Kepala Sakit Obatnya Belum Tentu Obat Sakit Kepala

Sakit kepala adalah suatu tanda bahwa dalam tubuh kita sedang tidak sehat pada titik tertentu. Sakit kepala bagaikan sebuah lampu alarm yang menyala jika terjadi sebuah ketidak beresan di sistem. Sehingga bila kita sakit kepala, obatnya belum tentu obat sakit kepala. Sebab bisa saja sakit kepala disebabkan oleh sakit gigi misalnya, atau memakan makanan yang memancing migren (kopi, coklat, teh) dsb. Hal seperti ini jika di obati dengan obat sakit kepala maka hanya menghilangkan sementara sakitnya namun sumber penyakit belum di obati. Ini sama halnya dengan mematikan bunyi alarm walaupun kejadian pencetus alarm tersebut masih berlangsung.

Kebiasaan membajak software adalah sama dengan sakit kepala. Kebiasaan tersebut bukanlah penyakit tapi akibat kondisi yang selama ini dibiarkan baik oleh aparat, sistem pendidikan dan pengambil kebijaksanaan. Semuanya baik secara sadar dan tidak, memiliki sumbangan dalam mengkondisikan kebiasaan tersebut. Sehingga, jika ingin kebiasaan membajak software tersebut menurun, maka bukanlah dengan mengobati “sakit kepala” alias mengejar para pengguna software bajakan, tapi dengan mengobati “penyakit sesungguhnya”.

Beberapa hal yang menyebabkan munculnya pengguna software bajakan:

1. CD/DVD Software Bajakan mudah didapat; Jika kita andaikan CD/DVD software bajakan ini adalah narkoba, maka penggunanya tentu adalah “korban”. Percuma menangkapi “korban” sebab “bandar” toh tersedia dimana-mana. Entah logika mana yang dipergunakan sehingga yang perlu dikejar adalah pengguna bukan produsen. CD/DVD Software bajakan ini bahkan dijual dengan terhormat di Mall-mall, pusat pertokoan dan juga di emperan kaki lima.

2. Harga software mahal tapi minus proteksi yang pantas; Kita semua tahu, kalau metoda pengamanan minimal sebuah mobil adalah: kunci.  Sebuah mobil yang berharga mahal tentu memiliki sekedar kunci, tapi ada tambahan alarm.  Alarm ini pun bervariasi, semakin mahal sebuah mobil semakin canggih dan sulit ditembus alarmnya.  Tapi coba kita lihat di software, yang murah maupun yang mahal ternyata sama saja proteksinya.  Cuma sebuah kode lisensi yang sangat mudah ditemukan di internet.  Seharusnya semakin mahal sebuah software semakin canggih pula metoda proteksinya terhadap pembajakan.  Anda bisa bayangkan kalo sebuah BMW seri 7 cuma di proteksi pakai kunci yang bisa dibuat duplikatnya di tukang kunci pinggir jalan.

3.  Pendidikan tidak pernah mengajarkan mahalnya harga software;   Pendidikan, baik itu formal maupun informal/kursus tidak pernah memberikan informasi berapa harga software yang mereka ajarkan.  Seandainya harga software ini selalu dijadikan informasi ke siswa-siswa, maka otomatis logika mereka akan terpancing untuk lebih menghargai HaKI.   Memang harus diakui, jika mereka paham bahwa software mahal tersebut dapat di subtitusi oleh software lain yang nyaris gratis seperti FOSS maka tentu hal ini bukan pilihan yang menarik.

4.  Tidak ada layanan pembiayaan bagi pengadaan software;  sampai saat ini masih banyak yang bingung harus dikategorikan apa sebuah software.  Jika di kategorikan sebagai barang, maka tentu harus ada wujudnya.  “wujud” sebuah software paling nyata adalah media seperti CD/DVD, padahal “unjuk kerja” sesungguhnya adalah pada saat digunakan di Komputer.  Hal seperti ini menyebabkan umumnya perbankan atau lembaga finansial tidak mendukung pembiayaan untuk software.  Kebingungan ini bisa di mengerti, sebab jika kredit macet apa yang bisa di sita?  Kalau gedung, tanah, mobil, jelas wujudnya.   Kalau software?   Walaupun begitu, kita bisa mendefinisikan wujud software ini jika kita bisa memberikan jaminan seperti kode lisensi, sayang model kode lisensi ini juga rapuh karena mudahnya dibajak.    Juga, umumnya software bukanlah barang yang mudah di jual kembali.

Diluar semua itu, saya juga berpendapat bahwa pembajakan software ini memang sengaja dikondisikan.    Yang terbayang adalah: jika software-software proprietary ini sulit ditemukan CD/DVD bajakannya dan setelah ditemukan masih tetap sulit di install karena tingkat proteksi yang tinggi maka tentu terjadi penurunan jumlah pengguna software bajakan tersebut.  Akibatnya adalah pengguna yang memang butuh dan mampu akan beli, tapi mereka yang butuh tapi tidak mampu akan memilih software lain yang terjangkau dan memenuhi kebutuhan mereka.   Tapi, apa para software giant ini mau?  Mendingan kayak sekarang bisa berkoar dimana-mana bahwa pembajakan tinggi, supaya ada alasan buat terus menerus ngasih obat sakit kepala padahal yang sakit gigi yang berlubang.