17+ Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati Terbaru 2019

Contoh Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati Terbaru dan Terlengkap 2019 – Puisi Renungan merupakan bentuk puisi yang mengingatkan kita untuk tetap selalu ingat dengan diri kita sendiri, merenungi diri kita. Kita hidup didunia ini tidaklah terlalu lama, banyak yang bilang bahwa hidup itu seperti mamper ngombe kalo istilah orang jawa. Hidup didunia ini cuma sebentar untuk itu mari kita renungi diri ini.. sudah berapa banyak kebaikan yang telah kita buat, sudah berapa dosa yang telah kita buat. Melalui puisi menghantarkan diri kita untuk tetap instrofeksi diri akan hal-hal yang telah kita lakukan. tidak hanya Puisi Renungan diri saja yang penulis sampaikan disini, akan tetapi Puisi Renungan Dosa juga akan disajikan dalam artikel ini.

Baca juga :
Puisi Tentang Tahun Baru
Puisi Teman
Puisi Untuk Ibu Penuh Kasih Sayang
Contoh Puisi Islami yang Sangat Menyentuh Hati

Puisi Renungan Diri
Source: burangir.com

Berikut ini contoh puisi renungan diri, puisi ini bisa kamu jadikan bahan untuk kegiatan disekolah, seperti pada saat kegiatan keagamaan seperti pengajian, muhasabah diri dan kegiatan-ketgiatan lainya. didalam puisi ini terdapat kata-kata yang menyentuh hati, apa bila diucapkan akan mempengaruhi pendengar untuk merenungi diri sendiri.

Contoh Puisi Renungan Diri

Judul : Mengaca Luka Dunia

Mengaca luka dunia
Karena tercabik-cabik ledakan bom yang menyulut api peperangan
Menghancurkan kemanusiaan dan keberadaban
Mendustakan cinta dan kesetiaan
Hati bergetar mengapa tega-teganya
Manusia memangsa sesama
Demi penyembahan nafsu dan angkara

Sudahlah, Sayang, jangan sampai kita
Turut serta menyalakan api
Yang sudah berkobar kemana-mana
Jadilah telaga bening tempat membasuh
Tubuh-tubuh lusuh belepotan debu dan peluh
Jadilah cahaya yang menerangi
Ketika jaman menjadi gulita kehilangan murani

Mengaca luka dunia dalam hamparan lautan darah
Kemana lagi kita melangkah
Kalau bukan kembali
Keharibaan suci hati nurani
Membenahi bumi yang porak poranda
Oleh tingkah laku anak manusia
Yang berutal dan barbar
Sangat kita butuhkan kesediaan hati
Untuk saling memanusiawikan, menguatkokohkan
Tali silaturahmi,

Setia memegang amanat
Meluruskan yang bengkok, menjernihkan yang keruh
Hidup penuh nuansa damai jiwa, saling berkasih sayang
Menegakan pilar-pilar beradapan
demi ridho illahi dan tergelarnya
Limpahan rahmat semesta alam

Sembuhkan luka dunia
Dengan cintah illahi, sepenuhnya sepiritual
Pada allah pasrah dengan sesama
Penuh kelembutan hati kehalusan perasaan
Dengan solidaritas sosial yang kental

Judul : Ampuni Aku

Oke winers puisi islami yang pertama ini berjudul “Ampuni Aku” dimana dalam puisi ini si penulis merasa sebagai hamba Tuhan masih jauh sekali dari kehendak yang Tuhan inginkan. Tapi disisi lain sebagai seorang hamba, tidak luput juga dari pengharapan kepadaNya walaupun bergelimang dosa.

Tuhan…
Begitu sempurna dunia engkau ciptakan
Begitu luas langit engkau bentangkan
Begitu terang Matahari engkau terbitkan
Begitu indah bulan dan bintang engkau tampakkan

Tuhan…
Hamba datang dengan sejuta harapan
Hamba bersujud mengharap ridhoMu
Dengan ribuan dosa melekat ditubuhku
Ku bersimpuh mengharap ampunanMu

Tuhan…
Ampunilah segala dosa dan khilafku ini
Tunjukanlah jalan yang lurus, yang engkau ridhoi bukan yang engkau murkai
Aku bersujud memohon ampun kepadaMu
Ampuni aku…


Judul : Bagaimana Jika?

Puisi islami kedua ini merupakan momen ketika penulis memasuki alam pikiran secara mendalam. Hasilnya berupa bentuk-bentuk analogi didalam hidup. Kadang kita suka menyepelekan karunia Tuhan dikarenakan kita sudah terbiasa menikmatinya. Padahal kalau saja kenikmatan itu dicabut sebentar saja, kita pasti galau, dan merasa tidak nyaman.

Bagaimana jika Allah tidak memberkahi kita hari ini?
Karena kita tidak mau bersyukur kepadaNya

Bagaimana Jika Dia berhenti memberikan petunjukNya?
Karena kita terus membangkang dalam hidup

Bagaimana jika kita tidak mampu melihat indahnya bunga bermekaran
Karena kita terus menggerutu atas hujan yang Dia turunkan

Bagaimana jika Allah mengambil salah satu bagian tubuh kita
Karena kita tidak mau berterima kasih atas kesehatan yang kita dapat

Bagaimana jika Allah mengambil sebagian milik kita
Karena kita terlalu sombong dan angkuh atas lemahnya pengetahuan kita
Hidup di dunia, Renungkanlah…?


Judul : Ya Robb

Puisi ini merupakan hasil perenungan penulis atas kehidupan yang dijalaninya. Seringkali kita beribadah, menyebut nama Tuhan hanya sekedar dimulut saja (lips service). Tidak membawa nuansa Tuhan itu sendiri, sense of God nya tidak kita hadirkan didalam jiwa. Kita lebih mudah teralihkan oleh hal-hal yang bersifat rutinitas tanpa memasukkan sense Tuhan didalamnya

Atas derita yang kami terima, namaMu sering kami salahkan
Kami agungkan namaMu tanpa keihklasan dan kesadaran
Kami berharap akan kebebasan hidup, tetapi keagunganMu malah kami lupakan.

Berjuang untuk hidup mandiri dan bebas sesuai yang kami inginkan
Tetapi itu semua hanya menjauhkan diri dari kehadiranMu

Kesana-kemari kebutuhan kami kejar
Tetapi untuk mengingatMu saja lisan ini tidak pernah lancar

Siang dan malam, terik ataupun hujan kami tak pedulikan
Kami terlalu sibuk untuk urusan kami sendiri
Untuk hanya sekedar bersujud kepadaMu, kami tiada punya waktu..


Judul : Dhuha

Ada banyak sekali amalan mulia didalam Islam, salah satunya adalah waktu Dhuha. Puisi ini merupakan hasil renungan sang penulis tentang waktu Dhuha. Terkadang kita suka luput amalan-amalan yang mudah tapi penting dikarenakan sibuk ngurus kegiatan sehari-hari.

Jika saja di awal hari kita sediakan sedikit waktu untuk merenung, niscaya nuansa Dhuha bsa kita rasakan didalam jiwa. Tapi justru kita sering melewatkan kesempatan ini dipagi hari..ya kan?

Untaian kasih di pagi hari
Hilir mudik silih berganti
Hari yang penat waktu yang padat
Mengais rezeki tak pernah henti

Mutiara pagi terabaikan
Mutiara pagi terlewatkan
Mutiara pagi tak pernah kita dapatkan

Dhuha..
Melebihi segalanya bagi sebagian orang yang berfikir
Jembatan pembuka pintu-pintu rezeki
Untaian kasih yang tak terkira
Mutiara pagi yang sangat bermakna

Dhuha..
Kami melupakanmu, karena kami sibuk
Kami tak bisa mendapatknya kembali
Kami sibuk dengan dunia, tiada waktu untukNya..


Judul : Maut

Islam adalah agama yang sangat concern dengan kehidupan setelah mati, bahkan pilar iman seseorang itu salah satunya adalah mengingat kematian. Puisi ini merupakan hasil perenungan penulis tentang kematian itu sendiri. Semua berjalan cepat tanpa kita sadari bahwa maut sudah didepan mata..

Segala cobaan akan datang
Misteri illahi tak dapat dihindari
Tanpa kita sadari
Satu demi satu semua akan pergi..

Siap tidak siap
Suka tidak suka
Maut akan tiba menyapa kita semua

Datang setiap waktu
Tanpa permisi
Tanpa pandang usia, muda atau tua
dan tanpa pilih kasih

Pergi tanpa permisi
Menghadap illahi dengan amal suci
Meninggalkan ke fanaan dunia, berharap ridho illahi

Umur hanyalah angka-angka yang sangat pendek
Akan berakhir cepat berlalu tanpa kita sadari
Tidak ada kepastian yang lebih pasti selain, Maut..


Judul : Esok Lebih Baik

Sebenarnya setiap orang sudah diberikan banyak kesempatan didalam hidupnya. Kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi, dan kadang kita suka lalai terhadap waktu yang sudah diberikan olehNya. Puisi ini merupakan renungan penulis tentang keadaan up and down dalam kehidupan.

Terlarut dalam kekosongan
Tenggelam dalam kegalauan
lengah dalam lamunan
Terlena dalam kesibukkan

Pikiran melayang tak tentu arah
Terpaku dalam ketidakberdayaan
Khilaf dalam pusaran dosa
Menerawang kegelapan dimasa silam

Bangkitlah..
Tunaikan Sholat, dan bertasbihlah menyebut namaNya
Renungkanlah Al-Quran sebagai pedoman hidup dan obat hati
Semua masa kelam pasti dilewati, dengan sabar dan keyakinan penuh

Bangkitlah kawan, masa depan telah menanti
Giatlah bergerak untuk hari esok yang lebih baik
Jangan ragu dan bimbang, teruslah mencari dan kelak semua akan diberi

Hapuslah air mata kepedihan
Tapaki hari demi hari dengan kebesaran hati
Hidup tanpa kesedihan yang ada hanyalah kebahagiaan, dalam suka maupun duka
Sambutlah sang matahari dengan senyuman, karena hari ini lebih baik dari kemarin

Tunaikan tugas untuk kebahagiaan hati
Tersenyumlah untuk meringankan beban di hati
Dan bersabarlah demi kenyamanan hidup sehari-hari..

Judul : TakdirMu

Hidup di dunia itu selalu berubah-ubah, ada siang ada malam, ada waktu lapang ada waktu sempit. Semua itu hal yang normal karena kita hidup di alam yang berubah-ubah (dinamis). Ini semua merupakan konsep Takdir yang sudah Tuhan buat untuk kehidupan di dunia, sebagai sarana ujian untuk kita raih agar value kita sebagai manusia bertambah.

Tiap tangisan akan berganti dengan senyuman
Tiap ketakutan akan berganti dengan rasa aman
Tiap kegelisahan akan sirna berganti kedamaian

Tinta pena telah mengering
Lembaran-lembaran catatan ketentuan telah tersimpan rapih
Tiap perkara telah diputuskan
Takdir telah ditetapkan

Jangan bersedih..
Kematian ditangan Tuhan
Usaha dan upaya dilakukan, tapi semua kembali lagi padaNya

Hari berganti hari terus bergulir tanpa henti
Siang dan malam silih berganti tanpa letih
Sang Gaib akan tetap bersembunyi
Sampai waktu pertemuan itu tiba

Dalam kesempitan
Dalam kehampaan
Dalam kesusahan
Kita tetap bersujud kepadaNya
Berharap atas ridhoNya
Dan bersyukur masih dapat merasakan kehadiranNya


Judul : Lumbung Iman

Keyakinan seseorang menentukan sikap seseorang, ini merupakan hukum yang universal, sikap seseorang bisa dilihat dari seberapa banyak keyakinan yang mereka miliki. Keyakinanya lemah sikapnya udah pasti lemah juga. Memperbanyak keyakinan terhadap Allah membuka banyak jalan dalam kehidupan, ga percaya..? cobain aja pertebal keyakinannya

Relung hati yang suci nan mulia
Tersirat butiran-butiran taqwa
Menyatu dalam qalbu
Mengurai semua pancaran iman

Tiada kata seindah namaNya
Budi pekerti yang begitu murni
Pancaran suara hati penuh arti
Melodi kata lantunan ayat suciNya

Terhampar sebuah kearifan
Terbentang sebuah kebenaran
meniti jalan illahi untuk kedamaian sejati

Mutiara kasih tersusun di sanubari
Fatwa pujangga penuh makna
Butiran akhlak bijaksana menenangkan hati dan jiwa

Wahai jiwa-jiwa yang tenang
Tersimpan seribu bahasa kesabaran
Tertanam dalam keyakinan untuk mencari kebenaran


Judul : Koin Surga

Setiap orang menanggung beban amalnya sendiri-sendiri. Orang tua tidak menanggung beban amal anaknya begitu pula sebaliknya. Semua bertanggung jawab atas amalan masing-masing. Bahkan amalan yang kecil sekalipun bisa memiliki makna yang sangat berarti dihadapan Tuhan Sang pencipta.

Ramai jalan dipagi hari
Sesak nafas para peminta
Hilir mudik silih berganti
Pejalan kaki pun tak peduli

Ribuan uang terkantongi
Uluran tangan tak mengerti
Cemas dan gelisah menghias wajah
Dahaga dan lapar tak dapat dibendung

Dalam ragu dan bimbang berucap lirih
Tuan..beri kami sedekah, beri kami sedikit nafkah
Recehan demi recehan terkumpul tak beraturan
Demi sebungkus nasi dan air untuk bertahan

Sesuap nasi menjadi janji
Setetes air menjadi sebuah doa penenang hati
Lemparan koin sangat berharga
Recehan demi jembatan surga kelak

Recehan tak ada nilainya
Tapi janji Tuhan begitu nyata
Jaminan surga bagi mereka
Mereka yang ikhlas dan lurus dalam beribadah
Surgalah ganjaran dariNya..

Demikian puisi Introspeksi diri Terbaru dan Terlengkap 2019, yang dapat kamu jadikan sebagi bahan referensi, Semoga bermanfaat ya.