21+ Contoh Teks Negosiasi Singkat yang Baik dan Benar

Contoh Teks Negosiasi Terbaik dan Terbaru 2020 – Contoh teks negosiasi merupakan contoh teks yang berisi interaksi antara dua pihak dengan kepentingan yang berbeda. Hampir mirip dengan negosiasi secara lisan, teks negosiasi bertujuan mencapai kesepakatan atau persetujuan disertai kesaling mengertian. Lebih dari itu, teks negosiasi ditujukan pula untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau juga mempersatukan perbedaan.

Sebagaimana negosiasi yang tujuannya berbeda-beda, teks negosiasi juga memiliki bentuk atau jenis berbeda-beda berdasarkan tujuannya. Di antara jenis teks negosiasi adalah teks negosiasi pemecahan konflik, kerja sama, dan juga jual beli. Dalam teks negosiasi juga terdapat tawar menawar dan juga penggunaan kalimat persuasi seperti pada negosiasi lisan.

Meskipun negosiasi seringkali dilakukan oleh banyak orang. Namun, masih banyak pula yang belum tau negosiasi dalam bentuk teks yang terstruktur.

Dalam artikel ini kita akan mengulas lengkap contoh teks negosiasi yang baik dan benar. Mulai dari contoh teks negosiasi dalam bentuk narasi, contoh teks negosiasi jual beli, contoh teks negosiasi di sekolah, contoh teks negosiasi pemecahan konflik, contoh teks negosiasi larangan, contoh teks negosiasi formal, dll.

Teks Negosiasi

PENGERTIAN TEKS NEGOSIASI

Teks Negosiasi adalah sebuah teks yang berbentuk interaksi sosial yang terjadi dimasyarakat dan dilakukan oleh lebih dari 2 orang atau instansi dengan kepentingan yang berbeda guna untuk mencapai sebuah kesepakatan akhir bersama yang tidak menguntungkan atau merugikan satu pihak saja. Pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah negosiasi berhak atas hasil akhir yang kurang berkenan dengan kondisi dan situasi pihaknya.

Negosiasi dilakukan apabila dalam bertinteraksi terdapat kendala dalam menyelesaikan permasalahan atau untuk menawarkan solusi yang dirasa jauh lebih baik dari solusi sebelumnya. Dalam sebuah teks negosiasi biasanya menghasilkan kesepakatan yang keuntungannya sama rata dan memprioritaskan kepentingan bersama. Jikahasil akhir masih dirasa menyudutkan salah satu pihak maka, akan dilakukan negosiasi kembali.

STRUKTUR TEKS NEGOSIASI

Dalam sebuah teks negosiasi biasanya terdapat tiga jenis struktur negoisasi yaitu struktur negoisasi umum, struktur negoisasi jual-beli, dan struktur negoisasi pengajuan/permohonan.

Struktur negoisasi umum hanya terdiri dari tiga unsur yaitu:

• Pembukaan yang berisi ucapan sala.
• Isi yang besisikan maksud.
• Penutup yang besiikan kalimat penutup seperti salam dan ucapan terimakasih.

Berbeda dengan negoisasi jual-beli dan pengajuan/permohonan yang memeiliki beberapa unsur yang memenuhi standar negosiasi yang layak. Struktur ini dijadikan panduan ketika sesorang ingin melakukan sebuah negosiasi atau membuat teks yang mengandung nilai negosiasi.

• Orientasi
Orientasi merupakan kalimat pembuka berupa ucapan salam dan ucapan terimakasih karena telah diberi kesempatan untuk melakukan negosiasi.

• Permintaan
Permintaan disini berarti penyampain maksud dan keinginan yang ingin dinegoisasikan. Atau dalam teks negoisasi jual beli, permintaan disini berarti permintaan mengenai suatu hal, barang, jasa yang ingin dibeli.

• Pemenuhan
Pemenuhan disini dilakukan oleh pihak yang dimintai negosiasi atau dalam negosiasi jual beli, pemenuhan disini berarti kesanggupan penjual dalam memenuhi permintaan si pembeli.

• Penawaran
Penawaran merupakan klimaks negosiasi antara pihak kedua atau lebih yang besangkutan melakukan proses negosiasi.

• Persetujuan
Setelah melakukan penawaran dan mencapai hasil akhir yang disepakati, baru kemudian melakukan persetujuan bahwa hasil akhir tersebut mutlak merupakan hasil bersama dan tidak ada pihak yang dirugikan.

• Pembelian
Khusus unsur pembelian dilakukan ketika melakukan negosiasi dalam hal jual beli.

• Penutup
Berisi kalimat penutup seperti salam, permintaan maaf dan ucapan terimakasih juga.

KAIDAH TEKS NEGOSIASI

Dalam menulis atau mengungkapkan sebuah teks atau kalimat yang mengandung nilai negosiasi tentunya ada kaidah kebahasaan yang harus diperhatikan. Kaidah ini berfungsi untuk menyempurnakan kalimat yang digunakan agar kalimat negosiasi yang disampaikan terkesan sopan dan tidak mengundang sentiment orang yang mendengarkan. Berikut kaidah bahasa yang harus digunakan dalam menyampaikan kalimat negosiasi:

• Penggunaan bahasa yang santun dan sopan serta suara yang agak direndahkan supaya terkesan bersifat rendah diri sehingga tidak memicu emosi pihak lain .

• Terkandung ungkapan persuasif (bahasa yang terkesan membujuk). Gunanya suapaya negosiasi yang dilakukan menarik dan mempengaruhi pihak lain.

• Mengandung pasangan tuturan.

• Kesepakatan akhir tidak menimbulkan kerugian kedua pihak atau semua pihak jika negosiasi dilakukan oleh lebih dari 2 pihak.

• Bersifat memenuhi aturan dan perintah atau kata lainnya bersifat terikat. Artinya kesepakatan akhir negosiasi harus dijalankan tanpa kecuali.

• Argumen yang disampaikan bertahap artinya tidak dikeluarkan dalam satu tempo waktu saja.

• Argumen yang disampaikan didasari pada fakta yang dapat membuktikan bahwa argumen tersebut benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

• Meminta alasan dari pihak lain mengenai sebuah kesepakatan misalnya “mengapa setuju /tidak setuju dengan…..” dan “bagaimana jika…..”.

• Tidak diperkenankan menyela ketika pihak lain menyampaikan argumennya. Artinya memberikan hak sepenuhnya ketika pihak lain menyampaikan argumennya.Dialog yang mengandung teks negosiasi biasanya sudah familiar kita dengarkan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun kita terkadang kurang peka dalam mengidentifikasi apakah kalimat tersebut termasuk ke dalam teks negosiasi.

Agar lebih memudahkan dalam memahami bentuk, ciri serta penggunaan teks negoisasi berikut disajikan beberapa contoh teks negoisasi baik dalam hal formal, jual beli, larangan, bisnis, penyelesaian masalah, negosiasi dialog dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

CONTOH TEKS NEGOSIASI DALAM BENTUK NARASI

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi dalam bentuk narasi. Negoisasi antara Bu Asri dengan Penjual Sayuran Keliling

Pagi itu tukang sayuran keliling yang biasa mengelilingi kompleks perumahan dimana bu Asri tinggal datang. Bu Asri yang sudah berlangganan dengan kang sayur kemudian menghampiri dan mulai mencari sayur yang diperlukan. Langsung saja bu Asri memilih sayur mayur dan lauk pauk yang diinginkan. Ketika hendak menentukan lauk yang akan dipilih antara ikan dengan ayam, bu Asri menanyakan kepada tukang sayur mengenai kualitas kedua jenis lauk mentah tersebut.

Tukang sayu tersebut mengatakan bahwa ikan yang dibawanya. Sedangkan, paha ayam yang dibawa tukang sayur tersebut baru disembelih tengah malam. Karena kualitas kesegaran ikan lebih baik daripada paha ayam maka bu Asri memilih memilih membeli ikan. Namun ia ingat bahwa anak dan suaminya memiliki alergi terhadap makanan laut maka ia putuskan untuk membeli ayam.

Setelah memutuskan membeli ayam dan bercakap-cakap tentang kualitas dan gizi yang terkandung dalam kedua jenis lauk tersebut, bu Asri menanyakan berapa harga yang ditawarkan tukang sayur tersebut. satu kilogram paha ayam dihargai Rp.50.000-, sedangkan satu kilogram ikan dihargai Rp.45.000-,. Harga satu kilogram paha ayam dirasa terlalu mahal mengingat harga paha ayam biasanya lebih murah daripada dada ayam dan kondisi ayam yang disembelih semalam membuat kualitasnya menurun.

Sedangkan ikan yang segar dipatok dengan harga dibawah harga ayam tersebut. Maka, bu Asri menawar paha ayam dengan harga Rp.35.000-, per kilogramnya. Tukang sayur tersebut menolak dengan alasan ia tidak mendapat laba jika menjual ayamnya dengan harga yang ditawar bu Asri. Kemudian tukang sayur menurunkan sedikit dari harga semula yakni Rp.45.000-,. Namun bu Asri masih merasa jika harga yang sudah diturunkan pun masih mahal jika dibandingkan dengan ikan.

Bu Asri kemudian menaikkan tawarannya menjadi Rp.40.000-,. Si tukang sayur menyetujui penawaran kedua bu Asri karena dia merasa pada hargasudah termasuk modal dan laba. Disisi lain bu Asri juga merasa harga tersebutlah yang relevan karena tingkat kualitas ayam yang melewati beberapa jam setelah penyembelihan. Setelah menyepakati harga, bu Asri membayar seluruh sayur dan ayam yang dibelinya.

CONTOH TEKS NEGOSIASI BESERTA STRUKTURNYA

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi beserta strukturnya. Disuatu pagi dihalaman parkir sekolah, seorang security sekolah menegur Adi karena melakukan pelanggaran.

(Pembukaan)
Security : Selamat pagi nak Adi

Adi : Iya pak, selamat pagi

(Isi)
Security : Adi sudah mengetahuikan aturan sekolah yang mewajibkan memakai Helm dan menggunakan kendaraan yang memiliki kaca spion lengkap?

Adi : Iya pak, mohon maaf saya tidak menggunakan Helm dan kaca spion sepeda motor saya tidak lengkap dikarena ini adalah motor kakak saya dan mototr yang biasa saya pakai dipinjamnya beserta helm saya untuk urusan mendadak tadi pagi buta. Jadi, saya terpaksa Menggunakan motor miliknya.

Security : Karena kamu melanggar salah satu aturan sekolah maka kamu harus saya bawa ke ruang BK/BP dan menjelaskan kejadiannya disana.

Adi : Tetapi pak saya hari ini ada ujian matematika pagi dan ujian IPA setelah itu. Bagaimana kalau kita damai saja pak. Lagipula saya hanya melakukan pelanggarana sekali saja.

Security : Tidak bisa nak Adi, ini sudah merupakan ketentuan sekolah. Kamu bisa menjelaskan alasanmu nanti setelah semua pelajaran selesai. Jika kamu tetap tidak mau maka, sekolah akan mengirimkan surat panggilan orang tua.

(Penutup)
Adi : Baiklah pak, nanti setelah ujian Ipa selesai saya akan melapor ke ruang BK/BP. Permisi pak, terimakasih.

Security : Iya sama-sama nak Adi.

Baca : Teks Deskripsi

CONTOH TEKS NEGOSIASI 3 ORANG DI SEKOLAH

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi 3 orang di sekolah. Siang itu disekolah, setelah pelajaran Bahasa Indonesia selesai dan waktu istirahat tiba. Dinda, Liana, dan Tika melakukan percakapan mengenai tugas Bahasa Indonesia yang diberikan bu guru.
Liana : Teman-teman bagaimana kalau kita mengerjakan tugas kelompok yang tadi nanti sore setelah pulang sekolah?

Dinda : Saya setuju, supaya tugas kita cepat selesai dan kita punya waktu untuk mengerjakan tugas yang lain.

Tika : Tapi teman-teman nanti sore saya harus menjenguk paman saya yang sedang sakit.

Dinda : Kalau begitu bagaimana kalau besok lusa sore saja, apakah kalian punya waktu luang?

Liana : Besok lusa sorenya saya harus menemani ibuku membeli kebutuhan keluarga di supermarket.

Tika : Baiklah kalau minggu pagi bagaimana teman-teman?

Dinda : Minggu pagi saya setuju karena kebetulan saya tidak mengerjakan apa-apa.

Liana : Saya juga setuju jika minggu pagi tapi jangan terlalu pagi ya. Kira-kira jam 9 pagi saya bisa.

Tika : baiklah kita berkumpul didepan gerbang sekolah dan mengerjakan tugas ditempat biasa ya.

CONTOH TEKS NEGOSIASI 3 ORANG JUAL BELI

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi 3 orang jual beli. Disuatu pasar tradisional kala itu seorang penjual pete menjajakan dagangannya.

Pembeli : Bu pete dagangannya tinggal tiga tangkai ya?

Penjual : Iya bu, tadi pagi habis diborong langganan.

Pembeli : Kalau begitu saya ambil semua ya bu, kebetulan saya akan memasak untuk tamu dari luar kota. Berapa total harga petenya bu?

Penjual : Saya menjual satu ikat pete dengan harga Rp.15.000-, jadi dikalikan tiga, totalnya Rp.45.000-,

Pembeli 1 : Tidak bisa dikurangi ya bu harganya. Saya tawar Rp.10.000-, per ikat karena penghabisan.

Penjual : Tidak bisa bu, saya beri harga Rp40.000-, saja semuanya.

Pembeli 2 : Bu kalau begitu biar saya saja yang membeli petenya dengan harga Rp.15.000-, per ikatnya. Saya mau dua ikat.

Penjual : Maaf bu, saya tidak bisa menjual pete ini kepada ibu karena ibu ini telah menawar kepada saya terlebih dahulu.

Pembeli 2 : Tapi saya tidak menawar harga barang ibu.

Penjual : Mohon maaf bu, tapi aturan tawar menawar memang seperti itu.

Pembeli 1 : Baiklah bu saya terima harga Rp.40.000, yang ibu berikan saya ambil semua ya.

Penjual : Terimakasih ya bu.

Pembeli 2 : Sama-sama.

Baca : Pidato Bahasa Sunda

CONTOH TEKS NEGOSIASI FORMAL

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi formal. Siang itu seorang pengusaha bernama pak Heri datang ke kediaman bapak Alwi.

Heri : Selamat siang bapak Alwi. Saya pak Heri seorang pengusaha dibidang Laundry.

Alwi : Selamat siang, ada apa ya pak?

Heri : Saya datang bermaksud menyewa tanah bapak yang didepan rumah untuk dibangun toko tempat usaha Laundry saya pak. Kebetulan lokasinya strategis di pinggir jalan dan dekat dengan kompleks perumahan. Saya ingin menyakan berapa harga sewa tanah bapak selama setahunnya?

Alwi : Iya pak kebetulan saya juga ingin menyewakan tanah tersebut karena membutuhkan dana untuk kuliah anak saya. Saya menawarkan harga Rp.10.000.000-, pertahunnya pak.

Heri : Saya rasa jika Rp.10.000.000-, terlalu mahal mengingat lahan bapak nampaknya tidak mencapai luas satu are.

Alwi : Kalau begitu saya sya turunkan menjadi Rp. 8.000.000-, pertahunnya.

Heri : Bagaimana kalau saya tawar Rp. 6.000.000-, saja pak. Saya juga membutuhkan modal untuk mendirikan toko sendiri. jika bapak setuju saya akan menyewa selama 5 tahun dan bapak langsung menandatangani surat kontrak.

Alwi : Baiklah pak saya setuju.

Heri : Terimaksih bapak karena telah menyetujui kontaknya.

Alwi : Ya pak Heri, sama-sama

CONTOH TEKS NEGOSIASI LUCU

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi lucu. Sore itu Didi duduk termenung dibawah pohon ditepi jalan sembari membawa kue yang baru saja dibelinya. Tiba-tiba dari Dani menghampirinya dengan mengalungkan sarung.
Dani : Didi kamu kenapa duduk dibawah pohon dengan wajah kusut begitu?.

Didi : Aku habis membeli kue dan ketika hendak pulang aku menyadari bahwa celana yang aku pakai ternyata robek.

Dani : Ha ha ha ha… kalau begitu aku akan meminjamimu sarungku tapi kau harus memberikan sebagian kuemu kepadaku.

Didi : Tapi kue ini nantinya akan kubagikan kepada adikku juga. Kalau aku membagikan padamu, berarti aku tidak akanmendapat jatah.

Dani : Kalau begitu kamu akan pulang dengan celana sobek dan akan ditertawakan sepanjang jalan.

Didi : Baiklah aku akan membagi kueku dan aku akan meminjam sarungmu.

Kemudian Didi pulang menggunakan sarung Dani bersama kue sisa yang dibagikannya kepada Dani.

CONTOH TEKS NEGOSIASI LARANGAN

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi larangan.
Kepala sekolah disalah satu sekolah negeri kota bandung mengumumkan bahwa mulai senin depan, seluruh murid tidak diperkenankan membawa HP. Beberapa murid terlihat tidak setuju dengan larangan tersebut dan beberapa murid sangat kecewa. Azril, yang merupakan ketua osis menyampaikan kekecewaan teman-temannya dengan alasan bahwa mereka membutuhkan HP ketika hendak menelpon ke rumah untuk dijemput jika para murid pulang sore.

Namun kepala sekolah tidak menerima alasan dalam bentuk apapun. Kemudian Azril menawarkan solusi yaitu murid diperkenankan membawa HP asal tidak memainkannya ketika sedang belajar dikelas. Akan tetapi tetap saja Kepala sekolah tidak mengizinkan. Akhirnya Azril menawarkan solusi terakhir yaitu murid boleh menggunakan fasilitas telephone sekolah apabila pulang sore dan ingin dijemput. Kepala sekolah menuruti solusi terakhir dari Azril.

CONTOH TEKS NEGOSIASI PEMECAHAN KONFLIK

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi pemecahan konflik.

Tetangga baru pak Joko yaitu pak Anwar memiliki usaha bengkel las didepan rumahnya. Sedangkan pak Joko memiliki bayi yang membutuhkan istirahat disiang hari. Suara bengkel pak Anwar menganggu tidur bayinya pak Joko.

Joko : Selamat siang pak Anwar, saya ingin menyinggung masalah suara bengkel bapak yang mengganggu tidur siang anak saya.

Anwar : Iya pak Joko, sebelumnya saya minta maaf karena usaha saya mengganggu kenyamanan bapak. Saya akan mencoba mengecilkan suara mesin saya dengan membeli mesin las terbaru dan menjual mesin lama. Kebetulan juga mesin ini sudah saatnya diganti karena sudah tidak bagus lagi. Solusi dari saya juga, bapak bisa memindahkan anak bapak keruangan yang agak jauh dari sumber suara.

Joko : Iya pak, saya juga minta maaf karena telah menegur bapak seperti ini. Iya nanti saya akan memindahkan kamar anak saya ke bagian belakang. Terimaksih pak sudah mengerti kondisi saya.

Anwar : Sama-sama pak.

CONTOH TEKS NEGOSIASI ANTARA PENGUSAHA DAN PIHAK BANK

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi antara pengusaha dan pihak bank.
Pegawai Bank : Selamat Siang pak, ada yang bisa saya bantu?

Pengusaha : Selamat siang, begini pak, saya ingin meminjam modal sebesar Rp.50.000.000-, untuk mengembangkan usaha saya tapi saya hanya mempunyai sepeda motor sebagai jaminannya.

Pegawai Bank : Mohon maaf bapak, pinjaman yang bapak minta terlalu besar jika hanya menjaminkan sepeda motor. Ketentuan Bank hanya memberikan maksimal Rp.20.000.000-, saja.

Pengusaha : Apa tidak bisa dilebihkan pak? Saya kan sudah menjadi nasabah Bank ini cukup lama.

Pegawai Bank : Tidak bisa bapak, ini sudah ketentuan pusat. Jika bapak ingin menambah jumlah pinjaman pastikan nilai materil barang jaminan lebih tinggi. Tapi karena kami melihat usaha bapak juga cukup lancer maka, kami menambahkan menjadi Rp.30.000.000-,. Mulai besok bapak sudah bisa mengurus persyaratannya.

Pengusaha : Baiklah bapak terimakasih atas kerjasamanya pak.

Pegawai : Baik pak, sama-sama.

CONTOH TEKS NEGOSIASI SINGKAT 5 ORANG

Berikut ini adalah contoh teks negosiasi singkat 5 orang.

Para pemuda-pemudi kampung berkumpul dalam rapat tahunan mengenai acara kemerdekaan yang akan dilaksanakan tanggal 17 Agustus nantinya.

Dita : Saya mengusulkan untuk membuat lomba masak juga biar orang tua bisa ikut berlomba.

Nana : Tapi jika membuat lomba masak akan membutuhkan dana dan peralatan yang banyak.

Aji : Benar, lomba memasak juga memiliki resiko kecelakaan yang cukup tinggi.

Dita : Kalau begitu lomba apa yang akan kita adakan supaya ibu-ibu kampung kita lebih produktif.

Danu : Bagaimana kalau lomba menghias nasi tumpeng. Kita hanya menyediakan bahan jadi yang belum dihias saja.

Firman : Iya, saya setuju dengan usulan danu. Lagi pula menghias nasi tumpeng juag lebih efisien karena setelah dihias warga juga bisa mencicip nasi tersebut.

Nana : Baiklah, saya akan membuatkan proposal kepada Kepala desa jika kalian semua setuju.

Dita : saya setuju dengan usul Danu.

Aji : Saya juga setuju. Jadi semuanya setuju dan telah sepakat ya teman-teman.

Baca : Teks Eksplanasi

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Barang – Kabel

Di sebuah toko elektronik.

Orientasi
Penjual: Mari mas, ada yang bisa saya bantu?

Permintaan
Pembeli: ada dong mbak, di sini jual kabel nggak ya?

Penjual: Kabel yang kayak apa ya mas?

Pembeli: Kabel yang hitam lurus kayak rambut mbaknya ini lho!

Penjual: Hahaha, bisa aja masnya ini! Kabel yang gimana? Nanti saya cariin.

Pembeli: Kabel ukuran 1,5 100 meter, kabel ukuran 2,75 50 meter.

Penjual: Merek apa mas?

Pembeli: Yang bagus apa ya mbak?

Penjual: Biasanya yang dicari banyak orang itu Eterna mas, murah, bagus.

Pembeli: Coba mbak lihat barangnya boleh?

Penjual: Kabelnya kan mas? Bentar ya, saya ambilkan dulu.

Pemenuhan
Penjual: Mas, ini kabelnya yang tersedia tinggal yang panjangnya 50 meter-an, yang 100 meter kosong. Ada sih yang langsung 100 meter tapi warna putih. Gimana mas?

Pembeli: Wah, putih kayak kulit mbaknya dong, hahaha. Yang item aja mbak, 50 meter-an gak apa-apa.

Penjual: Brarti kabel Eterna ukuran 1,5 panjangnya 2 x 50 meter sama ukuran 2,75 50 meter ya mas?

Pembeli: Iya mbak, oh iya lupa, itu harganya berapa ya mbak?

Penjual: Bentar mas tak lihat dulu…ini yang ukuran 1,5 50 meternya 350 ribu mas, terus yang 2,75 550 ribu, jadi totalnya 1.300.000 mas.

Penawaran
Pembeli: Wah, mahal juga ya…gak bisa kurang mbak?

Penjual: Ini sudah murah mas, toko lain gak segini harganya.

Pembeli: Masak nggak ada potongan mbak? Kalau ada besok saya belanja ke sini lagi deh.

Penjual: Buat pasang di mana mas?

Pembeli: Itu lho, proyek pembangunan kantor di ujung jalan sana.

Penjual: Bentar ya mas, tak tanya si Bos dulu, siapa tahu kalau buat proyek ada bonus buat masnya kalau belanja di sini.

Pembeli: Asik….di tunggu mbak.

Penjual: Ada mas, tapi nggak banyak. Harganya tetep segitu, terus buat masnya 70 ribu. Gimana mas?

Persetujuan
Pembeli: Siap mbak, saya ambil. Pakai nota ya mbak.

Penjual: Iya mas, Tunggu bentar ya.

Pembelian
Pembeli: 1.300.000 ya mbak…ini mbak uangnya.

Penjual: Maaf, saya hitung sebentar ya mas…. Sip, uangnya pas ya mas. Terus ini notanya, lunas, sama ini bonus buat masnya.

Penutup
Pembeli: Siap, terimakasih banyak ya mbak.

Penjual: Sama-sama mas, kalau besok-besok belanjanya lebih banyak lagi bonusnya juga banyak lho mas kata si bos.

Pembeli: Siap mbak, besok-besok masih ada yang harus dibeli kok. Terimakasih mbak.

Penjual: Sama-sama mas.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Rumah

Pada suatu siang, Pak Tomo mendatangi rumah Pak Juki untuk bernegosiasi harga rumah

Orientasi
Pak Tomo: Permisi….Kulonuwun….

Pak Juki: Monggo Pak, eh tumben sekali Pak Tomo mampir, mari silahkan masuk.

Pak Tomo: Iya pak.

Pak Juki: Silahkan duduk pak, ada apa ini kok tumben mampir ke rumah?

Permintaan
Pak Tomo: Hahaha, itu lho pak, saya dengar dari pak RT katanya rumah bapak yang dipojokan gang itu mau dijual ya?

Pemenuhan
Pak Juki: Betul sekali pak, itu rumahnya memang mau saya jual, lha sudah ga sanggup ngurus dua rumah mas, kalau dikontrakin misalnya saya pasang harga mahal ya susah cari yang sewa, kalau murah kok ya saya rugi perawatannya.

Kebetulan juga itu saya mau jual, karena rencananya mau beli tanah buat perkebunan saja mas, buat kesibukan di hari tua.

Pak Tomo: Hahaha, Pak Juki ini memang pantang menyerah, sudah umur tapi masih bisa saja usahanya.

Pak Juki: Dari pada bingung Pak, lha anak-anak juga sudah pada berkeluarga dan pada bikin rumah sendiri, gak mau pakai rumah yang itu.

Pak Tomo: Ini kebetulan saya kok berminat ya pak, tentunya kalau harganya cocok dengan kondisi keuangan saya, hahaha…

Pak Juki: Wah, kalau sama tetangga sendiri ya saya gak mahal kok pak jualnya.

Pak Tomo: Kalau boleh tahu, rumahnya dijual dengan harga berapa ya pak?

Pak Juki: Itu karena banyak yang harus direnovasi, terus terang saya pasang harga tanah sama harga bahan bangunannya saja pak biar realistis.

Luas tanah 200 meter, luas bangunan 150 meter, untuk detailnya sudah ada di sertifikat tanah yang nanti bisa dicek.

Ya pakai ukuran harga tanah disini dan harga bahan bangunan sekarang ini, rumah itu saya jual seharga 750 juta pak. Tentu kalau buat orang lain ya gak segitu harganya.

Penawaran
Pak Tomo: Hahaha, iya pak. Tapi ini saya boleh nawar nggak ya pak?

Pak Juki: Mongga pak, silahkan ditawar, kalau jodoh pasti ketemu pak.

Pak Tomo: Hahaha, Iya pak, kebetulan saya punya budget 500 juta, apa boleh kalau harganya segitu pak?

Pak Juki: Ya, kalau untuk orang lain, rencananya rumah itu mau saya jual 850 juta pak, tapi karena hari ini bapak duluan datang, harga yang saya pasang 750 juta. Tentu banyak yang saya pertimbangkan.

Jadi kalau untuk harga yang masih jauh dari 750 juta saya belum bisa lepasnya pak karena rencananya memang uang hasil penjualan rumah itu nantinya mau saya belikan tanah di daerah Bantul, punya tetangga dari saudara saya dan harganya kebetulan segitu.

Kalau misalnya laku 850 juta kan saya masih punya modal buat bikin usaha di tanah itu pak.

Persetujuan
Pak Tomo: Ya pak, saya paham sekali kalau harga 750 juta itu sudah sangat realistis untuk ukuran rumah di sini. Tapi ya itu pak, saat ini saya masih punya uang 500 juta.

Bulan depan baru saya bisa punya uang lagi dari hasil perkebunan saya. Ini kalau misalnya bapak tidak keberatan, apa boleh kalau saya nego waktu dulu untuk pembayaran penuh atas rumah itu pak?

Pak Juki: Ya ndak apa-apa pak, saya juga nggak buru-buru kok pak ini. Ya kalau Pak Tomo berminat dan bisa bulan depan saya nggak masalah pak.

Pak Tomo: Kalau begitu apa perlu saya kasih uang muka dulu pak?

Pak Juki: Ah, nggak usah pak, sama tetangga sendiri juga kok, hahaha. Jadi kalau bulan depan malah kita bisa sambil ngobrolin tetang notarisnya.

Ya kalau jadi, nanti saya nggak keberatan cari notarisnya pak, biaya notaris biar saya yang tanggung.

Pak Tomo: Wah, ya boleh lah kalau begitu pak. Tapi baiknya saya DP aja ya pak biar sama-sama enak.

Pak Juki: Ya saya ikut bapak saja enaknya gimana.

Pembelian
Pak Tomo: Ini saya DP 300 juta dulu ya pak, sisa pelunasannya bulan depan sekalian.

Pak Juki: Sebentar pak, kalau begitu saya ambil kwitansi dulu sama materai. Soalnya ini uang bukan sedikit jumlahnya, biar saya lega dan bapak juga ada pegangan hukum, maaf bukan maksudnya gimana-gimana lho pak, hahaha.

Pak Tomo: Iya pak, hahaha, saya ikut bapak saja.

(Pak Juki mengambil kwitansi dan materai, lalu menulis)

Pak Juki: Ini sudah betul ya pak? Silahkan bapak tanda tangan di sini.

Pak Tomo: Baik pak (Menandatangani)

Pak Juki: Jadi ini deal ya pak.

Pak Tomo: Deal pak, dan semoga tidak ada halangan sama sekali pak.

Pak Juki: Mudah-mudahan pak, Amin. Kalau begitu bisa kita rembug segala macamnya dengan notaris bulan depan sekalian ya pak.

Pak Tomo: Iya pak. Deal ini ya pak.

Pak Juki: Deal pak, semoga lancar sampai bulan depan.

Pak Tomo: Amin.
Penutup
Pak Juki: Wah sampai lupa bikin suguhan buat bapak ini.

Pak Tomo: Hahaha, santai saja pak. Kalau begitu ini saya tak pamit dulu.

Pak Juki: Lho kok buru-buru pak? Nggak ngopi-ngopi dulu?

Pak Tomo: Wah, terimakasih pak, saya tak langsungan saja, ngurus kebun dulu, bentar lagi panen biar maksimal hasilnya.

Pak Juki: O, ya sudah kalau gitu, mudah-mudahan lancar rejekinya ya pak, terimakasih banyak.

Pak Tomo: Sama-sama Pak, saya juga terimakasih.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Di Pasar – Daging

Di sebuah pasar tradisional, Bu Heri mau membeli daging di salah satu lapak langganannya.

Orientasi
Penjual: Selamat pagi Bu Heri, wah sudah belanja macem-macem ini…

Bu Heri: Iya nih pak, mau ada arisan nanti sore, jadi rencananya masak agak banyak hari ini.

Penjual: Ini kebetulan dagingnya segar-segar Bu, baru sampai subuh tadi, belum kena freezer. Ibu Heri mau daging apa? Kambing apa sapi?

Permintaan
Bu Heri: Sapi aja lah pak, ga berani makan kambing, bapak lagi naik tensinya, bisa gawat kalau makan daging kambing.

Penjual: Oh, tensinya sering naik to buk? Kalau saya tiap hari makan daging kalau gak sapi ya kambing.

Sejauh ini tensi saya aman bu, tapi ya itu, rajin makan ketimun, melon, semangka, apel, kangkung, hahaha, biar seimbang bu. Sama banyak minum air putih dan yang terpenting itu harus ikhlas bu.

Bu Heri: Ikhlas bagaimana pak?

Penjual: Ya kalau menjalani hidup ini ikhlas pasti kan adem ayem aja, jadi tensinya nggak bakalan naik, hahaha.

Bu Heri: Betul juga bapak ini…

Penjual: Nah, ini ibu silahkan pilih, mau bagian mana? Paha? Iga?

Bu Heri: Kalau paha sekilonya berapa pak?

Penjual: Masih sama bu kayak kemarin, 110 ribu.

Bu Heri: kalau iga?

Penjual: buat Bu Heri tak diskon aja deh, 105 ribu untuk 1 kg iga.

Penawaran
Bu Heri: kalau begitu saya ambil daging bagian paha 1 kg, iga ½ kg. Tapi harganya mbok jangan segitu pak, belanjaan saya pas banyak ini lho…

Penjual: Hahaha, ya sudah, khusus buat Ibu nanti semuanya tak kasih harga 210 ribu saja.

Bu Heri: Hehehehe, tambah bonus tulang dong pak, buat bikin kaldu.

Persetujuan
Penjual: Siap Bu Heri. Pokonya beres. (penjual daging itu mulai menyiapkan pesanan Bu Heri)

Bu Heri: Terimakasih pak.

Pembelian
Penjual: Ini Bu, sudah siap, tak pisah jadi dua ya buk, yang ini iga sama tulang, yang ini paha. Semua 210 ribu.

Bu Heri: Sip. Ini pak uangnya.

Penjual: Uangnya 250 ribu. Ibu nggak punya uang pas?

Bu Heri: Wah, habis pak buat beli cabe tadi, lha gimana pak? Nggak ada kembalian ya?

Penjual: Iya ini dari tadi yang beli pake uang besar semua. Gini aja bu, 200 ribu dulu aja, yang 10 ribu besok aja kalau pas ibu belanja ke sini lagi.

Bu Heri: Oh, ya sudah kalau begitu, yang 10 ribu tak kasih besok ya pak.

Penutup
Penjual: Ya Bu, gampang lah, hahaha…

Bu Heri: Ini terimakasih ya pak, saya tak langsungan dulu.

Penjual: Ya bu, terimakasih banyak, salam buat Pak Heri.

Bu Heri: Ya pak, mari…

Penjual: Mari Bu Heri…

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Baju

Di sebuah toko baju, Dito sedang mencari kemeja kerja.

Orientasi
Karyawati: Mari Mas, ada yang bisa dibantu?

Dito: Mau lihat-lihat dulu boleh mbak?

Karyawati: Oh iya silahkan mas, yang deretan ini celana, sebelah sana kemeja, sebelah situ kaos, di pojokan sana ada celana dalam, jaket, topi, silahkan lihat-lihat dulu mas.

Dito: Iya mbak, terimakasih, tak ke deretan kemeja aja mbak.

Karyawati: Masnya cari kemeja?

Permintaan
Dito: Iya mbak, buat kerja.

Karyawati: Oh, kalau buat kerja yang deretan itu bagus-bagus mas.

Dito: Hahaha, iya mbak. Maunya sih nyari yang bagus tapi murah.

Karyawati: Wah, kebetulan, merek itu barangnya bagus-bagus dan diskon 30% mas, lagi promo.

Dito: Coba saya lihat dulu mbak. Oh iya, bisa dicoba kan ya?

Karyawati: Bisa mas, ruang ganti sebelah sana.

Dito: Oke mbak. Saya lihat-lihat dulu kalau begitu.

(Dito mulai memilih kemeja)

Pemenuhan
Dito: Mbak, menurutmu kemeja ini pas nggak buat saya kalau pas kerja?

Karyawati: Pas sih mas, tapi kalau boleh tahu masnya kerja apa ya?

Dito: Masih mau nglamar kerja sih mbak…

Karyawati: Di mana mas?

Dito: Di kebun binatang.

Karyawati: Kalau menurut saya, masnya cocok kalau pakai yang warna coklat mas, lengan pendek, biar kesannya kayak peneliti satwa di acara TV itu lho.

Coba saya pilihkan, yang ini…ini..ini…nah, ini dia mas, ini kalau dipadukan dengan celana hitam yang sedang mas pakai ini sangat cocok, tampak santai, luwes dan masih berkesan formal kok mas kalau buat wawancara kerja.

Dito: Wah, mbaknya ini jago juga ya pilihin baju…

Karyawati: Lha kan ini memang kerjaan saya mas.

Penawaran
Dito: Mbak, kemeja ini harga pas ya?

Karyawati: Iya mas, persis seperti yang tertera pada label harga, labelnya itu belum didiskon mas, jadi nanti akan dipotong 30%.

Dito: Oh, kirain bisa ditawar harganya.

Karyawati: Kecuali kalau masnya belanja minimal 5 item, nanti akan ada potongan harga lagi kok mas, tergantung bosnya kalau soal ini.

Dito: Wah, cuma butuh 1 kemeja mbak…

Karyawati: Brarti masnya Cuma bisa dapat diskon mas, hahaha, lumayan lho mas.

Persetujuan
Dito: Ini aja deh mbak.

Karyawati: Baik mas, saya buat notanya dulu ya, nanti bayarnya di kasir sekalian ambil barangnya di sana.

Pembelian
Dito: Oke mbak, aku langsung ke kasir kalau gitu. Makasih banyak ya sudah dibantu pilih kemeja.

Karyawati: Sama-sama mas. Jangan kapok belanja baju di sini ya.

Dito: Siap. Nggak kapok kok mbak, asal kalo saya ke sini mbak yang bantuin, hahaha…

Karyawati: Hahaha, bisa aja masnya. Ini mas notanya.

(Dito langsung ke kasir)

Kasir: Semuanya 125 ribu rupiah mas.

Dito: Ini mbak.

Kasir: Uangnya 130 ribu, kembali 5000 rupiah ya mas.

Penutup
Dito: Terimakasih mbak.

Kasir: Sama-sama mas, selamat belanja kembali lain waktu.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Hp

Di sebuah kios HP, Jarwo sedang ingin membeli HP android baru.

Orientasi
Penjual: Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu?

Jarwo: Mau lihat-lihat dulu mas…

Penjual: Oh iya, silahkan mas…

Permintaan
Jarwo: HP android yang bagus itu merek apa ya mas?

Penjual: Wah, tergantung kebutuhan, spesifikasi sama budget mas…

Jarwo: Maksudnya mas? Saya nggak paham, baru kali ini nyari android soalnya.

Penjual: Kira-kira nanti mau dipakai buat apa saja mas?

Jarwo: Ya macem-macem mas, komunikasi sama temen-temen, WA, Fesbuk, browsing, lihat vidio, buat foto-foto, sama buat main game mas. Apa ya yang bagus?

Penjual: Mau yang merk mahal apa ekonomis mas?

Jarwo: Yang sedang aja mas

Penjual: Oh, kalau gitu pilih merk USUS, LENOGO, atau SAMSUL Semesta aja mas. Itu merek bagus, ada yang harganya ekonomis, sedang, sampai yang mahal mas.

Jarwo: Bedanya yang murah sama yang mahal apa sih mas?

Penjual: Spesifikasinya mas, mereknya bisa apa saja, tapi biasanya orang nyari itu pilih speknya yang sesuai sama kebutuhan mas.

Jarwo: Kalau kebutuhanya kayak saya tadi enaknya apa ya mas?

Penjual: Itu sih standard mas, apa saja masuk. Tinggal pilih kameranya sama ram nya aja, mau kamera berapa Mp sama ram berapa giga?

Jarwo: Oh, kalau itu dong aku, aku mau yang di atas 8 Mp sama ram minimal 2 giga aja mas.

Penjual: Coba tak carikan yang kameranya 13 Mp ya mas, ram 2 giga….dari tiga merek tadi ada semua mas, tapi harganya beda dikit.

Jarwo: Yang paling miring merek apa mas?

Penjual: Merek USUS mas yang sesuai spesifikasi masnya…

Jarwo: Coba mas, boleh saya lihat barangnya?

Pemenuhan
Penjual: Ini dia mas yang merk USUS, sekalian tak bawain yang merek lain mas, SAMSUL dan LENOGO.

Jarwo: Kalau masnya pilih mana mas?

Penjual: Kalau saya sih pakai SAMSUL mas, ini Hp saya (menunjukkan Hpnya) harganya sedikit lebih mahal, tapi ngetrend mas, banyak yang pakai.

Penawaran
Jarwo: Oh…gitu ya…bentar, kalau USUS harganya berapa mas?

Penjual: Kalau yang seri ini, 1.850.000 mas.

Jarwo: Mahal amat mas…

Penjual: Bisa ditawar, tapi nggak bisa turun banyak mas, ini sudah murah lho kalau dibandingin tempat lain.

Jarwo: Kalau SAMSUL?

Penjual: SAMSUL 2,3 mas

Jarwo: Trus kalau LENOGO?

Penjual: LENOGO 2,1 mas

Jarwo: Wah…kirain 1,5 udah bisa dapet…

Penjual: Ya bisa aja, tapi ya spesifikasinya turun….ada kok mas USUS yang spesifikasinya lumayan bagus, ram 2 giga, kamera 13 Mp…harganya segituan…tapi Cuma bisa sinyal 3G…

Jarwo: Wah bingung aku mas…

Penjual: Selow mas, dipikir-pikir dulu, ini lho ada air mineral gratis, silahkan diambil. Ini ada katalog, siapa tahu dapat merk yang cocok.

Jarwo: Sip mas, ini kalau saya beli hpnya udah bisa langsung pakai kan mas?

Penjual: Bisa mas, nanti diinstalin di sini gratis sama dapat kartu perdana gratis buat aktivin Hp

Jarwo: Masak bonusnya Cuma kartu perdana mas?

Penjual: Tergantung masnya mau beli apa dulu, bonus bisa diatur…

Jarwo: Aku ambil USUS aja mas, tapi harganya turunin dong…

Penjual: 1,8 aja mas, boleh dibawa pulang tuh hp…

Jarwo: 1,75 mas…

Penjual: Wah, kejauhan mas…gini aja deh, 1,8 aku kasih bonus kartu sama casing pelindung hp mas, sekalian pelindung layarnya bias nggak gampang lecet.

Jarwo: Dapat charger kan mas?

Penjual: Dapat lah mas, itu kan bawaan dari pabrik.

Jarwo: Dapat power bank nggak?

Penjual: Dapet tapi habis itu aku digantung bosku mas, hahaha…belum mas kalau itu, mahal soale…

Persetujuan
Jarwo: Oke lah, aku ambil yang ini mas.

Penjual: Deal ya!

Jarwo: Deal mas.

Penjual: Kalau begitu ini aku instal sama tak isi programnya ya mas.

Jarwo: Siap mas.

Pembelian
Penjual: Ini notanya, 1,8 juta mas.

Jarwo: Siap, ini uangnya mas.

Penjual: Siap, tak hitung dulu ya mas. (menghitung uang) Sip, pas ya mas. Ini Hpnya butuh waktu 30 menitan mas soalnya baterainya harus diisi dulu baru bisa diinstal.

Jarwo: Siap mas, tak tunggu di sini boleh?

Penjual: Boleh banget mas, ini lho mas ada minum sama majalah biar gak bosan nunggu.

Jarwo: Oke deh. (Jarwo menunggu)

Penutup
(30 menit kemudian)

Penjual: Ini mas dah jadi, masnya tinggal aktifin dulu gmailnya biar bisa masuk ke googleplay. Silahkan diaktifkan dulu gmailnya mas, nanti download aplikasi disini aja gratis.

Jarwo: Siap mas. Sebentar ya. Sudah nih mas.

Penjual: Sip, ini sudah ada aplikasi bawaan mas, terus sudah diaktifin juga pake gmail masnya. Nah kalau ada aplikasi yang pengen ditambahin boleh lho download di sini.

Jarwo: Sip mas, sementara ini aja dulu, aplikasi yang lain bisa tak download lain kali.

Penjual: Oke kalo gitu mas, ini box sama perlengkapan lainnya, casing udah, pelindung layar sudah, kartu udah di dalam, sama ini kartu garansinya ya mas. 1 tahun. Tapi garansi servis.

Notanya jangan sampai ilang dulu biar kalau ada apa-apa bisa dapat garansi mas. Nanti bisa langsung ke sini aja kok mas.

Jarwo: Oke mas, terimakasih banyak ya mas.

Penjual: Sama-sama mas, jangan kapok beli hp di sini ya mas kalau perlu lagi.

Jarwo: Hahaha, yoi mas.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Sepatu

Di sebuah lapak sepatu baru dan bekas, Hasan hendak berburu sepatu kulit bekas.

Orientasi
Penjual: Mari mas, silahkan dipilih sepatunya, ada yang baru, ada yang bekas, masih bagus-bagus ini mas, barang import.

Hasan: Lihat-lihat dulu boleh pak?

Penjual: Boleh banget mas, dicoba-coba juga boleh.

Pemenuhan
Hasan: Coba lihat sepatu yang di rak itu pak, sepatu bot kulit warna coklat…

Penjual: Yang ini mas?

Hasan: Iya pak?

Penjual: Silahkan dicek…

Hasan: Yang ini berapaan pak?

Penjual: Yang itu 250 ribu mas.

Hasan: Kalau yang sebelahnya itu pak?

Penjual: Itu sama mas, seukuran juga dengan yang coklat ini.

Hasan: Kok mahal amat pak?

Penjual: Ya biar bekas itu asli dari perancis mas…saya belinya juga mahal dan susah nyarinya.

Penawaran
Hasan: Boleh turun gak pak harganya?

Penjual: Ya boleh aja ditawar dulu mas, kalau cocok bisa dibawa.

Hasan: Dua-duanya boleh gak kalau 300 ribu?

Penjual: Wah, jauh amat mas. Belum bisa kalau segitu.

Hasan: Tak beli dua lho pak…

Penjual: Ya 400 ribu deh mas.

Hasan: Wah, uangnya ga sampai kalau segitu pak…

Penjual: Hehehe, kalau gitu beli 1 dulu mas, yang 1 bisa tak simpen buat masnya kalau mau, gimana mas? Terus terang ini barang bagus mas dan cepat laku di sini.

Hasan: Brarti kalau gitu 1 pasang 200 ribu pak?

Penjual: Iya mas, boleh kalau segitu.

Hasan: Ini ada uang 350 sih pak, nih lihat nih di dompet cuma segini pak, boleh nggak dua pasang 350 ribu?

Penjual: Wah…berat mas…390 bisa deh.

Hasan: Yah…lha yang 40 gak ada nih pak…

Penjual: Hahaha, masnya ini bisa aja, kan di ATM masih buanyak, hahaha…

Hasan: Hahaha…ya namanya juga usaha pak. Gini aja deh pak, kalau boleh dua pasang 350, kalau nggak ya sudah deh, brarti belum jodoh.

Penjual: Gak mau beli 1 dulu aja mas?

Hasan: Nggak pak, saya maunya dua harganya segitu, kalau boleh sih pak.

Penjual: 360 deh mas…masak gak ada sih tambah 10 ribu aja? Biar saya dapat untungnya agak mendingan lah mas.

Persetujuan
Hasan: Oke deh, 360 aku bisa pak.

Penjual: Deal mas.

Pembelian
Hasan: Oke pak! Bungkus. Ini uangnya, pas 360 ribu.

Penjual: Terimakasih mas. Oh iya, Ini mau tak wadahin kardus apa adanya atau dibungkus plastik aja mas?

Hasan: Plastik aja pak biar muat masuk tas. Ribet kalau masuk kardus.

Penjual: Oke mas, silahkan, ini sepatunya sah jadi milik masnya.

Penutup
Hasan: Sip. Terimakasih banyak pak. Oh iya pak, tiap bulan saya cari sepatu. Ini kartu nama saya dan nomor hp ada disitu, bapak kasih tau saja kalau ada barang bagus.

Penjual: Lho masnya memang jual lagi kok tiap bulan cari sepatu?

Hasan: Sebenarnya sih koleksi aja pak, saya suka. Nggak saya jual tapi kadang saya sewain pak buat anak-anak yang suka bikin film sama teater itu lho.

Tapi kalau sudah bosan dan kepepet gak ada uang ya ada juga koleksi yang saya jual pak.

Penjual: Oalah, ya mas, kalau ada barang baru tak kabarin, lewat WA aja mas biar ada fotonya.

Hasan: Sip pak, kalau cocok dan harganya masuk pasti saya beli kok pak. Terimakasih ya pak, ini sepatunya tak bawa dulu.

Penjual: Sama-sama mas, terimakasih banyak.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Pemecah Konflik

Di daerah rawan konflik, kepala desa A sedang berunding dengan kepala desa B untuk menemukan solusi agar masing-masing warga mereka berhenti tawuran.

Pembukaan
Kepdes A: Jadi bagaimana ini pak, situasi yang terjadi di desa saya dan desa bapak semakin panas ini. Aparat polisi malah mengembalikan kasus ini kepada kita.

Kepdes B: Ya kasus seperti ini juga repot kalau ditangani polisi pak, memang baiknya dirundingkan secara kekeluargaan, tapi ya kita berdua yang harus jadi tumbal kali ini.

Isi
Kepdes A: Sebenarnya saya dan para tetua desa sudah musyawarah, warga kami bisa tenang kalau pabrik kertas yang baru dibangun di desa bapak di tutup, soalnya limbah pabrik itu dibuang ke sungai dan warga kami sebagian besar menggantungkan nasib perikanannya di sungai itu pak.

Saya mengerti kalau sebagian besar warga bapak mulai bekerja di pabrik itu dan desa bapak dapat donatur tetap, tetapi kalau kemudian warga yang diadu domba seperti ini gara-gara pabrik tidak mau rugi mengolah limbah kan bisa jatuh banyak korban pak…

Kepdes B: Ya seandainya warga bapak koordinasi dahulu dan tidak langsung ramai-ramai mendatangi pabrik dan akhirnya bentrok dengan warga kami kan seharusnya kekacauan ini tidak terjadi.

Ini masalahnya sudah lebih dari sekedar limbah pak, beberapa warga kami yang terluka jelas tidak terima dan mungkin warga bapak juga demikian…

Kepdes A: Nah, kalau seperti ini terus kan tetap tidak ada titik temu. Ya gimana lah caranya agar bapak rapat dengan warga atau tetua desa supaya persoalannya ini difokuskan kembali ke limbah pabrik.

Jadi desa kami dan desa bapak sepakat kalau pabrik harus mengolah limbahnya dan tidak membuang limbah itu ke sungai. Terus terang kali ini warga kami kehilangan ribuan ikan gara-gara limbah itu pak.

Kepdes B: Ya pak, saya mengerti, memang ini kasus yang sulit sekali dan baru terjadi di desa kita.

Kepdes A: Gini aja deh pak, kami tidak akan menuntut apa-apa lagi kalau pabrik itu berhenti membuang limbah ke sungai.

Jika bapak sepakat, maka kita berdua nanti harus lapor ke dinas lingkungan hidup terlebih dahulu lalu ke kantor polisi untuk sama-sama menyelesaikan masalah ini.

Kepdes B: Baik kalau begitu, sore nanti saya akan merundingkan ini dengan para warga desa, lalu besok kita berdua selaku lurah sama-sama ke pihak berwajib.

Biar hal ini jadi urusan pabrik dengan lembaga hukum, jadi warga kita sama-sama aman.

Kepdes A: Saya sepakat pak. Sementara kita berdua harus sebisa mungkin mencegah adanya bentrok susulan, saya sudah kerahkan para tokoh masyarakat desa untuk menenangkan warga.

Kepdes B: Baik pak, saya juga pasti akan melakukan hal serupa.

Penutup
Kepdes A: Ya sudah kalau begitu pak, saya pamit dahulu.

Kepdes B: Ya pak, sampai ketemu lagi besok siang. Kita langsung saja ketemu di kantor dinas lingkungan hidup ya pak.

Kepdes A: Iya pak, asalamualaikum.

Kepdes B: wa’alaikum salam.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Formal

Di sebuah istana negara, Presiden A bertemu dengan Presiden B untuk membahas kerjasama anti terorisme.

Orientasi
Presiden A: Senang berjumpa dengan anda pak, bagaimana perjalanan anda? Menyenangkan?

Presiden B: Senang berjumpa dengan anda lagi, hahaha, perjalanan saya kali ini sangat mengesankan. Negara anda sudah banyak mengalami perubahan ternyata. Sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu saat saya berkunjung ke sini.

Presiden A: Ya, tentu perkembangan teknologi global ikut serta mengubah wajah negara kami saat ini. Tapi bagaimanapun juga saya salut dengan negara anda, meski wilayahnya kecil namun semua warganya hidup makmur.

Presiden B: Ah, itu yang tampak dari luar pak presiden, kami juga punya banyak masalah internal, terutama terkait dengan keamanan negara.

Mengingat jumlah penduduk negara kami tidak sebanyak jumlah penduduk negara anda, dan mayoritas penduduk kami adalah pebisnis, jadi kami sangat kekurangan pasukan untuk menjaga keamanan negara.

Presiden A: Ah, anda selalu merendah pak presiden, bagaimanapun juga peralatan tempur kami sebagian diproduksi oleh negara anda, jadi saya kira negara anda tetap memiliki sistem keamanan yang bagus.

Presiden B: Hahaha, ya saat ini kami sedang khawatir dengan pesebaran terorisme yang sulit sekali dideteksi.

Badan intelejen negara kami sangat kekurangan orang. Apalah gunanya peralatan canggih jika tidak ada yang mengoperasikannya.

Presiden A: Betul, terorisme kini mulai tumbuh merebak dimana-mana dan sangat sulit dideteksi. Kami juga mengalami permasalahan serupa.

Beberapa waktu belakangan ini sudah ada tiga titik yang dijadikan sasaran bom bunuh diri oleh para teroris. Kami sudah bekerja siang malam untuk memantau keberadaan teroris namun tetap saja ada yang lolos.

Isi
Presiden B: Ya, untuk itulah kita perlu melakukan kerjasama untuk melawan terorisme di kedua negara kita.

Presiden A: Saya sangat sepakat dan menyambut baik kerjasama ini. Semoga kerjasama ini menguntungkan keduabelah pihak.

Presiden B: Sebagaimana yang telah anda ketahui, kami memiliki peralatan yang canggih yang telah kami kembangkan belakangan ini.

Peralatan ini terhubung dengan satelit kami yang bisa sangat membantu untuk memantau pergerakan teroris pada titik-titik yang telah kita kehendaki. Tentu negara anda yang luas ini membutuhkan peralatan semacam ini.

Presiden A: Anda benar pak presiden. Sementara itu kami punya ribuan pasukan terlatih untuk bergerak dalam bidang intelejen yang telah kami sebar di seluruh dunia.

Bilamana diperlukan, kami bisa menugaskan pasukan kami dan menempatkannya di negara anda untuk bekerjasama dibawah komando negara anda.

Presiden B: Itu yang sangat kami harapkan. Semua ini tak lain hanya untuk menjaga negara kita dari ancaman terorisme. Tak kurang tak lebih.

Presiden A: Saya sepakat dengan hal itu. Jika dalam 10 tahun ke depan kita bekerjasama untuk hal ini. Jikapun kita tak lagi menjabat sebagai presiden, maka perjanjian ini tetap berlaku hingga 10 tahun ke depan.

Presiden B: Baik, saya sepakat.

Presiden A: Nah, saya kira kita telah menemukan sedikit solusi untuk hal ini. Selain pokok utama terkait dengan terorisme, apakah anda ingin bekerjasama dalam hal yang lain dengan negara kami?

Presiden B: Tentu saja, kami sangat membutuhkan suplai bahan makanan dan bahan baku industri dari negara anda yang sangat kaya dengan hal-hal yang kami butuhkan.

Presiden A: Kami bisa untuk itu, dan sejujurnya negara kami juga sangat membutuhkan investor untuk membanguan kantong-kantong ekonomi di berbagai daerah yang sebetulnya sangat berpotensi namun belum terurus secara optimal.

Presiden B: Kami sanggup untuk itu karena kami sedang mencari lahan untuk dikelola, khususnya pada sektor pertanian dan peternakan.

Negara anda sudah waktunya memulai pertanian modern untuk meningkatkan hasil produksi panen dengan cara rekayasa pertanian.

Kami memiliki banyak laboratorium untuk meriset berbagai jenis tanaman agar bisa tumbuh dan berproduksi dengan maksimal.

Bila hal ini berhasil, maka negara anda akan mampu berproduksi berkali-kali lipat. Tentu hal ini juga akan menguntungkan kami karena kami juga membutuhkan bahan-bahan tersebut.

Presiden A: Ya, kami sangat minim tenaga ahli dalam hal itu dan sejujurnya peralatan di laboratorium pertanian dan peternakan kami harus diupgrade.

Presiden B: Baiklah kalau begitu, saya kira kerjasama ini akan sangat menguntungkan untuk negara kita.

Presiden A: Bagaimana kalau kerjasama dalam bidang ini kita lakukan selama 50 tahun kedepan?

Presiden B: Saya setuju.

Penutup
Presiden A: Nah, saya kira sudah waktunya kita makan siang sebelum kita lanjutkan ke penandatanganan kontrak kerjasama ini dan agenda-agenda lainnya.

Kami telah menyiapkan berbagai jenis masakan dari berbagai daerah di negara kami. Ada 1000 jenis masakan yang harus anda cicipi, hahaha.

Presiden B: Hahaha, becanda anda ini, saya hanya sanggup mencicipi 999 jenis makanan. Hahaha.

Presiden A: Hahaha, anda masih tetap memiliki selera humor yang luar biasa.

Presiden B: Baiklah, saya sudah tidak sabar. Anda tahu, saya sudah 2 hari berpuasa demi makan seluruh jenis makanan di negara anda, Hahaha

Presiden A: Hahaha, anda luar biasa pak presiden. Mari kita ke hall dan berjumpa dengan berbagai makanan dan hiburan kesenian daerah kami.

Presiden B: Ini yang paling saya tunggu-tunggu. Ayo Pak Presiden, saya sudah tidak sabar lagi.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Antara Pengusaha dan Pihak Bank

Di sebuah bank, seorang pengusaha menemui pegawai bank atas respon terhadap proposal peminjaman modal yang diajukan kepada pihak bank.

Orientasi
Pengusaha: Selamat Pagi pak.

Petugas bank: Selamat pagi pak. Dengan bapak Suhendra?

Pengusaha: Betul pak.

Pengajuan
Petugas bank: Kami sudah membaca proposal yang anda ajukan untuk peminjaman modal. Menurut kami, usaha peternakan ayam yang akan bapak buat ini sangat menarik.

Namun demikian, kami harus melakukan proses verifikasi wawancara dengan bapak sebelum menindaklanjuti permohonan bapak.

Pengusaha: Iya Pak.

Petugas bank: Boleh tahu bisnis bapak saat ini atau sebelumnya?

Pengusaha: Sebelumnya saya hanya karyawan swasta. Saya telah bekerja selama 8 tahun dan mulai jenuh. Lantas saya berfikir untuk membuat usaha sendiri.

Kebetulan saya memiliki lahan seluas 400 meter yang jauh dari pemukiman dan saya kira lahan tersebut cocok untuk peternakan.

Nah, untuk jenis ternak yang saya kuasai ilmunya ya ternak ayam petelur pak.

Dulunya saya kuliah di peternakan dan tugas akhir saya meneliti peternakan ayam petelur. Jadi saya sudah paham seluk beluknya, kendalanya, hingga pemasaran hasil produksinya.

Petugas bank: Tapi setelah lulus bapak bekerja di percetakan?

Pengusaha: Betul pak…ya namanya juga cari kerja, waktu itu karena tidak punya modal saya kerja seadanya. Lamaran kerja yang kebetulan diterima waktu itu ya di perusahaan percetakan.

Petugas bank: Pinjaman yang bapak ajukan sebesar 100 juta rupiah, betul?

Pengusaha: Betul pak.

Penawaran
Petugas bank: Di proposal sudah dijelaskan sih rinciannya, tapi menurut perhitungan kami, berdasarkan permohonan serupa yang pernah diajukan oleh pengusaha lain kepada kami, kisaran kebutuhan bapak sebetulnya cukup dengan jumlah pinjaman 70 juta saja pak. Itupun sudah lebih menurut kami.

Sehingga kami bisa menyanggupi jumlah pinjaman sebesar 70 juta dengan pengembalian secara angsuran sebesar 3,75 juta tiap bulan selama dua tahun. Itu sudah termasuk bunga pinjaman pak. Bagaimana menurut bapak?

Pengusaha: Apa nggak bisa dinaikan lagi jumlah nominal yang bisa saya pinjam pak?

Terus terang angka 100 juta yang saya tawarkan itu merupakan hitungan dengan harga saat ini. Jadi saya akan sangat kesulitan seandainya yang di kabulkan kurang dari jumlah tersebut.

Petugas bank: Bagaimana kalau 80 juta?

Pengusaha: Nggak bisa lebih lagi pak?

Petugas bank: Itu angka maksimal yang bisa kami kabulkan untuk permohonan bapak. Tentu dengan jumlah angsuran yang berbeda, yakni 4 juta tiap bulan selama 2 tahun.

Pengusaha: Sudah nggak bisa nambah dikit lagi ya pak.

Petugas bank: Tidak bisa pak.

Persetujuan
Pengusaha: Ya sudah kalau begitu, saya setuju dengan nominal 80 juta beserta dengan jumlah angsurannya selama dua tahun.

Petugas bank: Dan peminjaman ini dengan jaminan sertifikat tanah bapak yang akan didirikan peternakan itu ya pak?

Luas tanah 400 meter dengan kisaran harga kurang lebih 600 juta.

Pengusaha: Iya pak.

Petugas bank: Baik kalau begitu bapak tunggu sebentar, saya siapkan berkas-berkas yang bisa bapak tandatangani.

Pengusaha: Baik pak.

(petugas bank menyiapkan berkas)

Petugas bank: Ini bapak berkasnya, silahkan dibaca dulu, nanti kalau setuju silahkan tanda tangan, usahakan tanda tangannya kena materai ya pak.

Pengusaha: Iya pak. Rangkap dua ya pak ini (menandatangani). Sudah pak.

Petugas bank: Baik bapak, ini yang 1 bendel buat bapak, dan satunya lagi akan jadi arsip kami. Nah, pencairan ini akan segera di transfer ke nomor rekening bapak hari ini.

Penutup
Pengusaha: Jadi ini sudah beres semua pak?

Petugas bank: Sudah pak.

Pengusaha: Kalau begitu saya pamit dulu pak.

Petugas bank: Baik bapak, terimakasih banyak atas kerjasamanya.

Pengusaha: Sama-sama pak. Mari.

Petugas bank: Mari pak, silahkan.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Bisnis – Karet

Suatu hari, seorang direktur perusahaan A mendatangi kantor direktur perusahaan B untuk negosiasi kerjasama bisnis.

Orientasi
Direktur A: Selamat pagi Bu.

Direktur B: Selamat pagi pak, mari silahkan. Wah, ternyata bapak datangnya pagi ya, saya kira agak siang nanti menjelang makan siang, hahaha…

Direktur A: Iya bu, maaf ini kepagian, soalnya nanti siang saya harus rapat dengan pemilik perusahaan.

Direktur B: Kepagian juga nggak apa-apa pak, saya juga sedang kosong jadwalnya hari ini. Just stand by aja, hahahaha…

Pengajuan
Direktur A: Jadi hari ini sebenarnya saya ingin membahas kelanjutan penawaran yang telah saya singgung sedikit lewat email yang saya kirim kemarin Bu.

Nah, karena perusahaan saya membutuhkan bahan baku dari perusahaan ibu, maka kedatangan saya ini tentu berkaitan dengan hal tersebut.

Direktur B: Ya pak, saya sudah baca detail lampiran dari email bapak. Kalau boleh tahu, kenapa kok nggak lanjut dengan perusahaan suplier sebelumnya pak? Maaf lho, ini kalau boleh tahu saja pak.

Direktur A: Oh, perusahaan sebelumnya yang bekerjasama dengan kami sedang mengalami masalah finansial serius dan jumlah produksi yang harus dikirim ke perusahaan kami jadi tidak stabil.

Kami tidak mau mengambil resiko ikut-ikutan menurun produktivitasnya. Lagipula, harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi untuk ukuran bisnis semacam ini.

Ya tentunya harus bisa dibedakan dong mana jualan eceran sama kerjasama bisnis semacam ini.

Pihak kami sudah berusaha melakukan negosiasi baik-baik tetapi tetap tidak ada jalan tengah yang sama-sama menguntungkan. Terpaksa kami putus hubungan kerjasama.

Direktur B: Oh begitu rupanya. Lantas kalau boleh tahu, maaf lho ini, kenapa memilih perusahaan kami, sementara untuk material serupa bisa didapatkan di beberapa perusahaan lain yang lebih besar?

Direktur A: Prinsip perusahaan kami adalah saling menguntungkan dan saling membangun antar perusahaan yang kami ajak kerjasama. Kami lebih senang bergandengan dengan perusahaan kecil jika dibandingkan perusahaan besar.

Maaf sebelumnya, jujur saja kami hanya berspekulasi kalau perusahaan Ibu sedang giat mencari rekanan karena perusahaan Ibu termasuk perusahaan baru.

Dalam hal ini tentu perusahaan ibu berani memainkan harga untuk mengambil hati pasar.

Jadi, kami lebih cenderung mencoba bekerjasama dengan perusahaan ibu terlebih dahulu sebelum mencoba berelasi dengan perusahaan lain.

Direktur B: Wow, anda jeli sekali. Baiklah, kami memang sedang mencari rekanan bisnis untuk pemasaran produk kami dan kami memang sedang bermain harga.

Untuk itulah saya harus merespon email bapak sehingga ada pertemuan pagi ini.

Nah, permintaan perusahaan bapak adalah bahan baku ban mobil dengan jumlah 3000 liter karet olahan tiap harinya.

Kebetulan perusahaan kami mampu memproduksi 10.000 liter karet olahan siap pakai, namun sejauh ini kami hanya memproduksi 5000 liter untuk perusahaan sebelah.

Direktur A: Nah, kebetulan lagi…kalau kami naikkan jumlah permintaan menjadi 5000 liter tiap harinya berarti bisa dong?

Direktur B: Bisa pak, sejauh ini suplier bahan mentah kami tidak mengalami kendala satupun. Tapi sejauh ini kami selalu main aman dengan menimbun bahan baku untuk produksi hingga satu bulan.

Jadi kalau ada apa-apa kami sudah punya banyak rencana cadangan.

Penawaran
Direktur A: Bagus sekali. Ini yang kami mau. Baiklah, bagaimana dengan harga yang ibu ajukan untuk 5000 liter tiap harinya?

Direktur B: Kami pakai kisaran harga bawah untuk rekanan semacam ini, yakni 35 ribu rupiah per liter dan harga akan tetap segitu selama 3 bulan.

Jadi setiap 3 bulan sekali kami harap ada negosiasi harga dengan patokan harga bahan baku. Tentu perusahaan anda sudah tidak asing dengan hal ini bukan?

Direktur A: Ya, tentu untuk negosiasi harga biasanya kami selalu perbaharui seiring dengan naik turunnya harga bahan baku. Baiklah, kami langsung saja menawar ya, 33 ribu per liter.

Direktur B: Bisa, tapi bagaimana jika pembaharuan negosiasi harga kami ubah menjadi dua bulan sekali karena harga 33 ribu per liter itu termasuk rawan dan kami akan sangat repot jika harga bahan baku naik.

Persetujuan
Direktur A: Baiklah, saya kira cukup fair. 33 ribu per liter untuk suplai dua bulan ke depan.

Direktur B: Jika demikian, berarti tinggal tanda tangan dong. Hahaha, saya yang siapkan surat kontrak atau bapak?

Direktur A: Sama saja sih, tapi berhubung kami sedang di kantor ibu, bagaimana kalau surat kontraknya pihak ibu yang buat?

Direktur B: Baik bapak, dengan senang hati. Saya akan suruh sekretaris saya untuk menyiapkan surat kontrak. Bapak mau menunggu di ruang tamu? Ada hidangan sederhana di sana jika bapak berkenan.

Direktur A: Boleh deh, hahaha.

Direktur B: Silahkan bapak, lewat sini. Nah, ini ruangannya, silahkan menunggu sebentar, nanti saya akan ke sini lagi untuk penandatanganan kontrak. Silahkan dicicipi hidangan di meja.

Direktur A: Oke Bu, siap. Saya akan tunggu di sini.

(10 menit kemudian)

Direktur B: Maaf pak sedikit lama.

Direktur A: Ah, santai Bu.

Direktur B: Ini kontraknya, silahkan dibaca dulu.

Direktur A: Oke. Sip. Saya sih setuju saja dengan kontrak ini. Saya tanda tangan di sini ya Bu.

Direktur B: Iya Pak.

Direktur A: Sudah.

Direktur B: Saya juga tanda tangan ya pak. Nah, yang ini buat perusahaan bapak, dan satunya untuk kami.

Penutup
Direktur A: Sip. Saya senang bekerjasama dengan perusahaan Ibu.

Direktur B: Kami juga senang Pak.

Direktur A: Kalau begitu, terimakasih banyak. Saya mohon pamit dulu, selebihnya kita komunikasi via email atau telephone ya Bu.

Direktur B: Iya, Pak. Terimakasih banyak. Sampai jumpa dua bulan lagi.

Direktur A: Tentu. Baiklah, saya pamit. Selamat pagi bu.

Direktur B: Selamat pagi Pak.

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Di Sekolah – Buku LKS

Suatu hari di sekolah, seorang sales buku mendatangi ruangan kepala sekolah.

Orientasi
Kepala Sekolah: Mari mas, silahkan masuk.

Sales Buku: Maaf pak, mengganggu waktunya bapak.

Kepala Sekolah: Oh, nggak apa-apa, ada yang bisa saya bantu?

Isi
Sales Buku: Ini pak, saya mau menawarkan buku dan LKS untuk sekolah ini.

Kepala Sekolah: Masnya dari penerbit mana ya?

Sales Buku: Saya dari penerbit Erlangka

Kepala Sekolah: Oh…kebetulan sekali di semester baru ini, sekolah ini belum kerja sama dengan pihak manapun untuk buku dan LKS. Apa saja yang mas tawarkan.

Sales Buku: Sebenarnya saya menawarkan untuk semua mata pelajaran pak, tapi ya saya berusaha memenuhi kebutuhan sekolah saja.

Kepala Sekolah: Mahal nggak mas harga rata-rata LKS sama buku pelajarannya?

Sales Buku: Tentu murah pak dan kami membuat produk yang sekiranya selalu terjangkau oleh orang tua murid.

Ya jika dibandingkan dengan penerbit lain, saya berani bilang kalau produk kami jauh lebih murah dan lebih bermutu pak. Bapak bisa cek di katalog ini.

Kepala Sekolah: Ya kalau itu sih percaya saya mas, tapi dalam kerjasama ini, kira-kira keuntungan apa yang diperoleh pihak sekolah?

Sales Buku: Jika sekolah ini memesan buku untuk seluruh kelas 1-3, tentu ada bonus yang menarik buat bapak.

Kepala Sekolah: Boleh tahu apa bonusnya mas?

Sales Buku: Untuk itu, boleh saya tahu berapa jumlah siswa di sini pak?

Kepala Sekolah: Keseluruhan siswa dari kelas 1-3 ada 780 siswa.

Sales Buku: Ya kira-kira bonus buat bapak jika semua buku pelajaran dan LKS yang digunakan dari penerbit kami, pihak penerbit kami akan memberikan bonus 5 juta buat bapak serta sejumlah fasilitas sekolah seperti alat-alat olah raga pak.

Kepala Sekolah: Menarik mas, saya setuju. Hari ini akan saya sosialisasikan ke guru-guru bahwa sekolah akan memakai penerbit masnya untuk keperluan buku pelajaran sama LKS.

Sales Buku: Wah, terimakasih banyak pak.

Kepala Sekolah: Kapan kira-kira buku tersebut didatangkan?

Sales Buku: Seminggu setelah bapak menandatangani proposal ini, seluruh keterangan pemesanan tertera pak, maka kami akan mengirimkan buku ini ke sekolah. Pembayaran bisa kami terima selambat-lambatnya satu bulan setelah pengiriman.

Kepala Sekolah: Baik kalau begitu, saya setuju mas, saya bisa tanda tangani sekarang proposalnya.

Sales Buku: Ini pak proposalnya.

Kepala Sekolah: Saya lihat dulu ya mas….

(Kepala sekolah melihat-lihat sepintas isi proposal lalu menandatanganinya)

Sales Buku: Terimakasih banyak pak, kalau begitu selanjutnya saya akan bikin laporan ke pihak penerbit dan secepatnya mendatangkan buku-buku tersebut Pak.

Kepala Sekolah: Oke mas, saya tunggu.

Sales Buku: Kalau begitu saya pamit dahulu, terimakasih banyak pak. Oh iya, bonus akan kami berikan setelah pelunasan dari semua buku tersebut pak.

Penutup
Kepala Sekolah: Siap mas, Terimakasih banyak.

Sales Buku: Sama-sama pak. Selamat siang pak.

Kepala Sekolah: Selamat siang. Hati-hati di jalan.

Sales Buku: Iya pak. Mari…

Kepala Sekolah: Mari…mari…mas…

# # # # #

Contoh Teks Negosiasi Singkat – Bantu Bapak

Di sebuah rumah, sang bapak berbicara pada anaknya.

Pembukaan
Bapak: Nak, ke sini sebentar…

Anak: Ada apa pak?

Bapak: Sibuk nggak?

Anak: Memangnya kenapa pak?

Bapak: Bantu bapak bawa dagangan ke pasar.

Isi
Anak: Tapi pak, kan aku ada janji mau pergi keluar sama teman-teman…

Bapak: Kan pergi bisa kapan saja, lagipula bapak jarang minta tolong sama kamu kalau nggak penting banget.

Anak: Kakak kan ada pak…

Bapak: Kakakmu mau ujian. Jangan diganggu.

Anak: Aku juga mau belajar kelompok pak.

Bapak: Gini aja, kemaren kan kamu minta dibeliin gitar kalau bapak punya uang. Nah gimana kalau setelah anter dagangan bapak kasih kamu uang buat beli gitar sendiri.

Anak: Ah, kan gitar mahal pak, paling bapak Cuma kasih 50 ribu doang.

Bapak: Eits, jangan salah, dagangan bapak itu nilainya 3 juta. Harus dikirim hari ini. Daripada bapak ajak orang lain trus kasih upah ke orang lain kan mendingan kamu bisa dapat gitar. Memangnya berapaan harga gitar?

Anak: Paling murah 200 ribu.

Bapak: Ah kecil itu. mau gak?

Anak: Yang bener pak?

Bapak: Mau gak?

Anak: Mau pak.

Bapak: Yuk kalau gitu.

Anak: Ayok pak.

Bapak: Lha trus belajar sama teman-temanmu gimana?

Anak: Ah itu bisa lain kali pak, lagian kan jarang aku bantu bapak.

Bapak: Yang bener?

Anak: Bener pak, ayuk yuk…

Penutup
Bapak: ya sudah kalau begitu, kamu ganti baju dulu sana.

Anak: Siap pak!

# # # # #

Contoh Kalimat Negosiasi

Kalimat-kalimat negosiasi selalu identik dengan frasa-frasa tawar menawar, rayuan, atau bahkan intimidasi. Berikut ini merupakan contoh potongan kalimat-kalimat negosiasi:

Contoh Kalimat Negosiasi #1 – Lewat
A: Bolehkan saya lewat sini Pak?

B: Maaf dik, kalau mau masuk ya lewat depan, soalnya ini pintu keluar.

A: Tapi saya tadi udah masuk dari depan, dan sudah keluar lewat sini, tapi tas saya ketinggalan di penitipan barang, kalau lewat depan saya harus bayar lagi…boleh ya saya Cuma mau ambil tas…

B: Yang bener Cuma mau ambil tas?

A: Beneran pak sumpah, itu tasnya tadi saya taruh di penitipan barang, ini nomornya saja masih saya simpan…

B: Ya sudah kalau begitu, masnya langsung ambil saja ya terus keluar lagi lewat sini.

A: Baik pak, terimakasih.

Contoh Kalimat Negosiasi #2 – Hutang
C: Bro, kapan kamu bisa bayar utang? Maaf lho, tapi ini aku sedang kepepet butuh uang…

D: Sory bro, kalau hari ini aku belum punya uang. Gimana kalau tiga hari lagi, pas sudah tanggal 2 aku sudah dapat gaji.

C: Wah, bro…maaf banget bro…aku kepepet banget, bisa nggak kamu pinjem siapa dulu gitu, lagian kan minggu kemaren kamu bilang kalau hari ini bisa bayar utang, nah aku juga kebetulan janjiin mau bayar tagihan pulsa hari ini.

D: Ya…anu deh…apa…aku tak coba hubungi temenku ya, gimana kalau sejam lagi kita ketemu disini. Mudah-mudahan aku dapat pinjaman. Maaf bro aku ngrepotin kamu…

C: Oke bro, tak tunggu ya, sori lho bukan maksudnya aku maksa kamu…kalau nggak kepepet juga aku santai orangnya…

D: Siap bro…tunggu ya bro.

# # # # #

Contoh Drama Negosiasi – Parodi Ada Apa Dengan Cinta 2

Berikut ini merupakan parodi drama satu babak Ada Apa Dengan Cinta 2

TOKOH:

  1. RANGGA
  2. CINTA
  3. PELAYAN CAFE

BABAK 1

SETTING CERITA ADALAH SEBUAH CAFE, PUKUL 19.30, MUSIK JAZZ MENGALUN PELAN MENEMANI PARA PENGUNJUNG CAFE BERCAKAP-CAKAP.

DI SEBUAH MEJA, RANGGA DAN CINTA SEDANG BERCAKAP-CAKAP.

Pembukaan
Rangga: Cinta, kamu mau pesen apa?

Cinta: Hmmm…nasi goreng cumi, coklat panas, sama kopi aceh deh.

Rangga: Oke sip. Kamu lapar apa pengen?

Cinta: Dua-duanya, hahahaha! Kamu mau makan apa, Rangga?

Rangga: Udah kenyang, aku pesan roti bakar sama kopi luwak aja deh.

Cinta: Ntar aku nyicipin kopimu ya.

Rangga: Boleh, hahaha, kamu masih penggemar kopi ya?

Cinta: Ya iya lah, dari dulu sejak kita kenalan, trus kamu ke Amrik sampai kamu balik kemaren sore tuh aku masih tetep doyan kopi.

Rangga: Kenapa kok suka kopi?

Cinta: Pahit yang entahlah…itu yang aku suka. Rasanya selalu membawa nuansa puitik. Rasa kangen yang tak kunjung padam.

Rangga: Meski telah bertemu masih tetap kangen?

Cinta: Hanya ketika aku minum kopi, hahahaha!!!

Rangga: Sial! Hahaha! Eh, bentar yak tak panggil pelayan. (MEMANGGIL PELAYAN) Mas…mas…mau pesen.

Pelayan: Iya mas, ada yang bisa saya bantu?

Rangga: Kami pesen ini, ada semua nggak?

Pelayan: Ada semua mas, ada lagi yang lain?

Rangga: Itu dulu mas, nanti kalau nambah saya panggil lagi.

Pelayan: Baik mas, silahkan ditunggu bentar.

Rangga: Makasih mas.

Pelayan: (Tiba-tiba balik lagi) Eh, mas…mbak….maaf, boleh saya minta tanda tangan…bener kan yak ini mas Michel Saputra sama mbak Dean?

Rangga: Eee….Iya mas…bener…

Cinta: Nggak foto selfie aja sekalian mas?

Pelayan: Nggak ah mbak, nggak punya Hp. Maaf lho mas mengganggu…saya ngefans sama mas Michel dan mbak Dean… saya nonton filmnya dulu pas saya masih SMP…minta tanda tangan di seragam kerja saya saja ya mas……

Rangga: Lah, ntar kalau dimarahi si bos gimana?

Pelayan: Nggak mungkin kalau yang tanda tangan mas dan mbak…yang ada malah seragam ini di beli sama bos mas, hahaha…nggak mas, becanda…saya masih punya seragam lain mas, yang ini mau tak pigura.

Rangga: Oke mas, kami tanda tangan. Di sini ya? (RANGGA DAN CINTA MENANDATANGANI SERAGAM PELAYAN ITU)

Pelayan: Iya mas. Makasih banyak mas, mbak. Semoga sukses selalu. Tunggu bentar ya pesanannya.

Isi
Rangga: Ada-ada saja…

Cinta: Masih untung ada yang ngefans sama kita Michel…

Rangga: Tadi kita ngobrolnya sampai mana?

Cinta: Sampai 14 tahun yang lalu kamu tega ninggalin aku dan nggak balik-balik.

Rangga: Ya mau gimana lagi…aku mah harus jaga bokap. Sekarang sudah waktunya aku kembali.

Cinta: Kamu ga tau sih rasanya 14 tahun aku nolak ratusan cowok yang nembak aku…demi kamu tau…

Rangga: Kamu juga ga tau rasanya 14 tahun nahan nembak cewek lain…itu juga demi kamu tahu…

Cinta: Dasar lelaki badung! Awas kalau sampai nembak cewek lain!

Rangga: Eh ngomong-omong lama juga ya pesenan kita nggak datang-datang.

Cinta: Sengaja kali Rangga, biar kita bisa nunggu lama. Eh kamu keburu lapar?

Rangga: Ya enggak, justru aku mikirin perutmu, kamu keburu laper nggak kalau lama?

Cinta: Nggak kok, aku seneng-seneng aja….. Mm…Rangga…

Rangga: Iya…

Cinta: Tau nggak?

Rangga: Tau..

Cinta: Apa?

Rangga: Kamu kangen aku…

Cinta: Kok tahu sih?

Rangga: Emang kamu mau bilang apa lagi kalau nadanya gitu.

Cinta: Hahaha, emang kamu nggak kangen sama aku?

Rangga: Kangen.

(PESANAN AKHIRNYA TIBA)

Pelayan: Maaf mas, mbak, agak lama ini pesenannya. Ini nasi goreng cumi, roti bakar, kopi aceh, kopi luwak, coklat panas. Ada yang kurang mas, mbak?

Rangga: Sip. Udah komplit kok mas.

Pelayan: Baik mas, selamat menikmati

(PELAYAN PERGI, RANGGA DAN CINTA KEMBALI LARUT DALAM KATA-KATA)

Cinta: Kenapa kok nggak pulang-pulang?! Aku nungguin tau.

Rangga: Ya karena aku tahu kamu nunggu, makanya aku nggak khawatir kamu bakalan nikah sama orang lain.

Cinta: Ih, kamu jahat deh…. Mm…Rangga…

Rangga: Iya…

Cinta: Kapan kamu mulai serius…

Rangga: Melamar kamu?

Cinta: Iya…

Rangga: Tapi…

Cinta: Seharusnya sudah nggak ada tapi…

Rangga: Iya…

Cinta: Sudah 14 tahun aku menunggumu dengan cemas, aku percaya meski kadang terlintas pikiran kalau kamu nggak akan balik lagi ke sini dan menikah dengan orang sana…di saat-saat seperti itu aku selalu menangis sendirian, diam tanpa kata, tapi aku percaya kamu akan pulang.

Rangga: Tapi…

Cinta: Nggak ada tapi!

Rangga: Tapi aku penasaran…kenapa kamu menungguku?

Cinta: Lha kamu kenapa juga balik ke sini?

Rangga: Aku balik ke sini ingin menikahimu.

Cinta: Sungguh?

Rangga: Tapi…

Cinta: Katakan Rangga…

Rangga: Bisakah kamu jadi ibu untuk anak-anakku nanti?

Cinta: Bisa Rangga…

Rangga: Bisakah kamu sabar dengan segala kekuranganku ini?

Cinta: Bisa Rangga…

Rangga: Bisakah kamu…

Cinta: Apapun itu aku bisa. Bisakah kamu?

Rangga: Bisa

Rangga: Kalau begitu kita akan menikah secepatnya

Cinta: Tentu Rangga, ini yang kutunggu.

Rangga: Tapi…

Cinta: Apa lagi?!

Rangga: Bagaimana kalau kita makan dahulu…sebelum kopi menjadi dingin.

Cinta: Akan selalu hangat bersamamu Rangga….hahaha…

Rangga: Besok kita nikah?

Cinta: What?! Butuh persiapan kalee…

Rangga: Aku sudah siap.

Cinta: Lamar aku dulu, baik-baik di depan orang tuaku, kita pilih baju pernikahan, tempat pernikahan, sebar undangan…

Rangga: Sudah kulakukan semua, tanpa sepengetahuanmu, semua sudah beres tanpa kamu tahu. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai kejutan malam ini buatmu…

Cinta: What?!!!! Kamu tuh…diem-diem….kok bisa…kok ortuku gak bilang ke aku…

Rangga: Kan aku dah bilang kalau ini buat kejuatanmu, sebulan sebelum ini aku sudah balik dan mengurus segalanya, lalu ke Amrik bentar dan mengabarimu aku akan pulang…

Penutup
Cinta: I love U Rangga….

Rangga: I Love U too…Cinta….

Cinta: Terus pada bagian ini kita pelukan kan Mic?

Rangga: Di naskahnya sih gitu. Tapi kalau keberatan ya bilang aja sama sutradaranya.

Cinta: Oke, lumayan juga latihan hari ini.

Rangga: Makan yuk, laper…

Cinta: Nah loh, tadi gak pesen nasi…

Rangga: Lha naskahnya gitu kok…bagi nasi gorengnya boleh?

Cinta: Nih, dikit aja ya, aku juga laper.

Rangga: Seru juga ya jalan-jalan lagi kayak gini…udah 14 tahun sejak syuting pertama kita ga pernah ketemu.

Cinta: Yoi…sekarang kita malah udah pada punya anak…

Rangga: Dean…pernah terpikir nggak…e…nggak ding…

Cinta: Apa Michel?

Rangga: Nggak…nggak jadi…

Cinta: Sial! Jangan bikin penasaran dong!

Rangga: Hmm…(DIAM AGAK LAMA)…Tapi aku nggak bermaksud apa-apa lho….

Cinta: Justru itu bilang aja apa…bikin penasaran aja….

Rangga: Kadang aku kangen 14 tahun yang lalu…kadang aku berfantasi kalau itu nyata…

Cinta: Mmm…boleh tahu sejak kapan?

Rangga: Sejak kelar syuting yang pertama…

Cinta: God…why?! (KAGET, SENANG SEKALIGUS KECEWA) Kenapa kamu nggak pernah ngomong sih?

Rangga: Aku ga bisa ngomong…memangnya kenapa kalau misalnya aku ngomong?

Cinta: Michel….kamu gak peka banget sih….itu aktingku lebih jujur dari dunia nyata tau…maksudku…oh, shit…meski aku telah berkeluarga, 14 tahun ini aku tersiksa bila….ah….

Rangga: Nggak apa-apa Dean, bagiku itu tetap indah di dalam pikiranku kok, setidaknya di depan kamera aku bisa jujur…dan kisah yang kita mainkan ini…aku mainkan dengan perasaan-perasaan yang jujur…mungkin kalau tidak seperti ini, aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai dengan tulus.

Itu sebabnya aku tidak pernah mengatakan padamu hingga hari ini. Entah kenapa, malam ini aku ingin mengatakannya.

Cinta: (MENANGIS)…Kamu tega…aku juga ngrasain hal serupa…tapi sudah terlanjur Michel…sudah…14 tahun aku benar-benar melakukan hal bodoh.

Rangga: Aku juga demikian…tapi ya inilah, Dean, tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Mungkin karena tidak mendapatkannya inilah….aku masih bisa tetap berkarir sebagai aktor…sekedar untuk mencoba merasakan hal yang pernah aku rasakan, meski tak benar-benar demikian…

(PERLAHAN LAMPU PANGGUNG MEREDUP, MUSIK JAZZ MASIH MENGALUN LEMBUT, SELESAI).

# # # # #

Contoh Percakapan Negosiasi 2 Orang – Video

Di sebuah gang, seorang lelaki misterius menghadang Pak Jono

Pembukaan
Lelaki: Permisi Pak, tolong berhenti sebentar…

Pak Jono: Ada apa ya mas…

Lelaki: Ada perlu dengan bapak…

Pak Jono: Masnya siapa ya?

Lelaki: Bukan siapa-siapa pak, tapi aku punya barang yang bagus dan pastinya bapak berminat…

Pak Jono: Maaf mas, saya sedang tidak ingin beli apa-apa…lagipula saya lupa tidak bawa dompet…

Lelaki: Nggak harus sekarang kok pak belinya…

Pak Jono: Maaf mas, saya nggak minat…

Lelaki: Baiklah, sebelum bapak pergi, tolong lihat vidio ini sebentar (menunjukkan video lewat hp)

Pak Jono: Dari mana masnya dapat video ini

Lelaki: Dari perbuatan bapak semalam…oke deh, bapak nggak minat kan, ya sudah, saya jual ke orang lain.

Isi
Pak Jono: Eh mas, tunggu dulu…saya tidak mau video itu diketahui publik…

Lelaki: Lalu apa yang akan bapak lakukan?

Pak Jono: Berapa harganya?

Lelaki: Mahal pak, tentu bapak tidak ingin beli…

Pak Jono: Jika ada jaminan kalau video itu tidak tersebar, saya akan beli.

Lelaki: Berapa yang bapak tawarkan?

Pak Jono: Berapa yang kamu minta?

Lelaki: Saya realistis aja dan pastinya bapak sanggup bayar

Pak Jono: Iya, katakan berapa?

Lelaki: 1 milyar…

Pak Jono: Wah, kamu itu mau memeras saya ya, nggak ada aku kalau uang segitu…

Lelaki: makanya, ya sudah saya pergi…

Pak Jono: Mas, tunggu mas…hei…awas ya, jangan macam-macam kamu sama saya, hari ini juga kalau saya mau bisa hilang kepalamu.

Lelaki: Saya tidak sendiri pak, begitu saya terluka atau mati entah kapan, maka vidio ini akan viral.

Pak Jono: Oke…oke…kita bicara lagi…

Lelaki: Apa lagi yang belum jelas?

Pak Jono: 500 juta bagaimana? Hari ini juga bisa aku kirim…

Lelaki: 1 milyar….

Pak Jono: Sial!

Lelaki: Mudah saja bagi bapak untuk dapat uang segitu…

Pak Jono: Baiklah…baik….lalu apa jaminan kalau vidio itu tidak akan viral?

Lelaki: Kepala saya. Bapak bisa foto wajah saya dan suruh orang bunuh saya kalau sampai vidio ini viral.

Pak Jono: Oke…deal…

Lelaki: Kapan saya dapat uangnya…

Pak Jono: Minggu depan baru aku bisa kirim uang segitu.

Lelaki: Oke, kirim ke nomer rekening ini. Saya tunggu. Lewat jam 12 malam, maka vidio ini akan terkenal tanpa seizin bapak.

Pak Jono: Oke…aku akan transfer…

Penutup
Lelaki: Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat pagi bapak bupati. Senang berjumpa dengan anda pagi ini.

# # # # #

Contoh Dialog Negosiasi 4 Orang – Nabrak Motor

Di tepi jalan raya, empat orang sedang melakukan negosiasi setelah mengalami kecelakaan ringan.

Pembukaan
Rino: Waduh, mbaknya gimana sih kok belok mendadak nggak pakai sign?!

Reni: Lho masnya ini yang gimana, nyalip kami kok dari kiri.

Budi: Lha mbaknya ini yang dari tadi naik motor udah pelan di tengah terus, kirain mau belok kanan, eh giliran mau disalip dari kiri malah minggir ke kiri. Punya sim nggak sih?!

Dina: Eh mas, aku tadi yang diboncengin temenku ini udah kasih aba-aba tangan ya! Enak aja!

Rino: Ya nggak bisa gitu mbak, udah terlalu dekat juga, ini rem juga udah mentog. Kalau dari jauh mbaknya udah kasih aba-aba mau ke pinggir kiri ya nggak mungkin aku nyalip dari kiri.

Isi
Reni: Ya udah, kalian maunya gimana?

Budi: Motor kami rusak nih bagian depannya!

Dina: Sama mas, motor kami juga rusak gara-gara masnya nabrak.

Budi: Ya kalau kalian nggak cekikikan di jalan nggak kayak gini nih. Udah naik motor ngawur nyalahin kami yang nabrak!

Reni: Lha iya, sekarang masnya ini maunya gimana?

Rino: Mau damai atau ke kantor polisi aja mbak?

Reni: Wah kalau ke kantor polisi motor kita bisa lama ketahan di sana mas, ya udah lah damai aja, betulin motor sendiri-sendiri!

Budi: Enak aja mbaknya ini, ya kami dong yang rugi! Kami minta ganti biaya betulin motor.

Dina: Lho kan masnya yang nabrak, harusnya kami dong yang minta biaya ganti betulin motor!

Rino: Ya udah deh dari pada ribet mending ke kantor polisi aja. Mbaknya punya sim nggak?

Dina: Nih mas aku punya sim…

Rino: Bukan kamu mbak, temenmu itu lho yang tadi di depan, ada sim gak?

Reni: Ada mas, tapi ketinggalan…

Budi: halah, alasan aja ketinggalan. Paling-paling nggak punya sim…udah bro kita ke kantor polisi aja, susah ngomong sama orang bego…

Reni: Wah jangan mas kalau ke kantor polisi, ini kami motornya pinjem…damai aja lah mas. Nggak kasian po sama kami?

Rino: Ya kalau gitu mbaknya gantiin biaya motor saya. Paling ini nggak banyak mbak, cuma peleg sedikit bengkok. Kami nggak minta dibeliin baru kok, ini dibetulin bisa. Paling cuma habis 80 ribu.

Reni: ya udah deh mas, kita ke bengkel dulu.

Budi: Itu lho di depan kayaknya ada bengkel. Ke sana aja yuk.

Rino: Deal nggak ini mbak kalau mbaknya yang bayarin ongkos bengkel?

Reni: Ya udah lah mas, nggak apa-apa kalau Cuma segitu ongkosnya, kirain sampai ratusan ribu…terus terang aku lagi nggak ada duit kalau banyak biayanya mas, belum betulin motor yang ini..

Rino: Oke lah mbak, yuk ke bengkel depan aja, sambil nunggu motor dibetulin, kita makan aja dulu ntar cari warung deket situ, saya yang bayarin, biar sah damainya.

Soalnya betulin kayak ginian agak lama. Daripada kita semua masuk angin, mending sambil makan aja. Deal?

Reni: Oke mas.

Penutup
Budi: Mbak satunya oke nggak?

Dina: Oke lah, asal di warung jangan marah-marah lagi…

Budi: ya nggak lah mbak, yang tadi itu kan karena emang lagi panas, kalau udah ya udah, ngapain juga marah-marah mulu.

Eh Rin, itu kayaknya ada tulisan Sate Kambing di dekat bengkel, situ aja yak?! Mbak-mbak ini mau kan makan kambing?

Reni: Kambing? Kalau udah jadi sate mau mas, hahaha…

Budi: Hahaha…

Dina: Kalau dibeliin kambing hidup mau mas, hahaha, ntar bisa tak jual.

Rino: Hahahaha! Oke deh, berangkat!!!

# # # # #

Contoh Percakapan Drama Negosiasi 5 Orang Pembangunan Pabrik Semen

Berikut ini merupakan contoh potongan adegan percakapan drama negosiasi dengan 5 orang tokoh cerita.

BABAK 4

SETTING CERITA DI RUANG TAMU PAK LURAH. MALAM HARI. PAK LURAH, PAK DUKUH, DAN PAK HAJI SEDANG RAPAT DENGAN DUA TAMU DARI PABRIK SEMEN, PAK HASAN DAN MBAK LINDA.

Pak Lurah: Jadi begini, pak dukuh, pak haji, malam ini saya mengundang bapak-bapak sekalian karena memang akan ada pembicaraan dengan dua tamu kita ini, pak Hasan dan mbak Linda selaku pihak yang rencananya akan membangun pabrik semen di bukit desa kita.

Wacana ini sudah didengar oleh warga, sebagian ada yang menolak dan sebagian lagi setuju.

Nah, pak Hasan dan mbak Linda ini akan sosialisasi terlebih dahulu dengan kita sebelum nantinya kita akan membantu untuk mensosialisasikan kepada warga.

Pak Hasan: Terimakasih pak lurah, selamat malam pak dukuh, pak haji, perkenalkan saya Hasan dan ini wakil saya, Linda.

Kami inilah yang nantinya akan memulai proyek pembangunan pabrik semen di bukit desa.

Untuk itulah, pertama-tama saya sowan dahulu kepada pak lurah, pak dukuh dan pak haji selaku pemimpin dan sesepuh desa sekaligus kami memohon nasehatnya.

Pak Dukuh: Kalau boleh tahu, rencana pihak pabrik ini nantinya bagaimana ya pak Hasan?

Pak Hasan: Untuk itu, mbak Linda akan menjelaskan rencana garis besarnya pak. Silahkan Linda…

Linda: Jadi kalau rencana ini berjalan lancar, pada bulan depan kami akan memulai meletakkan batu pondasi pertama pembangunan pabrik semen di bukit desa.

Tentu proyek ini akan sangat membutuhkan banyak tenaga kerja.

Kami rencananya akan mengutamakan warga desa ini sebagai pekerja dengan upah kerja yang berbeda dengan pekerja lainnya.

Maksudnya, warga asli desa sini yang bekerja di proyek pembangunan pabrik akan memperoleh upah lebih tinggi pada masing-masing jabatannya jika dibandingkan dengan pekerja lain yang mungkin berasal dari luar desa ini.

Proyek pembangunan ini akan dikerjakan selama kurang lebih tiga tahun dan setelah itu pabrik akan mulai beroperasi.

Tentunya, kami juga membutuhkan banyak karyawan. Kami juga memprioritaskan warga sini untuk menjadi karyawan tetap dengan gaji dan tunjangan penuh plus uang pensiun selama 30 tahun bila sudah pensiun, sementara karyawan lain barangkali akan berstatus karyawan kontrak atau lainnya.

Yang jelas, kami mengutamakan kesejahteraan warga desa sini pak.

Pak Haji: maaf, kalau boleh saya menyela. Bukankah pembangunan pabrik semen ini sama artinya dengan mengolah semua material di bukit untuk dijadikan semen ya mbak? Pak? Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan? Bagaimana nasib para petani kedepannya?

Pak Hasan: Semua pabrik semen akan seperti itu pak, tetapi kami akan sangat berhati-hati dalam melakukan pengolahan sehingga polusi yang akan ditimbulkan sangat minimal karena rencananya kami akan mengunakan mesin dengan teknologi terbaru

Untuk itulah, kami berharap seluruh warga sini berkenan bekerja di pabrik atau dengan kata lain, banting setir profesinya pak. Yang dulunya menjadi buruh tani akan menjadi karyawan.

Mungkin akan muncul pertanyaan demikian, kan nggak semua orang memenuhi syarat sebagai karyawan pabrik? Kemampuannya bagaimana?

Oleh karena itu, kami akan memberikan training khusus untuk semua warga sini yang berminat menjadi karyawan. Tentunya kan warga juga masih punya tanah yang bisa diolah sekalipun menjadi karyawan pabrik pak, sehingga kesejahteraan warga justru akan terjamin.

Pak Haji: Maaf saya bertanya lagi ya pak…bukankah kalau sudah berdiri pabrik nantinya akan ada lahan warga yang kena gusur ya, itu bagaimana nantinya?

Linda: Tentu kami menyiapkan uang ganti rugi yang lebih dari cukup untuk lahan warga yang tergusur pak. Kami juga menyediakan pilihan penggantian, yakni berupa uang, tanah, atau rumah di area desa lain yang tidak dijadikan sumber material semen.

Pak Hasan: Untuk itulah, memang diwilayah lain banyak kasus serupa penolakan pabrik semen dengan berbagai macam isunya tersendiri sehingga barangkali warga sini juga merasakan kekhawatiran serupa.

Tapi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pembangunan pabrik ini kok pak, justru pabrik ini harus ada mengingat pembangunan negara kita ini tetap membutuhkan semen.

Pihak kami memilih bukit desa karena kami menilai bahwa bukit tersebut kurang produktif untuk area pertanian namun sangat bagus dan kaya material bahan semen berkualitas unggul.

Pak Lurah: Kalau saya sih setuju saja desa ini dibangun semen karena dengan demikian desa ini bisa jadi maju. Namun kan saya tidak bisa memutuskan sendirian, saya butuh pendapat para warga dan para tokoh masyarakat desa.

Pak Dukuh: Kalau saya juga setuju pak, namun saya juga tidak bisa memungkiri masih khawatir dengan sebagian warga yang menolak pabrik semen ini di bangun.

Pak Haji: Ini sebuah dilema…di satu sisi kita butuh, namun di sisi lain ada kekhawatiran akan rusaknya lingkungan.

Namun jauh dari persoalan warga sini, saya malah sangat mengkhawatirkan pergolakan yang terjadi di desa lain yang letaknya di bawah desa ini.

Ibaratnya mereka tidak dapat buahnya, tapi dapat getah dan sampahnya…para petani desa sebelah khawatir stok air akan hilang seandainya pabrik semen ini dibangun.

Siapa yang akan menyelesaikan masalah tersebut dan apa jaminan keamanan bagi kami terhadap serangan dari pihak tertentu?

Pak Hasan: Tentu kami juga sudah memikirkan hal tersebut dan kami sudah memikirkan langkah-langkahnya, yang jelas kami pasti akan meredam segala bentuk ancaman dari pihak desa lain kepada warga desa sini.

Ya mau bagaimana lagi pak, kami memang pihak swasta, namun pabrik ini merupakan kehendak dari pemerintah sehingga mau tak mau, cepat atau lambat, pasti akan dibangun juga.

Pak Lurah: Saya punya usul begini, dalam waktu dekat pihak perencana pabrik harus mensosialisasikan terlebih dahulu tentang segala rencana pembangunan pabrik semen dan prospek kedepannya untuk kesejahteraan warga, dan setelah itu kami warga desa akan secara interen melakukan musyawarah terlebih dahulu untuk memberikan respon yang terbaik.

Tentu harapan saya semua ini berjalan lancar dan aman.

Pak Dukuh: saya sepakat pak lurah, tidak bisa kalau hanya pejabat desa yang memutuskan, warga harus ikut terlibat dan tahu secara langsung.

Pak Haji: Saya juga sependapat dengan pak lurah, biar kami dapat info lengkapnya dulu, lalu kami melakukan rapat intern dengan warga.

Pak Hasan: Persis seperti ini yang kami harapkan bapak-bapak, jadi kami pada pertemuan malam ini mengharapkan bantuan bapak untuk koordinasi pertemuan pihak pabrik dengan warga. Tentu semua biaya kami yang akan tanggung.

Kalau boleh tahu, baiknya kapan ya sosialisasi ini akan dimulai?

Pak Lurah: Nah, itu saya dan pak dukuh dan pak haji serta pejabat desa dan tokoh desa lainnya akan berembug dahulu untuk rencana koordinasi pak. Saya usahakan secepatnya.

(TIBA-TIBA SI KOMANG ANAK PAK LURAH BERTERIAK-TERIAK DARI LUAR DAN MASUK KE DALAM RUMAH)

Komang: Pak…gawat pak….warga desa sebelah berbondong-bondong mau datang kesini!!! Mereka ngamuk!!! Mereka tahu kalau pihak pabrik datang ke sini!!!!!

FADE OUT, MUSIK TEGANG MULAI MENGISI SUASANA, DALAM KEADAAN GELAP TERDENGAR SUARA WARGA YANG BERTERIAK MARAH DAN MENOLAK PEMBANGUNAN PABRIK!!!

BABAK 5

Nah itulah pembahasan singkat contoh teks negosiasi yang baik dan benar. Mulai dari contoh teks negosiasi dalam bentuk narasi, contoh teks negosiasi jual beli, contoh teks negosiasi di sekolah, contoh teks negosiasi pemecahan konflik, contoh teks negosiasi larangan, contoh teks negosiasi formal untuk 2 orang, 3 orang, 4 orang, 5 orang. Singkat, lengkap, padat, dan jelas.

Share :      
Irwin Day

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat - "Catetan Th. 1946" - Chairil Anwar