6+ Contoh Puisi Hari Pers Nasional

Contoh Puisi Hari Pers Nasional – Hari Pers Nasional diperingati pada setiap tanggal 9 Februari bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia, hal ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985. Keputusan Presiden Indonesia Soeharto pada 23 Januari 1985 itu menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia memiliki sejarah perjuangan dan peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Dewan Pers selanjutnya menetapkan Hari Pers Nasional dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di seluruh ibukota provinsi di Indonesia. Pelaksanaanya dilaksanakan secara bersama antara komponen pers, masyarakat, serta pemerintah khususnya pemerintah daerah yang menjadi tempat pelaksanaan. Landasan ideal HPN ialah sinergi. Yakni sinergi antar komponen pers, sinergi antara komponen pers, sinergi antara masyarakat dan pemerintah, seperti yang tertera pada untaian pita (umbulumbul) yang membentuk huruf HPN.

baca juga :

Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati
Contoh Puisi Tentang Tahun Baru
Puisi Untuk Teman Atau Sahabat
Contoh Puisi Untuk Ibu Penuh Kasih Sayang

Puisi Hari Pers Nasional
Source: merdeka.com

Pada kesempatan kali ini penulis akan membagikan contoh puisi hari pers nasional, dimana puisi ini mengingatkan kita untuk tetap berkarya dengan penuh kelurusan. Berikut contoh puisinya

Puisi Peringatan Hari Pers Nasional

Judul : Hari Pers Nasional

Jadikan segenap karya dan kiprah
Di media masa, cetak, dan elektronik
Tetap jernih, cantik, dan simpatik
Menyuguhkan hal-hal yang indah mulia
Seraya membangkitkan gairah

Sarat informasi yang akurat terpercaya
Mengandung edukasi yang berbobot penuh makna
Menghadirkan rekreasi yang sehat segar dan cerah ceria

Tetaplah punya misi mendidik meraih kedewasaan
Mencerdaskan dan mengarifkan
Memperluas barisan pikir panjang
Pantang menyebarkan tayangan sensosional
Tetaplah menjadi media yang berharga, jangan jadi gombal

Bebas merdeka penuh daya cipta
Menaati rambu-rambu etika
Mengawal peradaban dan budaya bermartabat
menyetiai hati nurani dan akal sehat

 

Puisi selanjutnya dari Amir Machmud NS, S.H., M.H., Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah sejatinya memang juga seorang sastrawan dan penyair. Maka wajar bila tulisan-tulisannya dalam bentuk kolom atau esai, bahasa yang digunakan juga terasa nyastra, meskipun dengan topic olahraga (khususnya bola) dan bahkan tulisan-tulisan masalah politik. Simak puisi karya Amir Machmud NS, S.H., M.H.

 

SAJAK WARTAWAN (1)

kau bawa ke mana naskah itu
untuk kautiup dan kautebar
kepada siapa kau berkabar
mensyiar atau menguar
menerang atau merembang
di tengah kepung kepentingan
yang saling bersandar punggung
dengan arah berseberangan

kau tuliskah naskah
tanpa bersandar pilihan?
keputusan hati
untuk apa
untuk siapa
agar bagaimana
kaupilih tema
dan, layar kaubentang ke mana

semua menuntut paripurna
idealisme di ruang hampa
sebagian meminta kau jadi mereka
sebagian menarikmu ke sana
kau tahu pula
tak ada kepentingan yang rela
kau bermukim
di habitat bening semesta
tak ada kekuatan yang legawa
kau beri ruang yang sama

sekuat apa berdiri
di tonggak nurani
padahal kau bukan pertapa
padahal bukan pula si zuhud
yang memunggungi dunia
mengarungi keyakinan
menempuh idealisme
dengan hati liat
dengan jaminan hidup kuat
agar orang tak gampang melaknat

bijakkah meminta
wartawan istikamah mematung memperjuangkan kebenaran
jadi gantungan semua orang
dengan kondisi meriang
dengan masa depan mengambang.

 

SAJAK WARTAWAN (2)

kau punya semesta
yang tak mereka miliki
biarkan merasa
jadi panglima opini
dengan status-status seram
bombardir cuitan yang berlagak
instastory mau menang sendiri
lalu dunia mereka kuasai
salah-benar urusan nanti

jangan galau kau pilih profesi ini
yang seharusnya punya jalan sendiri
yang tak seharusnya kau lemahkan
dengan ketidakyakinan
hanya karena kisah rumah-rumah
yang tumbang satu per satu
dari sandyakala menjadi nyata
menyodorkan rembang masa
era yang bergerak
siapa mampu membendung arusnya?

masih luaskah semesta kita
menyulam konfidensi dan keteguhan
menjadi pilar kebangsaan
kita dipaksa bersikutat
dengan hari-hari muram
orang-orang memandang
tanpa kepercayaan

ada yang menanggalkan harga diri
memilih berkubu-kubu
atas nama afiliasi
membangun logika dan artikulasi
menyingkiri kebenaran asasi.

 

SAJAK WARTAWAN (3)

hari ini kita mahkotai profesi
yang telah memberi harga diri
dan, mereka yang membawa hati bening
hadir memberkati
dengan respeksi

puja-puji dan tepuk tangan
terkadang malah melilit perih
di sudut-sudut galau
di relung-relung risau

kita menjaganya
semesta hati semesta rasa
selapang jiwa menuang kebenaran
kita mengawalnya
sehiruk pikuk itu berebut ruang
akankah kita membiarkannya?

masih ada tarikan napas peduli
dan kita merasa punya sisa ruang
menindih suara-suara
menepikan sayat resah
untuk menegaskan
dengan suara bimbang
ini bukan profesi sembarangan

tepuk tangan dan puja-puji
hari ini
meraung pedih
bagai ayat-ayat yang menyayat
di sabana sunyi…

Semarang, 9 Februari 2019

Itulah contoh puisi peringatan hari pers nasional, mudah-mudahan dapat membantu dan bermanfaat ya.