BSE (Buku Sekolah Elektronik)

Sudah sekitar seminggu ini hampir tiap hari saya membaca kritik yang dilayangkan kepada program Buku Sekolah Elektronik (BSE) di koran Kompas. Memang wajar kalau program ini dikritisi, karena terdapat beberapa kelemahan mendasar pada saat dilaksanakan. Kelemahan yang paling menonjol adalah: sulitnya sekolah-sekolah memanfaatkan buku-buku elektronik yang terdapat di BSE karena kendala mendasar seperti: tidak ada listrik, tidak memiliki komputer dan tidak ada saluran internet yang tersedia.

Namun diluar masalah-masalah di atas, BSE ini sebenarnya tidaklah jelek-jelek amat. Kalau pun terjadi masalah-masalah sepertinya sulitnya mengunduh ataupun tidak tersedianya komputer/internet memang bukanlah tanggung jawab diknas sepenuhnya. Kesalahan diknas adalah tidak memikirkan alternatif jika sekolah tidak memiliki fasilitas untuk memanfaatkan BSE tersebut. Ini mungkin karena perencana proyek adalah orang yang tidak pernah turun kelapangan sehingga tidak bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya jika berada di sebuah sekolah yang listrik pun tidak ada.

Namun, ternyata warnet-warnet (paling tidak anggota-anggota AWARI) bisa melihat kelemahan-kelemahan proyek ini sebagai peluang. Beberapa teman-teman di Awari melakukan inisiatif mengunduh buku-buku elektronik yang tersedia di server BSE (dan mirrornya) untuk kemudian di paket didalam sebuah CD dan dijual kepada mereka yang membutuhkan. Menurut pengakuan salah seorang anggota dia menjual dengan harga Rp 5000/CD sebuah harga yang murah dan terjangkau.

Tentu hal di atas hanya mungkin jika sang siswa atau guru telah memiliki PC/Notebook untuk memanfaatkan buku-buku elektronik. Bagaimana jika tidak ada? Nah, saya kira teman-teman di Warnet sudah musti memikirkan untuk memproduksi buku-buku tersebut dalam bentuk barang cetakan/print out, toh Depdiknas sejak awal memang membebaskan buku-buku tersebut untuk di unduh, digandakan dan dicetak selama tidak menyalahi ketentuan yang tertera sewaktu kita mengunduh file BSE.