jelas-nya anda dapat membaca perjanjian lisensi-nya disini.
Kedua pdf reader ini memiliki kelebihan masing-masing. Sumatra seperti di tuliskan di paragraf di atas, langsing, cepat, portable. Sedang Foxit memiliki kelebihan pada fasilitas-fasilitas yang ditawarkan seperti advance search, text capture, minimizing system to tray dan tentu saja: tampilan yang familiar bagi pengguna adobe reader. Foxit reader juga tersedia bagi pengguna Linux.
Tidak masalah yang mana dari kedua aplikasi tersebut menjadi pilihan anda. Malah saya menyarankan untuk memasang kedua-nya agar user memiliki pilihan dalam menggunakan pdf reader favorit.
Memulai Usaha Warnet
Ini adalah sebuah komentar yang masuk di blog ini:
Yang sudah buka warnet, tolong di bantu dong kita2..seperti:
- berapa kira2 biaya listrik /bln?
- biaya koneksi per bulan?
- menurut kalian, apa usaha warnet kalian akan bertahan hingga 5 tahun kedepan?
- dibandingkan dengan jasa internet khusus game on line, apa lebih menguntungkan?
- kalau dirata2kan, 1 PC bisa berapa jam seharinya di pakai pelanggan?
Saya akan membahas pertanyaan di komentar ini secara umum, sebab beberapa jawaban sangat tergantung kondisi dan situasi warnet tersebut.
1. Biaya Listrik
Biaya listrik per bulan ditentukan oleh kebutuhan listrik dari warnet tersebut. Untuk memperkirakan biaya listrik yang wajar tentu harus di analisa dulu seberapa besar kebutuhan daya listrik. Sebagai contoh kasus kita coba menghitung berapa besar daya listrik yang diperlukan oleh warnet dengan konfigurasi berikut:
- PC : 11 unit @ 200 watt
- Monitor: 11 unit CRT 15″ @ 90 watt
- Printer: 1 unit inkjet @ 40 watt
- Scanner: 1 unit @45watt
- Lampu indoor: 4 buah TL @ 25watt
- Lampu outdoor: 2 buah TL @ 50watt
- AC: 2 buah @ 1,5 PK ( 1 pk = 746 watt, 1,5 pk = 1119 )
- Cooler: 1 unit @ 90 watt
Total kebutuhan daya adalah:
- PC = 11 x 200 = 2200 watt
- Monitor = 11 x 90 = 990 watt
- Printer = 1 x 40 = 40 watt
- Scanner = 1 x 45 = 45 watt
- Lampu indoor = 4 x 25 = 100 watt
- Lampu outdoor = 2 x 50 = 100 watt
- AC = 2 x 1119 = 2238 watt
- Cooler = 1 x 90 = 90 watt
- Total kebutuhan daya = 5803 watt
Dilihat dari paparan di atas maka daya listrik terpasang yang disarankan adalah minimal 6600 watt. Biaya listrik untuk daya sebesar itu biasanya berada di kisaran Rp 900.000 s/d Rp 1.500.000 per bulan. Banyak cara (yang halal) untuk menurunkan pemakaian daya listrik. Misalnya: menggunakan monitor LCD, mematikan pc/monitor yang tidak digunakan, mengatur suhu AC pada suhu yang tidak terlalu dingin ( 22 – 25 derajat celcius ).
2. Biaya koneksi per bulan.
Berbicara biaya koneksi, maka pilihannya beragam dan bergantung kepada lebar bandwidth, media koneksi, kualitas dll. Keterangan mengenai hal ini bisa dibaca di warnetpedia . Saran saya, tentukan dulu kebutuhan bandwidth anda baru berbicara biaya koneksi. Untuk biaya dapat dilihat dari situs-situs ISP di Indonesia.
3. Apakah usaha warnet bisa bertahan hingga 5 tahun ke depan?
Tentu bisa. Yang menentukan adalah kemampuan manajemen warnet tersebut apakah bisa bertahan menghadapi persaingan. Persaingan di sini harus dilihat secara general. Saingan warnet bukan cuma warnet tetangganya. ISP juga saingan warnet, sebab ada produk-produk layanan mereka yang bersaingan langsung dengan warnet. PC/Notebook murah juga saingan warnet. Kombinasi antara PC/Notebook murah dan Produk ISP yang murah atau akses Wifi gratis adalah ancaman yang nyata bagi keberadaan Warnet. Karena itu, warnet harus bisa menempatkan target pasar dan pelayanannya dengan tepat jika tidak ingin tersingkir dari persaingan.
posting yang berkaitan dengan hal ini: Prospek Bisnis Warnet
4. Mana lebih menguntungkan Warnet atau game online?
Pertanyaan ini sulit dijawab tanpa adanya data akurat. Pengalaman setiap orang bisa berbeda tetapi kita bisa menganalisanya sebagai berikut: Warnet biasanya tidak perlu spesifikasi komputer setinggi game center. Dari sisi harga, Warnet umumnya di atas game center yang justru membutuhkan spesifikasi komputer yang lebih tinggi. Namun, secara kasat mata, game center lebih ramai dari Warnet. Beberapa warnet juga menyediakan game online sebagai bagian dari pelayanan mereka. Saya kira inilah jalan tengah terbaik dengan catatan bahwa pengguna game dan warnet dipisahkan mengingat karakter keduanya sangat berbeda.
5. Tingkat Okupansi.
Tingkat okupansi yang umum adalah 7 – 9 jam. Di bawah 7 jam maka warnet itu terhitung sepi. Sementara di atas 9 jam warnet tersebut terhitung ramai (sekali). Jarang sekali ada warnet yang memiliki tingkat okupansi di atas 9 jam.
posting yang berhubungan: Capex Opex dan Harga Dasar/Modal Warnet
Bagi yang ingin berbisnis warnet tanpa repot menyusun RAB, Rencana Bisnis dan lain lain yang berhubungan dengan bisnis warnet silahkan klik http://irwinday.web.id/mau-bikin-warnet-hubungi-kami/
WarnetPedia – Ensiklopedi Warung Internet
Sejak Rabu 9 Januari 2008, saya mengaktifkan domain warnetpedia.web.id. Sesuai dengan namanya warnetpedia akan berisi wiki tentang warnet. Harapan saya komunitas warnet akan tertarik untuk ikut berkontribusi dan memberikan maanfaat bagi perkembangan komunitas warnet.
Memang situs ini tidak dipromosikan tapi diperkenalkan kekalangan terbatas dulu untuk menguji reaksi yang muncul. Sejauh ini positif. Ke depan akan saya pikirkan untuk ditempatkan di hosting tersendiri sebab saat ini masih numpang di domain irwinday.web.id.

Statistik Industri Pornografi internet dan Cara Memfilternya
Menurut internet pornography statistics, statistik tahun 2006 adalah: dalam setiap detik $3,075.64 dibelanjakan untuk pornografi, 28,258 pengguna internet melihat konten pornografi, 372 pengguna Internet mengetikkan kata kunci berkaitan pornografi di search engines dan setiap 39 minutes sebuah video porno baru dibuat di Amerika Serikat.
Kekuatan ekonomi industri pornografi Internet juga mengagumkan: total $97.06 Billion untuk di tahun 2006 saja dan sudah lebih besar dari revenue Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix dan EarthLink digabungkan menjadi satu.
Pendapatan industri pornografi di Amerika juga mengalahkan revenue tiga besar stasiun TV mereka (ABC, CBS, dan NBC) di gabung jadi satu!. Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada angka pasti mengenai revenue industri pornografi di Indonesia. Jangankan industri haram, industri halal saja tidak ada angkanya. Yang sudah pasti: Indonesia berada di urutan ke-7 negara yang mengetikkan keyword “sex” di search engine.
Negara-negara yang tercatat melakukan larangan terhadap pornografi adalah Saudia Arabia, Iran, Syria, Bahrain, Egypt, UAE, Kuwait, Malaysia, Indonesia, Singapore, Kenya, India, Cuba, China. Indonesia, walaupun tercatat sebagai negara yang melakukan larangan terhadap pornografi tapi konten pornografi jauh lebih mudah ditemukan dibanding konten dari discovery channel dan Salah satu penyalur konten pornografi adalah: warnet.
Melakukan filter terhadap pornografi di internet.
Ada tiga metoda yang bisa digunakan dalam melakukan filter di internet yaitu:
- Filter via Workstation. Metoda ini dilakukan dengan memasang software filtering di PC Client Warnet. Sayangnya metoda ini untuk sementara hanya bisa digunakan oleh mereka yang menggunakan OS Windows, sebab dari 10 software yang disebutkan oleh Internet Filter Report 2008, semuanya berbasis Windows. Kelemahan lain adalah: ke-10 software tersebut harganya cukup tinggi untuk kantong warnet. Termurah adalah NetNanny ($28.99), termahal adalah WiseChoice.net ($60). Lainnya rata-rata di kisaran $40-$50. Selain itu, filter pada workstation akan memberi beban tambahan bagi komputer. Kelihatannya metoda ini hanya cocok jika digunakan pada PC dirumah.
- Filter via Proxy. Metoda ini dilakukan dengan memasang proxy. Jenis proxy yang digunakan bisa berbasis GNU-Linux maupun OS Windows. Software yang digunakan umumnya adalah Squid Proxy ditambah dengan squidguard. Walaupun sebenarnya tanpa squidguard pun Squid bisa di konfigurasi untuk melakukan filtering, namun squidguard memudahkan proses konfigurasinya dan situs-nya pun sudah menyediakan daftar hitam situs yang ingin di filter. Kelemahan dari metoda ini adalah: memerlukan mesin tersendiri untuk menjalankan proxy dan dibutuhkan mesin dengan kemampuan yang cukup untuk unjuk kerja yang baik. Selain itu, proxy perlu di set agar di akses secara transparan untuk memaksa user menggunakan proxy tersebut. Beberapa distro kecil seperti smoothwall dan clarkconnect juga bisa digunakan.
- Filter via DNS. DNS juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan filtering. Caranya dengan mengisikan record “palsu” dari sebuah situs yang difilter ke situs lainnya. Contoh: situs porno www.xxx.com yang ber alamat-IP xxx.xxx.xxx.xxx di DNS tersebut tercatat sebagai yyy.yyy.yyy.yyy yang merupakan alamat IP dari www.yyy.com. Otomatis user tidak akan pernah bisa membuka situs tersebut. Cara ini menuntut campur tangan dari pengguna untuk secara sadar mengubah IP DNS yang mereka gunakan ke IP DNS filter tersebut. Metoda ini cocok di gunakan di ISP, dengan dibungkus sedikit bumbu pemasaran (mis: paket internet sehat) maka orang-orang yang khawatir tentang pornografi tentu tertarik menggunakannya. Dengan sedikit berinovasi melibatkan komunitas di internet, daftar situs yang perlu difilter dapat ditambah dan direview sebelum dimasukkan kedalam record dns tersebut.
Diluar ketiga metoda di atas, juga tersedia hardware based filter. Saat ini router-router kapasitas SOHO biasanya sudah tersedia fasilitas untuk filter memanfaatkan content filter server yang ada diinternet. seperti yang terlihat pada gambar screenshot di bawah (klik untuk memperbesar).
Prospek Bisnis Warnet
Tulisan ini berdasarkan diskusi yang terjadi di milis umum dan milis anggota awari , inti diskusi adalah mempertanyakan prospek dari bisnis warnet ke depan. Isi diskusi dapat dibaca dari arsip milis umum. Milis anggota awari adalah milis tertutup maka arsipnya hanya boleh dibaca oleh member milis tersebut.
Saya tidak memberikan opini apa apa dalam diskusi tersebut, kecuali memberikan beberapa angka yang umum dijadikan acuan di dalam menilai bisnis warnet. Selain itu, saya juga merasa sulit menuliskan pendapat saya dalam alur diskusi yang sudah terlanjur berjalan.
Analisa Prospek Warnet
Jika dipelajari lebih jauh, munculnya warnet di Indonesia disebabkan dua faktor:
- Terbatas dan mahalnya akses internet
- PC sebagai alat akses utama internet juga masih terhitung mahal bagi mayoritas penduduk di Indonesia.
Melihat kenyataan itu, maka bermunculan warnet-warnet yang memberikan solusi kepada kebutuhan akses internet yang terjangkau. Kedua faktor inilah yang sebenarnya harus diperhatikan oleh pebisnis warnet dalam melihat prospek usaha warnet.
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah akses internet dan pc saat ini sudah terhitung murah? Untuk Indonesia yang (sangat) luas ini, maka jawabannya bisa ya bisa tidak. Bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar (ex: Jakarta) harga berlangganan internet sudah sampai pada harga Rp 99.000/bulan/384Kbps/unlimited akses. Namun bagi mereka yang berada di ujung Papua sana bisa senilai 3 juta rupiah untuk 64kbps via VSAT.
Sehingga kesimpulan akhirnya adalah: harga akses internet belum terhitung murah untuk seluruh daerah di Indonesia.
Bagaimana dengan PC? Ini pun masih bisa menjadi perdebatan panjang. Namun harga PC masih berkutat di atas Rp2,5 juta yang menurut saya masih cukup mahal untuk mayoritas masyarakat Indonesia. Melihat dari jumlah kepemilikan PC dibanding jumlah penduduk pun terlihat jelas kenyataan ini. Kesimpulannya: PC juga belum terhitung murah bagi sebagian besar penduduk Indonesia.
Apakah ini berarti bisnis warnet masih prospek? Untuk menjawab ini, mari kita lihat lagi beberapa faktor yang bisa berpengaruh pada warnet:
- Mulai tersedianya akses Free Wifi/hotspot dimana-mana
- Penyediaan akses internet di Kampus
- Penyediaan akses internet di Kantor-kantor
- Mulai beroperasinya Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional)
Faktor-faktor di atas jika dilihat secara pesimistis bisa dianggap sebagai faktor yang akan menurunkan prospek bisnis warnet. Tapi bagi mereka yang optimis, hal-hal di atas justru memperkuat keberadaan prospek warnet sebagai bisnis. Mereka yang optimis ini menyadari keterbatasan dari akses internet di free wifi, kantor, kampus maupun sekolah (jardiknas) sehingga keterbatasan tersebut bisa dijadikan warnet sebagai daya tarik tersendiri agar pengakses tetap memilih warnet sebagai tempat akses internet. Berita di detikinet tentang ratusan hotspot yang ternyata tidak mampu memikat pengguna bisa menjadi acuan. Walau gratis, hotspot, akses di kantor, Kampus dan sekolah toh tidak bisa digunakan setiap saat, hanya pada jam tertentu saja.
Kembali ke laptop
eh..warnet; bagaimana jadinya prospek bisnis warnet ini? Saya melihat musuh utama Warnet adalah dirinya sendiri. Kurangnya visi dalam mengelola bisnis dan terjebak kepada asumsi-asumsi dan akhirnya terjebak ke lemahnya daya saing yang berujung ke bangkrut/tutupnya warnet. Lemahnya visi bisa dilihat dari tidak berubahnya model bisnis warnet dari tahun ke tahun. Sejak mulai kita mengenal warnet hingga sekarang, model bisnisnya tidak lebih dari menjual kembali/reseller akses internet.
Dari sisi pelayanan pun tidak berubah, bahkan cenderung statis. Ini tentu kontras dengan kenyataan bahwa internet sendiri adalah tempat dimana individu-individu saling terhubung, berinteraksi, berkolaborasi dan menghasilkan sesuatu layanan yang sulit dikerjakan secara individualistis. Kata “net” yang berarti jaringan tidak dihayati oleh warnet-warnet, mereka asik dengan keterkungkungan di tempat mereka (secara tidak sadar) justru terhubung dengan mudahnya.
Prospek atau tidak warnet bukanlah dari bisnis warnet itu sendiri, tapi bagaimana mengelola dan membawa bisnis itu menjadi sebuah layanan yang tetap dibutuhkan masyarakat. Inilah yang kurang digali oleh warnet-warnet. Sekali warnet mampu memberikan layanan (berbasis IP) yang bagus dan dibutuhkan oleh masyarakat maka prospek bisnis pun akan cerah.
Cuma syaratnya adalah: terhubung, interaksi, dan kolaborasi. Bukan berjalan secara individual.
Kepala Sakit Obatnya Belum Tentu Obat Sakit Kepala
Sakit kepala adalah suatu tanda bahwa dalam tubuh kita sedang tidak sehat pada titik tertentu. Sakit kepala bagaikan sebuah lampu alarm yang menyala jika terjadi sebuah ketidak beresan di sistem. Sehingga bila kita sakit kepala, obatnya belum tentu obat sakit kepala. Sebab bisa saja sakit kepala disebabkan oleh sakit gigi misalnya, atau memakan makanan yang memancing migren (kopi, coklat, teh) dsb. Hal seperti ini jika di obati dengan obat sakit kepala maka hanya menghilangkan sementara sakitnya namun sumber penyakit belum di obati. Ini sama halnya dengan mematikan bunyi alarm walaupun kejadian pencetus alarm tersebut masih berlangsung.
Kebiasaan membajak software adalah sama dengan sakit kepala. Kebiasaan tersebut bukanlah penyakit tapi akibat kondisi yang selama ini dibiarkan baik oleh aparat, sistem pendidikan dan pengambil kebijaksanaan. Semuanya baik secara sadar dan tidak, memiliki sumbangan dalam mengkondisikan kebiasaan tersebut. Sehingga, jika ingin kebiasaan membajak software tersebut menurun, maka bukanlah dengan mengobati “sakit kepala” alias mengejar para pengguna software bajakan, tapi dengan mengobati “penyakit sesungguhnya”.
Beberapa hal yang menyebabkan munculnya pengguna software bajakan:
1. CD/DVD Software Bajakan mudah didapat; Jika kita andaikan CD/DVD software bajakan ini adalah narkoba, maka penggunanya tentu adalah “korban”. Percuma menangkapi “korban” sebab “bandar” toh tersedia dimana-mana. Entah logika mana yang dipergunakan sehingga yang perlu dikejar adalah pengguna bukan produsen. CD/DVD Software bajakan ini bahkan dijual dengan terhormat di Mall-mall, pusat pertokoan dan juga di emperan kaki lima.
2. Harga software mahal tapi minus proteksi yang pantas; Kita semua tahu, kalau metoda pengamanan minimal sebuah mobil adalah: kunci. Sebuah mobil yang berharga mahal tentu memiliki sekedar kunci, tapi ada tambahan alarm. Alarm ini pun bervariasi, semakin mahal sebuah mobil semakin canggih dan sulit ditembus alarmnya. Tapi coba kita lihat di software, yang murah maupun yang mahal ternyata sama saja proteksinya. Cuma sebuah kode lisensi yang sangat mudah ditemukan di internet. Seharusnya semakin mahal sebuah software semakin canggih pula metoda proteksinya terhadap pembajakan. Anda bisa bayangkan kalo sebuah BMW seri 7 cuma di proteksi pakai kunci yang bisa dibuat duplikatnya di tukang kunci pinggir jalan.
3. Pendidikan tidak pernah mengajarkan mahalnya harga software; Pendidikan, baik itu formal maupun informal/kursus tidak pernah memberikan informasi berapa harga software yang mereka ajarkan. Seandainya harga software ini selalu dijadikan informasi ke siswa-siswa, maka otomatis logika mereka akan terpancing untuk lebih menghargai HaKI. Memang harus diakui, jika mereka paham bahwa software mahal tersebut dapat di subtitusi oleh software lain yang nyaris gratis seperti FOSS maka tentu hal ini bukan pilihan yang menarik.
4. Tidak ada layanan pembiayaan bagi pengadaan software; sampai saat ini masih banyak yang bingung harus dikategorikan apa sebuah software. Jika di kategorikan sebagai barang, maka tentu harus ada wujudnya. “wujud” sebuah software paling nyata adalah media seperti CD/DVD, padahal “unjuk kerja” sesungguhnya adalah pada saat digunakan di Komputer. Hal seperti ini menyebabkan umumnya perbankan atau lembaga finansial tidak mendukung pembiayaan untuk software. Kebingungan ini bisa di mengerti, sebab jika kredit macet apa yang bisa di sita? Kalau gedung, tanah, mobil, jelas wujudnya. Kalau software? Walaupun begitu, kita bisa mendefinisikan wujud software ini jika kita bisa memberikan jaminan seperti kode lisensi, sayang model kode lisensi ini juga rapuh karena mudahnya dibajak. Juga, umumnya software bukanlah barang yang mudah di jual kembali.
Diluar semua itu, saya juga berpendapat bahwa pembajakan software ini memang sengaja dikondisikan. Yang terbayang adalah: jika software-software proprietary ini sulit ditemukan CD/DVD bajakannya dan setelah ditemukan masih tetap sulit di install karena tingkat proteksi yang tinggi maka tentu terjadi penurunan jumlah pengguna software bajakan tersebut. Akibatnya adalah pengguna yang memang butuh dan mampu akan beli, tapi mereka yang butuh tapi tidak mampu akan memilih software lain yang terjangkau dan memenuhi kebutuhan mereka. Tapi, apa para software giant ini mau? Mendingan kayak sekarang
bisa berkoar dimana-mana bahwa pembajakan tinggi, supaya ada alasan buat terus menerus ngasih obat sakit kepala padahal yang sakit gigi yang berlubang.








